18.8.26

Tradisi Medeeng di Tejakula

Tradisi Medeeng di Tejakula
 
Medeeng atau Pedeengan adalah tradisi khas masyarakat Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Ini merupakan rangkaian upacara Pitra Yadnya (Pengabenan) yang dilaksanakan sehari atau dua hari sebelum proses Ngaben. Medeeng berbentuk pawai sore hari berupa barisan pasangan putra-putri muda yang berjalan beriringan memakai busana adat lengkap, diiringi musik gamelan Angklung .
 
Sejarah dan Asal-Usul
 
Medeeng merupakan tradisi asli Tejakula yang telah diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad silam. Dipercaya bahwa tradisi ini lahir dari nilai-nilai luhur masyarakat Bali Aga yang mendiami wilayah Tejakula. Berbeda dengan upacara sejenis di Bali Selatan yang disebut Mapeed, Medeeng memiliki ciri khas tersendiri dalam busana, tata cara, dan suasana yang lebih meriah dan melibatkan banyak kaum muda .
Secara historis, Tejakula sendiri merupakan salah satu desa tertua di Bali yang sudah disebutkan dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa tahun 975 Masehi dengan nama "Hiliran", yang berarti tepi atau batas — merujuk pada posisinya di pesisir utara . Tradisi Medeeng menjadi salah satu bukti kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang di wilayah ini sejak lama.
 
Makna Filosofis
 
Medeeng bukan sekadar pawai, melainkan memiliki makna yang sangat dalam. Para tetua menjelaskan bahwa para pemuda dan pemudi yang berjalan dalam barisan Medeeng adalah simbolisasi Apsara (bidadara) dan Apsari (bidadari) — makhluk surgawi yang gagah dan cantik — yang turun ke dunia untuk mengantar keberangkatan roh leluhur menuju keabadian. Jadi, Medeeng adalah semacam "dramatisasi" kehadiran para bidadara dan bidadari yang menyambut dan mengantar roh yang telah meninggal.
 
Ada juga makna sosial yang kuat: Medeeng menjadi ajang pemersatu warga desa. Seluruh keluarga, kerabat, dan tetangga bekerja sama menyiapkan pawai, sehingga duka cita berubah menjadi kekuatan bersama. Keindahan dan kemegahan pawai bukan untuk pamer, melainkan bentuk penghormatan tertinggi kepada orang yang telah meninggal — bahwa ia berangkat dengan diantar oleh keindahan dan kemuliaan.
 
Waktu Pelaksanaan
 
Medeeng dilaksanakan pada sore hari, satu atau dua hari sebelum hari utama Ngaben. Biasanya bertepatan dengan hari yang dianggap baik menurut kalender Bali.
 
Barisan Pawai
 
Barisan Medeeng terdiri dari pasangan putra dan putri muda yang berjalan berpasangan, memanjang ke belakang. Mereka berjalan beriringan searah, membentuk barisan yang panjang dan indah. Di bagian depan barisan biasanya diiringi oleh gamelan Angklung yang memainkan gending-gending khas yang menciptakan suasana khidmat namun tetap megah .
 
Busana dan Perhiasan
 
Ciri paling menonjol dari Medeeng adalah busana adat khas Buleleng yang berbeda dengan busana Bali Selatan :
 
- Putri: Memakai rokokoan berwarna putih yang dihiasi bunga emas padma atau tunjung sebagai mahkota/gelungan, dua selendang di pundak kanan dan kiri, angkin prada, kamen songket khas Buleleng, serta gelang kana. Riasan wajah dibuat halus dan anggun .
- Putra: Memakai busana payas agung khas Buleleng, destar (ikat kepala) dengan hiasan emas, sabuk prada, dan keris yang terselip di pinggang. Penampilan mereka melambangkan kegagahan dan keperkasaan.
 
Bahkan di masa lalu, keluarga yang mampu menggunakan perhiasan emas murni untuk Medeeng, bukan untuk pamer kekayaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur.
 
