29.10.24

Air Terjun Yeh Mampeh: Pesona Tersembunyi di Desa Les, Tejakula

Tersembunyi di tengah kehijauan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat sebuah permata alam yang menakjubkan: Air Terjun Yeh Mampeh. Juga dikenal sebagai Air Terjun Les, tempat ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang menenangkan, menjadikannya destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota.
 
Nama "Yeh Mampeh" memiliki arti yang kuat dalam bahasa Bali. "Yeh" berarti air, sedangkan "mampeh" berarti terbang. Nama ini sangat cocok menggambarkan air terjun ini, yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air yang jatuh dari ketinggian tersebut terlihat seperti terbang di udara, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
 
Selain keindahan air terjunnya yang mempesona, kawasan Air Terjun Yeh Mampeh juga menyimpan keajaiban lain: mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat bernama Toya Anakan. Mata air ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Les. Airnya digunakan untuk berbagai upacara keagamaan Yadnya, mencerminkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap alam.
 
Bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual yang mendalam, pengunjung diperbolehkan untuk melukat di Toya Anakan. Melukat adalah ritual penyucian diri yang dilakukan dengan menggunakan air suci. Namun, penting untuk diingat bahwa ada aturan yang harus diikuti saat melukat di sini, seperti mengenakan pakaian adat Bali dan memastikan tidak sedang dalam keadaan datang bulan.
 
Air Terjun Yeh Mampeh bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar melihat pemandangan indah, Air Terjun Yeh Mampeh adalah destinasi yang tepat untuk Anda.

27.10.24

Nama-Nama Pantai Di Tejakula.

(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)

Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

1. Pantai Camplung

Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar. 

2. Pantai Sekar

Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.

Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.

3. Pantai Segara

Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.

Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.

4. Pantai Penyorogan

Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.

Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.

5. Pantai Kayu Dui

Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.

Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.

6. Pantai Kapal

Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.

Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.

7. Pantai Bantes

Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.

Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.

17.10.24

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.
 
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tersimpan sebuah kekayaan budaya dan spiritual yang sangat unik dan berbeda dengan daerah lainnya. Sebelum tradisi Ngaben dikenal dan dilaksanakan secara luas sebagaimana umumnya di Bali, masyarakat di sana memiliki tata upacara terhadap leluhur yang sangat teratur, tertib, dan tertulis jelas dalam naskah-naskah lontar pusaka. Dua istilah yang sangat akrab dan menjadi jati diri adat mereka adalah Metulen dan Metuwun atau Metuun. Kedua ritual ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Pitra Yadnya atau upacara untuk roh orang yang telah meninggal dunia.
 
Landasan hukum dan aturan pelaksanaan dari tradisi sakral ini tertuang secara rinci dalam Lontar Sima Desa Tejakula yang juga dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran. Naskah ini memiliki nomor inventaris No. 798 yang tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini menjadi kitab dasar yang mengatur seluruh sendi kehidupan adat di Tejakula. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang menceritakan tentang tata cara Pitra Yadnya khas Tejakula yang berlaku jauh sebelum tahun 1980-an. Di sana disebutkan dengan jelas mengenai kewajiban keluarga untuk melaksanakan upacara Metulen yang dilakukan tepat pada hari ke-42 setelah seseorang meninggal dunia, serta upacara Metuwun yang digelar ketika genap satu tahun peristiwa kematian tersebut terjadi.
 
Selain itu, terdapat pula naskah khusus yang lebih mendalam membahas hal ini, yaitu Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara spesifik merekam segala hal mengenai upacara kematian asli masyarakat Tejakula. Isinya sangat detail mencakup persiapan upakara atau sarana persembahan, penentuan waktu atau galah, hingga tata cara pelaksanaan yadnya untuk kedua ritual tersebut. Lontar ini menjadi bukti otentik bahwa Metulen dan Metuwun bukanlah sekadar kebiasaan semata, melainkan sebuah tradisi suci yang memiliki aturan baku dan filosofi yang tinggi, yang telah dijalankan turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
 
Lalu, apa makna sebenarnya di balik kedua upacara tersebut?
 
Metulen adalah upacara yang dilaksanakan pada hari ke-42 setelah kematian. Pada fase ini, menurut keyakinan leluhur, arwah orang yang meninggal dunia diyakini baru saja memulai perjalanan panjangnya menuju alam baka atau alam yang sejati. Perjalanan ini tentu tidak mudah, maka dari itu keluarga besar menggelar upacara Metulen sebagai bentuk dukungan spiritual yang kuat. Tujuannya adalah agar arwah tersebut diberikan kekuatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menempuh perjalanannya meninggalkan dunia fana ini. Ini adalah momen di mana ikatan kasih sayang antara yang masih hidup dan yang telah pergi diwujudkan dalam bentuk doa dan persembahan suci.
 
