29.4.26

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Di kawasan utara Pulau Bali yang indah, tepatnya di Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah desa yang menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang dan berharga, yaitu Desa Tejakula. Nama ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita sekarang, namun tahukah kamu bahwa ratusan tahun yang lalu, desa ini memiliki nama-nama lain yang tertulis dengan tinta emas di atas batu-batu prasasti peninggalan raja-raja masa lampau? Jejak keberadaan desa ini bukan sekadar cerita lisan, melainkan telah dibuktikan secara ilmiah dan historis melalui beberapa prasasti kerajaan kuno yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
 
Salah satu bukti tertua yang mencatat keberadaan wilayah ini adalah Prasasti Raja Janasadhu Warmadewa yang dikeluarkan pada tahun 975 Masehi atau bertepatan dengan tahun Icaka 897. Dalam naskah kuno ini, nama desa ini belum disebut sebagai Tejakula, melainkan disebut dengan nama "Hiliran". Isi dari prasasti tersebut sangat menarik karena mencatat tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat pada masa itu. Disebutkan bahwa Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan juga Hiliran memiliki kewajiban untuk secara bergilir menjaga, memperbaiki tempat suci, serta merawat jalan-jalan yang menjadi urat nadi kehidupan saat itu. Hal ini membuktikan bahwa sejak seribu tahun yang lalu, wilayah Hiliran sudah merupakan sebuah pemukiman yang teratur, memiliki struktur masyarakat yang jelas, dan ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan serta tempat ibadah. Saat ini, batu bersejarah peninggalan Raja Janasadhu Warmadewa tersebut tersimpan dengan baik di Desa Sembiran, menjadi bukti nyata hubungan erat antar desa-desa di wilayah utara Bali pada masa lampau.
 
Seiring berjalannya waktu, nama wilayah ini pun mengalami perubahan. Hal ini tercatat dengan jelas dalam Prasasti Raja Jaya Pangus yang dibuat pada tahun 1181 Masehi atau tahun Icaka 1103. Pada prasasti ini, nama desa tersebut sudah tidak lagi disebut sebagai Hiliran, melainkan berubah menjadi "Paminggir". Nama ini kemudian terus digunakan dan diperkuat kembali dalam catatan sejarah berikutnya, yaitu pada Prasasti Raja Eka Jaya Lancana yang bertarikh tahun 1200 Masehi atau Icaka 1122. Di dalam prasasti ini, nama "Paminggir" kembali disebutkan secara tegas dalam daftar desa-desa penting yang ada di kawasan tersebut, bersanding dengan nama-nama desa lain seperti Les, Buhundalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. Keberadaan nama Paminggir yang berulang dalam berbagai prasasti dari masa yang berbeda menunjukkan bahwa nama ini merupakan identitas resmi yang digunakan masyarakat selama berabad-abad sebelum akhirnya berubah lagi di kemudian hari.
 
Dari catatan-catatan sejarah tersebut, kita dapat menarik benang merah yang sangat jelas: Hiliran = Paminggir = Tejakula. Ketiga nama itu adalah satu tempat yang sama, hanya mengalami perubahan penyebutan seiring pergantian zaman. Secara makna, kata "Paminggir" maupun "Hiliran" memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu "tepi" atau "batas". Ini sangat masuk akal secara geografis karena letak wilayah ini memang berada di tepian atau batas-batas wilayah tertentu pada masa kerajaan kuno, baik itu batas wilayah kekuasaan maupun batas alam seperti pesisir atau aliran sungai.
 
Nama "Tejakula" yang kita kenal dan banggakan saat ini sebenarnya adalah nama yang dipakai belakangan, namun memiliki akar bahasa dan filosofi yang sangat indah. Nama ini berasal dari gabungan dua kata, yaitu "Teja" yang berarti cahaya, sinar, atau wibawa, dan "Kula" yang berarti kaum, keluarga, atau juga bermakna tepi dan batas. Jadi, Tejakula dapat diartikan sebagai "cahaya yang bersinar di tepian" atau "keluarga yang memiliki wibawa di batas wilayah". Sebuah nama yang sangat gagah dan penuh harapan, seolah meramalkan bahwa desa ini kelak akan menjadi tempat yang bersinar, maju, dan dihormati oleh banyak orang.
 
Melihat kembali jejak sejarah yang tertulis di atas batu keras ini, kita sebagai generasi penerus patut merasa bangga. Desa Tejakula bukanlah desa yang muncul begitu saja, melainkan sebuah desa tua yang memiliki peradaban tinggi, telah diakui keberadaannya oleh para raja besar, dan telah melewati berbagai masa sejak zaman Janasadhu Warmadewa, Jaya Pangus, hingga Eka Jaya Lancana. Dari Hiliran yang sederhana, menjadi Paminggir yang kokoh, hingga kini menjadi Tejakula yang bersinar terang, sejarah ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai akar leluhur dan menjaga nama baik desa yang telah dijaga dengan baik oleh nenek moyang kita selama ribuan tahun.