Dawang-Dawang
 
Di dalam pawai Medeeng juga terdapat boneka besar yang disebut Dawang-Dawang — sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang tingginya bisa melebihi manusia biasa. Rangkanya terbuat dari bambu, kepalanya dari gabus atau styrofoam, lalu dibungkus kain dan pakaian adat. Dawang-Dawang diusung oleh anak-anak atau pemuda selama pawai .
 
Dawang-Dawang memiliki tiga fungsi:
 
1. Religius — sebagai simbol pengantar roh.
2. Estetis — memperindah pawai.
3. Sosial — kain dan pakaian yang dikenakan Dawang-Dawang nantinya dilepas dan dibagikan sebagai sedekah/punia kepada orang yang mengusungnya sebelum dibakar bersama bade .
 
Urutan Prosesi
 
1. Persiapan Pagi Hari — Keluarga dan warga berkumpul di rumah duka untuk menyiapkan sesajen, banten, pakaian, dan perlengkapan pawai.
2. Menyucikan Diri — Para peserta Medeeng melakukan pembersihan diri dan berdoa sebelum memakai busana.
3. Memulai Pawai Sore Hari — Barisan berangkat dari rumah duka menuju tempat pembakaran atau pura terdekat, berjalan perlahan diiringi gamelan Angklung.
4. Mengelilingi Tempat Suci — Pawai biasanya mengelilingi Pura Desa sebagai tanda penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
5. Berakhir di Tempat Pengabenan — Barisan berhenti di lokasi di mana bade ditempatkan, lalu dilakukan pemujaan bersama.
6. Pembagian Sedekah — Kain dari Dawang-Dawang dan sebagian sesajen dibagikan kepada warga sebagai berkah .
 
Keunikan Medeeng di Tejakula
 
Di Tejakula, Medeeng memiliki keistimewaan tersendiri karena digabungkan dengan kesenian-kesenian lain yang juga menjadi ciri khas desa ini, seperti Wayang Wong dan Gending Sekatian. Gamelan yang mengiringi pawai pun sering kali menggunakan komposisi khas Tejakula yang berbeda dengan daerah lain di Buleleng.
 
Masyarakat Tejakula sangat menjaga kelestarian Medeeng karena dianggap sebagai warisan leluhur yang tak terpisahkan dari identitas mereka. Meskipun zaman terus berubah, warga tetap berusaha melestarikan tradisi ini — dari cara berpakaian, gending yang dimainkan, hingga tata cara berjalan dalam barisan — agar semangat dan makna di dalamnya tidak hilang ditelan waktu .
 
Penutup
 
Medeeng bukan sekadar pawai atau pertunjukan. Ia adalah perwujudan keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan sebuah perjalanan yang diantar dengan keindahan, penghormatan, dan kasih sayang. Di tengah duka cita, masyarakat Tejakula menemukan kekuatan untuk bersama-sama menghantarkan roh leluhur menuju keabadian dengan penuh keagungan dan keindahan. 

Malam Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja

Malam Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja
 
Sore hari masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat saat kami melaju menuju Pantai Sangsit. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma garam dan kesegaran yang khas pesisir utara Bali. Tujuan pertama kami sudah jelas: mampir makan ikan bakar sebelum lanjut ke Titik Nol Singaraja untuk menonton puncak acara Bulfest 2026. Begitu sampai di pinggir pantai, warung makan sederhana langsung menyambut, asap tipis mengepul dari tungku pembakaran, dan aroma bumbu rempah yang dibakar sudah menggugah selera sejak jauh.
 
Kami duduk di salah satu meja kosong yang terlihat paling bersih. Ikan-ikan segar baru saja diturunkan dari perahu nelayan, masih berkilau basah. Kami memesan ikan Jengki, udang, lalapan kangkung dan sambal bawang mentah yang enaknya pas. Sambil menunggu, kami duduk di kursi tenda kayu, memandang ombak yang bergulung pelan memecah di pantai, melihat matahari perlahan tenggelam meninggalkan jejak ungu dan merah di langit. Tak lama pesanan datang — ikan bakar beraroma harum semerbak, dagingnya putih lembut, manis alami, dicocol sambal tomat dan saos kacang yang gurih pedas. Ditambah es jeruk yang dingin, rasanya sungguh sempurna. Perut kenyang, hati pun tenang, siap menyambut malam yang istimewa.
 
