27.6.26

Mengguh: Bubur Khas Tejakula Yang, Kaya Rasa.

Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, tersimpan satu warisan kuliner yang tetap terjaga hingga kini: Mengguh. Bukan sekadar bubur biasa, Mengguh adalah hidangan tradisional yang menjadi identitas masyarakat setempat, dilestarikan secara turun-temurun dan tetap menjadi favorit di tengah perubahan zaman.
 
Berbeda dengan bubur pada umumnya, Mengguh memiliki cita rasa gurih yang mendalam dan kaya akan rempah. Tekstur kuahnya kental, menjadikannya pas disantap sebagai menu sarapan sehari-hari atau saat musim hujan dan udara terasa dingin, karena mampu memberikan kehangatan bagi tubuh.
 
Salah satu varian yang paling terkenal adalah Mengguh Kedongkol. Sesuai namanya, bubur beras ini dicampur dengan sayur kedongkol, dan seringkali ditambahkan kacang panjang serta tauge untuk melengkapi isiannya. Sebagai lauk utamanya digunakan daging ayam yang disuir halus. Penyajiannya semakin lengkap dengan siraman bumbu kacang, taburan bawang goreng, dan kerupuk yang menambah tekstur renyah.
 
Ada juga versi lain yang menggunakan santan, memberikan rasa lebih gurih dan lembut. Bumbu yang dipakai adalah bumbu gede atau bumbu genap — racikan rempah lengkap yang dihaluskan, menjadi kunci keistimewaan rasanya. Hidangan ini paling nikmat disantap bersama urap dari kelapa parut yang dibumbui. Perpaduan rasa gurih, sedikit pedas dari bubur dan kesegaran urap menciptakan cita rasa yang khas dan "nendang" di lidah.
 
Selain itu, dikenal pula varian Mengguh Cina. Versi ini sedikit berbeda, menggunakan tambahan mie serta isian berupa ikan laut atau daging ayam suwir, sehingga memiliki karakteristik rasa yang unik dibandingkan varian aslinya.
 
Secara gizi, Mengguh bisa disebut sebagai hidangan yang lengkap. Karbohidrat didapatkan dari beras dan mie, protein berasal dari ayam, ikan, serta kacang, sementara sayuran melengkapi kebutuhan serat. Ditambah dengan kekayaan rempah yang memiliki manfaat bagi kesehatan, menjadikan Mengguh bukan hanya sekadar makanan pengisi perut, melainkan bagian dari warisan budaya yang tetap hidup dan dicintai masyarakat Tejakula.

Tidak ada komentar: