27.6.26

Warisan Ritual di Tejakula

Warisan Ritual di Tejakula
 
Dengerin ya, cerita dari orang-orang tua di kampungku, Tejakula. Dulu banget, zaman kakek moyang kita masih hidup, nggak ada tuh yang namanya tradisi ngaben kayak yang sekarang umum kita lihat. Kalau ada warga yang meninggal dunia, cara mengantar arwahnya ke alam baka itu pakai ritual yang namanya Metuwun dan Metulen.
 
Kedua upacara ini sebenernya fungsinya mirip banget sama ngaben. Tujuannya tetap sama, yaitu memisahkan roh dari jasad, menyucikan, dan mengantarkannya supaya bisa bersatu kembali dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bedanya mungkin ada di tata cara dan peralatan yang dipakai, lebih sederhana dan khas banget sama kebiasaan asli warga Tejakula dulu. Lama-kelamaan, seiring berjalannya waktu dan makin banyaknya pertukaran adat antar daerah, barulah kita di sini mengenal dan mulai melaksanakan tradisi ngaben seperti yang dikenal luas sekarang. Jadi bisa dibilang, Metuwun dan Metulen itu adalah bentuk tradisi asli leluhur kita sebelum mengenal ngaben.
 
Selain itu, di kampungku juga punya upacara unik yang namanya Mekarye Bakti. Kalau dibandingkan dengan tradisi yang lebih umum, ini mirip banget sama upacara Ngerorasin. Cuma jalannya saja yang dikemas dengan cara khas tradisi Tejakula, jadi punya ciri khas tersendiri yang nggak dimiliki daerah lain.
 
Terus ada lagi satu ritual yang nggak kalah sakral, namanya Ngantukang Bulu Geles. Upacara ini digelar secara khusus di Pura Suci Tejakula. Kalau kamu pernah dengar tradisi Nyegara Gunung, ya ini versi aslinya dari kampungku. 
 
Jadi begitulah, adat dan tradisi di Tejakula itu nggak datang tiba-tiba. Semua punya sejarahnya sendiri, berkembang seiring waktu, tapi tetap menjaga inti dan makna yang diajarkan oleh leluhur kita. Meskipun ada yang berubah atau berganti nama, tujuannya tetap satu: menjaga kesucian, keharmonisan, dan rasa syukur kita kepada Tuhan dan alam semesta.

Mengguh: Bubur Khas Tejakula Yang, Kaya Rasa.

Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, tersimpan satu warisan kuliner yang tetap terjaga hingga kini: Mengguh. Bukan sekadar bubur biasa, Mengguh adalah hidangan tradisional yang menjadi identitas masyarakat setempat, dilestarikan secara turun-temurun dan tetap menjadi favorit di tengah perubahan zaman.
 
Berbeda dengan bubur pada umumnya, Mengguh memiliki cita rasa gurih yang mendalam dan kaya akan rempah. Tekstur kuahnya kental, menjadikannya pas disantap sebagai menu sarapan sehari-hari atau saat musim hujan dan udara terasa dingin, karena mampu memberikan kehangatan bagi tubuh.
 
Salah satu varian yang paling terkenal adalah Mengguh Kedongkol. Sesuai namanya, bubur beras ini dicampur dengan sayur kedongkol, dan seringkali ditambahkan kacang panjang serta tauge untuk melengkapi isiannya. Sebagai lauk utamanya digunakan daging ayam yang disuir halus. Penyajiannya semakin lengkap dengan siraman bumbu kacang, taburan bawang goreng, dan kerupuk yang menambah tekstur renyah.
 
Ada juga versi lain yang menggunakan santan, memberikan rasa lebih gurih dan lembut. Bumbu yang dipakai adalah bumbu gede atau bumbu genap — racikan rempah lengkap yang dihaluskan, menjadi kunci keistimewaan rasanya. Hidangan ini paling nikmat disantap bersama urap dari kelapa parut yang dibumbui. Perpaduan rasa gurih, sedikit pedas dari bubur dan kesegaran urap menciptakan cita rasa yang khas dan "nendang" di lidah.
 
Selain itu, dikenal pula varian Mengguh Cina. Versi ini sedikit berbeda, menggunakan tambahan mie serta isian berupa ikan laut atau daging ayam suwir, sehingga memiliki karakteristik rasa yang unik dibandingkan varian aslinya.
 
Secara gizi, Mengguh bisa disebut sebagai hidangan yang lengkap. Karbohidrat didapatkan dari beras dan mie, protein berasal dari ayam, ikan, serta kacang, sementara sayuran melengkapi kebutuhan serat. Ditambah dengan kekayaan rempah yang memiliki manfaat bagi kesehatan, menjadikan Mengguh bukan hanya sekadar makanan pengisi perut, melainkan bagian dari warisan budaya yang tetap hidup dan dicintai masyarakat Tejakula.

10.6.26

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.Oleh Made Budilana

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.
Oleh Made Budilana 
 
Pagi itu, udara masih sejuk berhembus dari arah laut saat kami sekeluarga berangkat dari rumah. Hari itu adalah Hari Raya Galungan, hari yang paling dinanti-nantikan. Sejak pagi buta, kami sudah bersiap: mengenakan baju adat berwarna cerah, membawa persembahan yang telah disiapkan sehari sebelumnya, dan berjalan menuju berbagai pura yang ada di wilayah Tejakula.
 
Perjalanan pertama yang kami tuju adalah Pura Puseh Desa Tejakula. Di sana, halaman pura sudah ramai dipenuhi warga yang juga datang sembahyang. Aroma dupa dan bunga tercium harum. Kami duduk bersila, memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh keluarga serta seluruh desa. 

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Desa atau yang lebih populer dengan sebutan pura Bale Agung. Di tempat ini, suasana terasa lebih hidup. Banyak tetangga dan kerabat yang saling menyapa, saling mengucapkan selamat hari raya Galungan. Kami meletakkan persembahan di tempat yang telah disediakan, memohon agar persatuan dan kedamaian senantiasa terjaga di antara seluruh warga. 

Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Sebagai masyarakat pesisir, kami pun berkunjung ke Pura Segara. Berada di dekat bibir pantai, suara ombak yang bergulung menjadi irama alami saat kami bersembahyang. Di sini, kami memohon perlindungan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut, serta mengucapkan syukur atas hasil laut yang melimpah. Angin yang bertiup terasa membawa kedamaian tersendiri, seolah alam ikut merayakan kemenangan dharma.
 
Tak lupa, kami juga menyempatkan diri Tangkil ke Pura Dalem dan beberapa pura kecil lainnya. Di setiap tempat, makna yang kami rasakan sedikit berbeda namun tetap saling melengkapi: ada rasa hormat, syukur, harapan, dan rasa memiliki yang mendalam. Berjalan dari satu pura ke pura lain bersama keluarga, membuat saya menyadari bahwa Galungan bukan sekadar upacara, melainkan momen untuk mempererat ikatan keluarga, mencintai tanah kelahiran, dan mengingat bahwa kebaikan harus selalu ditegakkan.
 
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke rumah dengan hati yang ringan dan tenang. Pengalaman sembahyang di berbagai pura di Tejakula itu menjadi kenangan indah yang selalu saya simpan: bagaimana setiap sudut tanah ini memiliki cerita suci, dan bagaimana bersama keluarga, kami merayakan keberkahan yang turun di hari yang istimewa ini.