Ketika langit sudah benar-benar gelap, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Singaraja. Semakin dekat ke Titik Nol, semakin terlihat keramaian. Lampu-lampu jalan mulai menyala, dan dari kejauhan sudah terdengar suara gamelan dan musik yang bersahutan. Jalanan di sekitar monumen Titik Nol sudah dipenuhi orang — warga dari berbagai desa, wisatawan, anak-anak, orang tua — semuanya datang berkumpul untuk menyaksikan Bulfest 2026. Panggung besar yang dibangun di area itu tampak megah dengan pencahayaan warna-warni yang memantul ke langit malam.
 
Saat kami tiba, pertunjukan sudah berlangsung meriah. Suara gamelan terdengar bergema, memadukan irama tradisional dengan sentuhan modern yang segar. Di panggung, penari-penari muda mengenakan busana khas Buleleng yang indah bergerak selaras, gerakannya luwes dan penuh semangat. Penonton bersorak, bertepuk tangan, tak sedikit yang ikut bergoyang mengikuti irama. Di sepanjang jalan sekitar festival, stan-stan makanan dan kerajinan tangan berjejer rapi, lampu-lampu hias menggantung cantik di antara pohon-pohon, menciptakan suasana yang hangat dan hidup.
 
Malam semakin larut, tapi semangat orang-orang justru semakin membara. Puncak acara berupa kolaborasi musik tradisional dan pertunjukan cahaya lampu membuat seluruh area Titik Nol berkilauan seolah menjadi lautan cahaya. Kami berdiri di antara keramaian, merasakan kehangatan kebersamaan masyarakat Buleleng yang begitu bangga dan mencintai budayanya sendiri. Tidak ada jarak antara tua dan muda, antara warga dan tamu — semua bersatu dalam kegembiraan yang sama.
 
Pulang ke rumah nanti, kaki mungkin terasa pegal, tapi hati penuh dengan kenangan indah. Makan ikan bakar yang lezat di Pantai Sangsit di bawah langit senja, lalu menyaksikan kemeriahan Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja di bawah cahaya lampu dan bintang — perjalanan malam itu bukan sekadar jalan-jalan, melainkan pengingat betapa berharganya budaya dan kebersamaan yang kita miliki. 

19.7.26

Sejarah Lengkap Batu Berbentuk Perahu di Pura Ponjok Batu

Sejarah Lengkap Batu Berbentuk Perahu di Pura Ponjok Batu.

 
Di lepas pantai Pura Purwa Siddhi Ponjok Batu, Bangkah, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, berdiri tegak sebuah batu karang besar yang memiliki bentuk alami sangat menyerupai perahu, menjadi salah satu daya tarik sekaligus tempat penghormatan yang paling dihargai di wilayah utara Bali. Nama pura Ponjok Batu sendiri mengandung makna “tanjung batu”, sebuah sebutan yang sangat pas menggambarkan posisinya yang menjorok jauh ke tengah laut, seolah menjadi benteng alami yang menjaga pesisir dari hempasan ombak yang tak pernah lelah memukul pantai.
 
