Malam Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja
Sore hari masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat saat kami melaju menuju Pantai Sangsit. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma garam dan kesegaran yang khas pesisir utara Bali. Tujuan pertama kami sudah jelas: mampir makan ikan bakar sebelum lanjut ke Titik Nol Singaraja untuk menonton puncak acara Bulfest 2026. Begitu sampai di pinggir pantai, warung makan sederhana langsung menyambut, asap tipis mengepul dari tungku pembakaran, dan aroma bumbu rempah yang dibakar sudah menggugah selera sejak jauh.
Kami duduk di salah satu meja kosong yang terlihat paling bersih. Ikan-ikan segar baru saja diturunkan dari perahu nelayan, masih berkilau basah. Kami memesan ikan Jengki, udang, lalapan kangkung dan sambal bawang mentah yang enaknya pas. Sambil menunggu, kami duduk di kursi tenda kayu, memandang ombak yang bergulung pelan memecah di pantai, melihat matahari perlahan tenggelam meninggalkan jejak ungu dan merah di langit. Tak lama pesanan datang — ikan bakar beraroma harum semerbak, dagingnya putih lembut, manis alami, dicocol sambal tomat dan saos kacang yang gurih pedas. Ditambah es jeruk yang dingin, rasanya sungguh sempurna. Perut kenyang, hati pun tenang, siap menyambut malam yang istimewa.
Ketika langit sudah benar-benar gelap, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Singaraja. Semakin dekat ke Titik Nol, semakin terlihat keramaian. Lampu-lampu jalan mulai menyala, dan dari kejauhan sudah terdengar suara gamelan dan musik yang bersahutan. Jalanan di sekitar monumen Titik Nol sudah dipenuhi orang — warga dari berbagai desa, wisatawan, anak-anak, orang tua — semuanya datang berkumpul untuk menyaksikan Bulfest 2026. Panggung besar yang dibangun di area itu tampak megah dengan pencahayaan warna-warni yang memantul ke langit malam.
Saat kami tiba, pertunjukan sudah berlangsung meriah. Suara gamelan terdengar bergema, memadukan irama tradisional dengan sentuhan modern yang segar. Di panggung, penari-penari muda mengenakan busana khas Buleleng yang indah bergerak selaras, gerakannya luwes dan penuh semangat. Penonton bersorak, bertepuk tangan, tak sedikit yang ikut bergoyang mengikuti irama. Di sepanjang jalan sekitar festival, stan-stan makanan dan kerajinan tangan berjejer rapi, lampu-lampu hias menggantung cantik di antara pohon-pohon, menciptakan suasana yang hangat dan hidup.
Malam semakin larut, tapi semangat orang-orang justru semakin membara. Puncak acara berupa kolaborasi musik tradisional dan pertunjukan cahaya lampu membuat seluruh area Titik Nol berkilauan seolah menjadi lautan cahaya. Kami berdiri di antara keramaian, merasakan kehangatan kebersamaan masyarakat Buleleng yang begitu bangga dan mencintai budayanya sendiri. Tidak ada jarak antara tua dan muda, antara warga dan tamu — semua bersatu dalam kegembiraan yang sama.
Pulang ke rumah nanti, kaki mungkin terasa pegal, tapi hati penuh dengan kenangan indah. Makan ikan bakar yang lezat di Pantai Sangsit di bawah langit senja, lalu menyaksikan kemeriahan Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja di bawah cahaya lampu dan bintang — perjalanan malam itu bukan sekadar jalan-jalan, melainkan pengingat betapa berharganya budaya dan kebersamaan yang kita miliki.