8.4.23

Profil Gede Raditya Kurniawan.

Gede Raditya waktu berumur lima bulan

Gede Raditya Kurniawan lahir di desa Tejakula pada tanggal 28 Oktober 2006, sebuah tanggal yang bertepatan dengan hari bersejarah, Hari Sumpah Pemuda. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Made Budilana dan Putu Puja Astuti. Kehidupan Gede Raditya sejak kecil penuh tantangan, terutama setelah ia kehilangan sosok ibu yang sangat berarti. Ketika ia baru berusia lima bulan, ibunya pergi meninggalkannya. Gede Raditya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Meskipun demikian, dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bersemangat, dengan bakat yang mulai terlihat sejak usia dini.

Sejak kecil, Gede Raditya sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia hiburan, khususnya dalam hal lawak Bali. Setiap kali acara-acara lawak Bali ditayangkan di televisi, Gede Raditya selalu menontonnya dengan penuh perhatian, mempelajari gerakan dan lelucon yang disampaikan. Bakat melawaknya pun mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 1 SD. Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah mulai tampil di berbagai acara ulang tahun teman-temannya dengan memerankan berbagai karakter lucu, yang tak jarang membuat banyak orang terhibur. Penampilannya yang mengundang tawa ini menjadi pertanda awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia seni peran dan hiburan.

Namun, Gede Raditya tidak hanya berbakat dalam bidang lawak Bali. Ia juga memiliki ketertarikan besar pada seni tari dan teater tradisional Bali. Pada rentang usia 6 hingga 12 tahun, ia memulai perjalanan seni tari dengan mempelajari berbagai tarian tradisional Bali yang terkenal, seperti Tari Baris Wirayuda, Tari Topeng Bujuh, dan Tari Bondres kategori anak-anak. Setiap gerakan yang ia pelajari, baik itu tarian seperti Baris Wirayuda maupun tarian topeng yang sarat makna, membuat Gede Raditya semakin mencintai seni tradisional Bali. Ia pun semakin sering tampil dalam berbagai acara adat maupun perayaan di desanya, memperkenalkan kesenian Bali kepada teman-teman sebayanya.

Selain menari, Gede Raditya juga mulai menyukai seni musik tradisional Bali. Ia mengembangkan minatnya dalam dunia gamelan, khususnya dengan memainkan gender, salah satu alat musik yang sering digunakan dalam pertunjukan wayang kulit dan upacara Ngaben. Minatnya pada gamelan ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu, dan ia semakin terampil dalam memainkan gender. Gede Raditya tidak hanya menganggap gamelan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang sangat ia cintai. Sebagai remaja, ia menghabiskan waktu luangnya untuk berlatih dan memperdalam kemampuannya dalam memainkan gamelan, berkeinginan untuk terus menjaga warisan budaya Bali yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.

Di samping kecintaannya pada gamelan, Gede Raditya juga memiliki hobi unik lainnya, yaitu mengoleksi topeng Bali. Ia mulai mengoleksi berbagai jenis topeng, termasuk Topeng Bujuh yang dikenal dengan bentuknya yang khas dan penuh makna, serta Topeng Tua yang memiliki filosofi mendalam. Koleksi topeng ini menjadi bagian dari perjalanan seni Gede Raditya, yang tak hanya menghargai seni pertunjukan, tetapi juga bentuk seni rupa tradisional Bali. Koleksi topengnya kini menjadi saksi bisu dari kecintaannya terhadap seni budaya Bali yang tak ternilai harganya.

Selain bakat dalam seni tari, gamelan, dan koleksi topeng, Gede Raditya juga dikenal sebagai seorang seniman muda yang pernah memerankan berbagai tokoh dalam pertunjukan Wayang Wong, sebuah seni pertunjukan tradisional Bali yang menggabungkan tarian, musik, dan drama. Beberapa tokoh yang pernah ia perankan antara lain Sempati, Jabung, Meganada, dan Hanoman. Setiap peran yang ia ambil selalu dilakoni dengan penuh dedikasi dan semangat, mencerminkan ketekunannya dalam mempelajari seni tradisional Bali. Ia menunjukkan kemampuannya dalam berakting, menari, dan berperan sebagai tokoh-tokoh mitologi dalam cerita wayang, menjadikannya seorang seniman muda yang berbakat.

Perjalanan hidup Gede Raditya Kurniawan adalah kisah tentang perjuangan, semangat, dan kecintaan yang mendalam terhadap seni budaya Bali. Dari seorang anak yang kehilangan ibu di usia yang sangat muda, hingga menjadi seorang pemuda yang menguasai berbagai bidang seni tradisional Bali, Gede Raditya telah menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa menemukan jati dirinya melalui seni. Tidak hanya sekadar hiburan, seni bagi Gede Raditya adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Kini, Gede Raditya Kurniawan tidak hanya dikenal di desanya sebagai seorang seniman, tetapi juga sebagai simbol dari semangat pemuda Bali yang terus berkarya dan menjaga tradisi.
.
Gede Raditya waktu berumur 12 tahun.

Gede Raditya Cs, waktu tampil melawak di balai desa Tejakula dalam acara pentas seni Tejakula