Kisah yang menyelimuti batu berbentuk perahu ini tercatat secara tertulis dalam naskah kuno Lontar Dwijendra Tattwa, yang mengaitkan keberadaannya dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha, seorang pendeta besar aliran Siwa Sidanta yang hidup pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong yang membawa Bali ke dalam masa kejayaan yang luas. Konon pada suatu ketika, saat Danghyang Nirartha sedang singgah dan melaksanakan semedi di kawasan Ponjok Batu, terlihatlah sebuah perahu milik para pedagang dan pelaut yang datang dari Lombok sedang mengalami kesulitan besar di tengah samudra. Para pelaut itu melihat adanya batu yang memancarkan cahaya suci yang menyilaukan namun menenangkan di tengah laut, sehingga mereka berniat mendekat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di sana. Namun saat perahu mereka semakin dekat ke arah batu tersebut, tiba-tiba seluruh alat kendali dan peralatan penggerak perahu mengalami kerusakan secara misterius, sehingga perahu itu tak sanggup bergerak maju maupun mundur, terjebak diam di tengah hamparan air yang luas dan dalam. Melihat musibah yang menimpa para pelaut itu, Danghyang Nirartha segera turun untuk memberikan pertolongan; beliau memohon perlindungan Tuhan dengan penuh kesungguhan, hingga akhirnya perahu itu kembali berfungsi seperti semula dan beliau pun membimbing rombongan tersebut sampai selamat melewati wilayah yang berbahaya itu. Tak berhenti di situ, setelah keadaan mereka aman, Danghyang Nirartha pun ikut berlayar menuju Lombok bersama rombongan pelaut itu untuk melanjutkan tugas sucinya di tanah seberang. Batu yang semula memancarkan cahaya suci itu tetap berdiri kokoh di tempatnya, dan sejak saat itu dipercaya masyarakat sebagai titik suci tempat kekuatan suci Danghyang Nirartha melekat selamanya, sementara bentuk alaminya yang persis menyerupai perahu semakin mengukuhkan makna peristiwa pertolongan yang pernah terjadi di tempat tersebut.
 
Secara asal usul fisik, bagian utama dari bangunan ini adalah batu karang vulkanik yang terbentuk secara alami melalui proses geologis yang berlangsung ribuan tahun lamanya, bukan hasil buatan tangan manusia pada awalnya. Baru kemudian pada masa pemugaran besar yang dilaksanakan antara tahun 1993 hingga 1994, di atas batu karang alami tersebut dibangunlah pelinggih berbentuk perahu atau jukung yang terbuat dari susunan batu dan beton, yang dibuat sebagai tanda peringatan abadi atas peristiwa pertolongan yang dilakukan Danghyang Nirartha sekaligus menjadi sarana penghormatan yang layak bagi para pemohon keselamatan dalam pelayaran. Setelah seluruh pekerjaan pembangunan dan penataan selesai, dilaksanakanlah upacara penyucian puncak yang diberi nama Ngenteg Linggih pada tanggal 8 Agustus 1998, sebagai tanda bahwa tempat suci itu telah sempurna dan siap kembali disucikan serta digunakan untuk persembahyangan oleh seluruh masyarakat.
 
Selain kisah yang tertulis dalam naskah kuno, masyarakat setempat juga mewariskan cerita rakyat yang turun-temurun mengenai keberadaan batu besar ini. Konon pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Bali belum sepenuhnya stabil posisinya di permukaan bumi, para Bhatara turun tangan untuk menimbang berat pulau ini dan ternyata bagian timur dari wilayah Bali Utara lebih ringan dibandingkan bagian lainnya. Agar pulau ini menjadi seimbang, tidak mudah bergeser, dan selalu terjaga keamanannya, maka diletakkanlah tumpukan batu besar yang berat di kawasan Ponjok Batu ini. Hal lain yang semakin memperkuat kesucian tempat ini adalah ditemukannya sisa-sisa sarkofagus atau peti batu purba yang diperkirakan berusia sekitar 2500 hingga 3000 tahun sebelum masehi di sekitar area pura, yang membuktikan bahwa lokasi ini sudah dihormati dan dijadikan tempat suci oleh nenek moyang kita jauh sebelum masa kedatangan Danghyang Nirartha ke wilayah ini.
 
Hingga saat ini, batu berbentuk perahu di Ponjok Batu itu tetap berdiri kokoh menjadi simbol yang penuh makna, terutama sebagai lambang keselamatan, tanda nyata akan pertolongan Tuhan yang senantiasa hadir di saat sulit, serta pelindung utama bagi para pelaut dan nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut luas. Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari susunan pelinggih yang ada di lingkungan Pura Ponjok Batu, sehingga tak jarang dikunjungi oleh umat yang datang dari berbagai daerah untuk melaksanakan persembahyangan, memohon keselamatan saat akan berlayar, kelancaran dalam segala usaha yang dijalankan, serta perlindungan dari segala macam bahaya yang mungkin datang tiba-tiba. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini pun masih memegang teguh keyakinan bahwa cahaya suci yang pernah dilihat para pelaut zaman dahulu itu masih kadang terlihat samar di sekitar batu karang tersebut, menjadi tanda bahwa kekuatan dan kesucian tempat ini tak akan pernah padam oleh waktu, dan senantiasa menjaga setiap orang yang melintas di perairan yang dikelilingi ombak yang berkejaran itu.
 