Sedangkan Metuwun atau Metuun adalah puncak dan penutup dari seluruh rangkaian upacara penghormatan tersebut, yang dilakukan ketika waktu telah berganti selama satu tahun penuh. Jika Metulen adalah dukungan di awal perjalanan, maka Metuwun adalah bentuk pelepasan yang tulus dan rasa syukur. Sifat upacara ini lebih kepada merayakan kenangan indah serta jasa-jasa almarhum yang telah ditinggalkan. Pada tahap ini, diyakini arwah sudah berada di tempat yang layak dan damai, sehingga upacara ini menjadi tanda bahwa rangkaian masa berkabung telah selesai, dan keluarga dapat kembali menjalani kehidupan dengan tenang, membawa serta kenangan manis dan doa restu dari leluhur.
 
Tradisi ini sangat istimewa karena menjadi identitas bahwa masyarakat Tejakula memiliki cara sendiri yang sangat indah dalam memandang kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah peralihan yang harus didampingi dengan ritual-ritual suci agar arwah dapat beristirahat dengan tenang dan senantiasa memberikan berkah bagi keturunannya. Melalui catatan-catatan dalam lontar yang tertulis dengan tinta emas ini, warisan budaya Metulen dan Metuwun tetap hidup dan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Desa Adat Tejakula hingga saat ini.

Ngantukang Bulu Geles Ritual Sakral Penghubung Roh di Tejakula

Ngantukang Bulu Geles: Ritual Sakral Penghubung Roh di Tejakula
 
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tradisi Pitra Yadnya atau upacara penghormatan terhadap leluhur memiliki kekhasan yang sangat mendalam dan penuh dengan simbolisme magis. Salah satu ritual yang paling unik dan menjadi ciri khas masyarakat setempat adalah upacara Ngantukang Bulu Geles. Sebuah upacara yang tidak hanya sekadar persembahan banten, melainkan merupakan jembatan spiritual yang mempertemukan dunia manusia dengan dunia roh, serta menyatukan simbol-simbol kekuatan alam semesta.
 
Keberadaan dan tata cara pelaksanaan ritual ini tertulis dengan sangat jelas dan rinci dalam berbagai naskah lontar pusaka yang menjadi pedoman hidup masyarakat di Tejakula. Sumber utama yang memuat penjelasan mengenai hal ini adalah Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara khusus membahas tentang tata cara upacara kematian ala masyarakat Tejakula. Di dalamnya disebutkan bahwa Ngantukang Bulu Geles merupakan rangkaian lanjutan yang sakral setelah pelaksanaan upacara Ngaben dan Mekarye Bakti. Upacara ini memiliki aturan waktu yang sangat spesifik, yaitu dilaksanakan pada hari Anggarkasih, dan tempat pelaksanaannya pun ditentukan dengan pertimbangan mistis, yaitu di pura-pura yang letaknya dekat dengan laut maupun gunung, sebagai simbol keseimbangan alam.
 
Hal senada juga diperkuat oleh catatan dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang lebih dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Lontar ini menjadi landasan hukum adat atau sima-dresta desa. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang merinci urutan lengkap upacara setelah kematian, mulai dari metulen, metuun, ngaben, hingga puncaknya pada ritual Ngantukang Bulu Geles. Ini membuktikan bahwa upacara ini bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan telah diatur secara baku dan turun-temurun sejak zaman dahulu kala sebagai kewajiban spiritual keluarga dan desa.
 
Lebih jauh lagi, makna filosofis dan esoteris dari ritual ini dapat dipahami melalui Lontar Yama Purana Tatwa serta Lontar Yama Tatwa versi Tejakula. Kedua naskah ini merupakan pedoman tentang ajaran kematian dan alam baka yang umum dikenal di Bali Utara. Namun di Tejakula, terdapat tambahan catatan khusus atau sesuratan yang menjelaskan bahwa Ngantukang Bulu Geles memiliki makna mendalam sebagai proses "mempertemukan" roh leluhur dengan kekuatan Segara (laut) dan Giri (gunung). Kedua elemen alam ini merupakan simbol dari Purusa dan Pradana, atau unsur maskulin dan feminin, yang menyatu menciptakan keseimbangan semesta. Dengan demikian, roh diharapkan dapat bersatu kembali dengan asal-usulnya yang sejati.
 
Secara pelaksanaan, ritual ini memiliki ciri khas yang kuat. Dilaksanakan tepat pada hari Anggarkasih, upacara biasanya digelar di tempat-tempat yang dianggap memiliki energi spiritual tinggi, seperti Pura Suci di Tejakula yang letaknya strategis dekat dengan pesisir pantai dan menghadap ke arah gunung. Inti dari ritual ini adalah mengundang atau "mengajak" roh leluhur untuk hadir dan menerima persembahan. Ini adalah momen sakral di mana batas antara dunia nyata dan dunia spiritual seakan menjadi tipis, menjadi sarana komunikasi dan penghormatan tertinggi kepada para pendahulu.
 
