1.5.26

Lontar Desa Adat Tejakula.

Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, sejarah dan aturan hidup bukan hanya sekadar cerita lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semuanya tertulis rapi, teratur, dan terjaga kelestariannya dalam bentuk naskah-naskah lontar pusaka. Ribuan baris tulisan di atas daun kering ini menjadi bukti nyata tingginya peradaban masyarakat setempat yang memiliki sistem kehidupan yang sangat terstruktur, mulai dari hukum adat, upacara keagamaan, hingga sejarah asal-usul desa.
 
Sumber hukum adat yang paling utama dan menjadi landasan kehidupan bermasyarakat terdapat dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang dikenal juga sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini memuat segala hal tentang batas wilayah desa, aturan adat atau dresta, serta tata cara pelaksanaan Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, hingga Bhuta Yadnya yang khas dan berbeda dengan daerah lain. Inilah kitab undang-undang adat yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat Tejakula sejak zaman dahulu.
 
Kekayaan budaya spiritual mereka terlihat jelas dari bagaimana mereka memperlakukan kematian dan leluhur. Hal ini tertuang dalam Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Naskah ini menjadi pedoman upacara kematian ala masyarakat Bali Aga di sana. Disebutkan bahwa sebelum tahun 1980-an, tradisi yang berlaku masih sangat asli, meliputi ritual Metulen yang dilakukan hari ke-42, Metuwun setahun setelah kematian, hingga prosesi unik Ngantukang Bulu Geles yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan roh menuju alam baka.
 
Tidak hanya soal kematian, kehidupan sosial dan gotong royong juga diatur dengan sangat indah dalam Lontar Dresta Usaba Dangsil Tejakula. Lontar ini mengatur tata cara pelaksanaan Usaba Dangsil, yang digelar setiap Purnama Kadasa di Pura Bale Agung. 

Keunikan Tejakula juga tercermin dalam upacara persembahannya. Hal ini tercatat dalam Lontar Purana Pura Sekar Tejakula, yang sering disebut sebagai "prasasti daun lontar" yang tersimpan di Pura Sekar, Banjar Tegal Sumaga. Di sana tertulis jadwal piodalan yang jatuh pada Anggara Kliwon sasih Kapat, Kalima, Kanem, dan Kadasa. Yang paling menakjubkan adalah daftar upakara atau sarana persembahannya yang sangat beragam, mulai dari hewan ternak biasa hingga hewan khas seperti kijang, landak, dan trenggiling, menunjukkan kekayaan alam dan simbolisme yang dimiliki desa tersebut.
 
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual juga dijaga melalui pemujaan di tempat-tempat suci. Terdapat Lontar Purana Pura Dalem Tejakula yang menceritakan sejarah dan sesajen untuk Pura Dalem Kangin dan Dalem Kauh, serta menyebutkan sosok Ratu Ayu sebagai pengiring setia Ida Bhatara. Ada pula Lontar Purana Pura Segara Tejakula yang secara khusus mengatur tata cara pemujaan terhadap laut, meliputi pengaci-aci, ritual nalenin, dan ngaturang pekelem, sebagai wujud rasa syukur dan harmoni masyarakat Tejakula dengan alam samudra yang menjadi sumber kehidupan mereka.
 
Keseluruhan tempat suci di desa ini tercatat lengkap dalam Lontar Babad Pura Desa/Puseh/Bale Agung Tejakula. Naskah ini merupakan Rajapurana atau catatan sejarah Kahyangan Tiga dan tempat suci lainnya. Disebutkan bahwa di Tejakula terdapat lima pura besar yang menjadi pusat kehidupan spiritual, yaitu Pura Dalem Kangin, Dalem Kauh, Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Segara.
 
Sejarah asal-usul dan silsilah penduduknya pun terdokumentasi dengan sangat baik. Lontar Usana Bali versi Tejakula menceritakan tentang pembagian wilayah oleh para bangsawan Arya dan masyarakat Pasek di kawasan Buleleng Timur, termasuk penyebutan wilayah kekuasaan atau linggih Arya Tatar dan Arya Belog di daerah ini. Sementara itu, Lontar Yama Purana Tatwa versi Tejakula menjadi pedoman ajaran kematian dengan tambahan catatan khusus atau sesuratan yang unik di sana. Dan yang melengkapi semua itu adalah Lontar Pamancangah Desa Tejakula, yang mencatat silsilah para pemimpin desa, mulai dari panglingsir, bendesa, hingga mangku, sejak zaman dahulu ketika desa ini masih bernama Hiliran atau Paminggir hingga masa kini.
 
Kebanyakan dari lontar-lontar berharga ini bersifat khusus, yaitu Dresta Desa dan Purana Pura. Hingga saat ini, naskah-naskah aslinya masih tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja. Sayangnya, tidak semua lontar ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan untuk umum, sehingga masih menyimpan banyak misteri dan ilmu pengetahuan yang menunggu untuk digali lebih dalam oleh generasi penerus.