 
 

27.6.26

Warisan Ritual di Tejakula

Warisan Ritual di Tejakula
 
Dengerin ya, cerita dari orang-orang tua di kampungku, Tejakula. Dulu banget, zaman kakek moyang kita masih hidup, nggak ada tuh yang namanya tradisi ngaben kayak yang sekarang umum kita lihat. Kalau ada warga yang meninggal dunia, cara mengantar arwahnya ke alam baka itu pakai ritual yang namanya Metuwun dan Metulen.
 
Kedua upacara ini sebenernya fungsinya mirip banget sama ngaben. Tujuannya tetap sama, yaitu memisahkan roh dari jasad, menyucikan, dan mengantarkannya supaya bisa bersatu kembali dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bedanya mungkin ada di tata cara dan peralatan yang dipakai, lebih sederhana dan khas banget sama kebiasaan asli warga Tejakula dulu. Lama-kelamaan, seiring berjalannya waktu dan makin banyaknya pertukaran adat antar daerah, barulah kita di sini mengenal dan mulai melaksanakan tradisi ngaben seperti yang dikenal luas sekarang. Jadi bisa dibilang, Metuwun dan Metulen itu adalah bentuk tradisi asli leluhur kita sebelum mengenal ngaben.
 
Selain itu, di kampungku juga punya upacara unik yang namanya Mekarye Bakti. Kalau dibandingkan dengan tradisi yang lebih umum, ini mirip banget sama upacara Ngerorasin. Cuma jalannya saja yang dikemas dengan cara khas tradisi Tejakula, jadi punya ciri khas tersendiri yang nggak dimiliki daerah lain.
 
Terus ada lagi satu ritual yang nggak kalah sakral, namanya Ngantukang Bulu Geles. Upacara ini digelar secara khusus di Pura Suci Tejakula. Kalau kamu pernah dengar tradisi Nyegara Gunung, ya ini versi aslinya dari kampungku. 
 
Jadi begitulah, adat dan tradisi di Tejakula itu nggak datang tiba-tiba. Semua punya sejarahnya sendiri, berkembang seiring waktu, tapi tetap menjaga inti dan makna yang diajarkan oleh leluhur kita. Meskipun ada yang berubah atau berganti nama, tujuannya tetap satu: menjaga kesucian, keharmonisan, dan rasa syukur kita kepada Tuhan dan alam semesta.

Mengguh: Bubur Khas Tejakula Yang, Kaya Rasa.

Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, tersimpan satu warisan kuliner yang tetap terjaga hingga kini: Mengguh. Bukan sekadar bubur biasa, Mengguh adalah hidangan tradisional yang menjadi identitas masyarakat setempat, dilestarikan secara turun-temurun dan tetap menjadi favorit di tengah perubahan zaman.
 
Berbeda dengan bubur pada umumnya, Mengguh memiliki cita rasa gurih yang mendalam dan kaya akan rempah. Tekstur kuahnya kental, menjadikannya pas disantap sebagai menu sarapan sehari-hari atau saat musim hujan dan udara terasa dingin, karena mampu memberikan kehangatan bagi tubuh.
 
Salah satu varian yang paling terkenal adalah Mengguh Kedongkol. Sesuai namanya, bubur beras ini dicampur dengan sayur kedongkol, dan seringkali ditambahkan kacang panjang serta tauge untuk melengkapi isiannya. Sebagai lauk utamanya digunakan daging ayam yang disuir halus. Penyajiannya semakin lengkap dengan siraman bumbu kacang, taburan bawang goreng, dan kerupuk yang menambah tekstur renyah.
 
