10.6.26

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.Oleh Made Budilana

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.
Oleh Made Budilana 
 
Pagi itu, udara masih sejuk berhembus dari arah laut saat kami sekeluarga berangkat dari rumah. Hari itu adalah Hari Raya Galungan, hari yang paling dinanti-nantikan. Sejak pagi buta, kami sudah bersiap: mengenakan baju adat berwarna cerah, membawa persembahan yang telah disiapkan sehari sebelumnya, dan berjalan menuju berbagai pura yang ada di wilayah Tejakula.
 
Perjalanan pertama yang kami tuju adalah Pura Puseh Desa Tejakula. Di sana, halaman pura sudah ramai dipenuhi warga yang juga datang sembahyang. Aroma dupa dan bunga tercium harum. Kami duduk bersila, memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh keluarga serta seluruh desa. 

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Desa atau yang lebih populer dengan sebutan pura Bale Agung. Di tempat ini, suasana terasa lebih hidup. Banyak tetangga dan kerabat yang saling menyapa, saling mengucapkan selamat hari raya Galungan. Kami meletakkan persembahan di tempat yang telah disediakan, memohon agar persatuan dan kedamaian senantiasa terjaga di antara seluruh warga. 

Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Sebagai masyarakat pesisir, kami pun berkunjung ke Pura Segara. Berada di dekat bibir pantai, suara ombak yang bergulung menjadi irama alami saat kami bersembahyang. Di sini, kami memohon perlindungan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut, serta mengucapkan syukur atas hasil laut yang melimpah. Angin yang bertiup terasa membawa kedamaian tersendiri, seolah alam ikut merayakan kemenangan dharma.
 
Tak lupa, kami juga menyempatkan diri Tangkil ke Pura Dalem dan beberapa pura kecil lainnya. Di setiap tempat, makna yang kami rasakan sedikit berbeda namun tetap saling melengkapi: ada rasa hormat, syukur, harapan, dan rasa memiliki yang mendalam. Berjalan dari satu pura ke pura lain bersama keluarga, membuat saya menyadari bahwa Galungan bukan sekadar upacara, melainkan momen untuk mempererat ikatan keluarga, mencintai tanah kelahiran, dan mengingat bahwa kebaikan harus selalu ditegakkan.
 
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke rumah dengan hati yang ringan dan tenang. Pengalaman sembahyang di berbagai pura di Tejakula itu menjadi kenangan indah yang selalu saya simpan: bagaimana setiap sudut tanah ini memiliki cerita suci, dan bagaimana bersama keluarga, kami merayakan keberkahan yang turun di hari yang istimewa ini.