Untuk melancarkan upacara ini, dipersiapkanlah upakara atau sarana persembahan yang khusus dan lengkap sesuai tuntunan leluhur. Prosesi dipimpin oleh para pemangku desa dengan mantra-mantra sakral, dan diikuti oleh seluruh keluarga besar serta krama desa yang hadir memberikan dukungan doa. Suasana yang tercipta pun terasa sangat hening, khidmat, namun penuh dengan getaran spiritual yang kuat.
 
Ngantukang Bulu Geles bukan sekadar tradisi yang dijalankan karena kebiasaan, melainkan wujud rasa cinta, bakti, dan kesadaran bahwa leluhur senantiasa hadir dan memberikan perlindungan selama ikatan batin itu terus dijaga. Melalui ritual inilah, masyarakat Tejakula menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta, sebagaimana yang telah tertulis abadi dalam lembaran-lembaran lontar pusaka mereka.

Dongeng Asal Usul Nama Desa Tejakula

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Di lereng Gunung, di sebuah lembah yang subur dan dialiri sungai jernih, terhamparlah Desa Hiliran.  Kehidupan di desa itu tenang dan damai, irama kehidupan diatur oleh detak jantung alam: gemericik air sungai, kicau burung, dan semilir angin yang membawa aroma padi dan bunga kembang sepatu.  Rumah-rumah penduduk berderet rapi, terbuat dari kayu dan bambu, atapnya menjulang tinggi seperti menyambut langit.  Masyarakatnya hidup rukun, saling membantu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong.  Mereka menggantungkan hidup pada pertanian, ladang-ladang mereka menghasilkan padi yang melimpah, buah-buahan yang manis, dan sayur-mayur yang segar.
 
Suatu malam, langit Hiliran dihiasi taburan bintang yang begitu gemerlap.  Bintang-bintang itu seakan berbisik, menceritakan kisah-kisah dari zaman dahulu kala.  Namun, malam itu berbeda.  Sebuah cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul di langit, membelah kegelapan malam.  Cahaya itu semakin membesar, menukik tajam ke bumi, dan jatuh tepat di tengah-tengah Desa Hiliran.  Seketika, desa itu dipenuhi cahaya yang menyinari setiap sudut, menerangi wajah-wajah penduduk yang tertegun.  Cahaya itu kemudian meredup, meninggalkan sebuah batu yang memancarkan sinar lembut, seperti cahaya bulan purnama.  Batu itu terasa hangat, dan memancarkan aura yang menenangkan.
 
Kejadian itu menggemparkan seluruh penduduk Desa Hiliran.  Mereka berkumpul, saling berbisik, mencoba memahami peristiwa yang baru saja terjadi.  Para tetua desa, yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan luas, mulai menafsirkan kejadian tersebut.  Mereka berunding berhari-hari, menelusuri kitab-kitab kuno dan mempelajari ramalan-ramalan nenek moyang.  Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan: cahaya yang jatuh dari langit itu adalah pertanda baik, sebuah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.  Batu yang bersinar itu, menurut mereka, adalah simbol kekuatan, keberuntungan, dan kesucian.
 
Setelah bermusyawarah panjang, penduduk Desa Hiliran sepakat untuk mengganti nama desa mereka.  Nama "Hiliran," yang berarti "bagian bawah" atau " bagian pinggir"dianggap sudah tidak lagi relevan.  Mereka memilih nama baru yang mencerminkan keajaiban yang telah terjadi. Yaitu Tejakula.  "Teja," dalam bahasa Sansekerta, berarti "sinar" atau "cahaya," sedangkan "Kula," dalam bahasa Kawi, berarti "batu."  Jadi, Tejakula berarti "batu yang bersinar," sebuah nama yang menggambarkan batu ajaib yang jatuh dari langit dan membawa berkah bagi desa mereka.
 
Sejak saat itu, Desa Tejakula berkembang pesat.  Pertanian mereka semakin subur, hasil panen melimpah ruah.  Kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kehidupan mereka dipenuhi kedamaian dan kemakmuran.  Batu yang bersinar itu, meskipun keberadaannya kini tak lagi diketahui secara pasti, tetap menjadi legenda yang diwariskan turun-temurun.  Dan menjadi simbol persatuan, keberanian, dan keteguhan hati masyarakat Desa Tejakula, sebuah pengingat akan keajaiban yang pernah terjadi dan menjadi pendorong semangat untuk terus membangun desa mereka yang tercinta.