Ada juga versi lain yang menggunakan santan, memberikan rasa lebih gurih dan lembut. Bumbu yang dipakai adalah bumbu gede atau bumbu genap — racikan rempah lengkap yang dihaluskan, menjadi kunci keistimewaan rasanya. Hidangan ini paling nikmat disantap bersama urap dari kelapa parut yang dibumbui. Perpaduan rasa gurih, sedikit pedas dari bubur dan kesegaran urap menciptakan cita rasa yang khas dan "nendang" di lidah.
 
Selain itu, dikenal pula varian Mengguh Cina. Versi ini sedikit berbeda, menggunakan tambahan mie serta isian berupa ikan laut atau daging ayam suwir, sehingga memiliki karakteristik rasa yang unik dibandingkan varian aslinya.
 
Secara gizi, Mengguh bisa disebut sebagai hidangan yang lengkap. Karbohidrat didapatkan dari beras dan mie, protein berasal dari ayam, ikan, serta kacang, sementara sayuran melengkapi kebutuhan serat. Ditambah dengan kekayaan rempah yang memiliki manfaat bagi kesehatan, menjadikan Mengguh bukan hanya sekadar makanan pengisi perut, melainkan bagian dari warisan budaya yang tetap hidup dan dicintai masyarakat Tejakula.

10.6.26

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.Oleh Made Budilana

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.
Oleh Made Budilana 
 
Pagi itu, udara masih sejuk berhembus dari arah laut saat kami sekeluarga berangkat dari rumah. Hari itu adalah Hari Raya Galungan, hari yang paling dinanti-nantikan. Sejak pagi buta, kami sudah bersiap: mengenakan baju adat berwarna cerah, membawa persembahan yang telah disiapkan sehari sebelumnya, dan berjalan menuju berbagai pura yang ada di wilayah Tejakula.
 
Perjalanan pertama yang kami tuju adalah Pura Puseh Desa Tejakula. Di sana, halaman pura sudah ramai dipenuhi warga yang juga datang sembahyang. Aroma dupa dan bunga tercium harum. Kami duduk bersila, memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh keluarga serta seluruh desa. 

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Desa atau yang lebih populer dengan sebutan pura Bale Agung. Di tempat ini, suasana terasa lebih hidup. Banyak tetangga dan kerabat yang saling menyapa, saling mengucapkan selamat hari raya Galungan. Kami meletakkan persembahan di tempat yang telah disediakan, memohon agar persatuan dan kedamaian senantiasa terjaga di antara seluruh warga. 

Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Sebagai masyarakat pesisir, kami pun berkunjung ke Pura Segara. Berada di dekat bibir pantai, suara ombak yang bergulung menjadi irama alami saat kami bersembahyang. Di sini, kami memohon perlindungan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut, serta mengucapkan syukur atas hasil laut yang melimpah. Angin yang bertiup terasa membawa kedamaian tersendiri, seolah alam ikut merayakan kemenangan dharma.
 
Tak lupa, kami juga menyempatkan diri Tangkil ke Pura Dalem dan beberapa pura kecil lainnya. Di setiap tempat, makna yang kami rasakan sedikit berbeda namun tetap saling melengkapi: ada rasa hormat, syukur, harapan, dan rasa memiliki yang mendalam. Berjalan dari satu pura ke pura lain bersama keluarga, membuat saya menyadari bahwa Galungan bukan sekadar upacara, melainkan momen untuk mempererat ikatan keluarga, mencintai tanah kelahiran, dan mengingat bahwa kebaikan harus selalu ditegakkan.
 
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke rumah dengan hati yang ringan dan tenang. Pengalaman sembahyang di berbagai pura di Tejakula itu menjadi kenangan indah yang selalu saya simpan: bagaimana setiap sudut tanah ini memiliki cerita suci, dan bagaimana bersama keluarga, kami merayakan keberkahan yang turun di hari yang istimewa ini.

1.5.26

Lontar Desa Adat Tejakula.

Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, sejarah dan aturan hidup bukan hanya sekadar cerita lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semuanya tertulis rapi, teratur, dan terjaga kelestariannya dalam bentuk naskah-naskah lontar pusaka. Ribuan baris tulisan di atas daun kering ini menjadi bukti nyata tingginya peradaban masyarakat setempat yang memiliki sistem kehidupan yang sangat terstruktur, mulai dari hukum adat, upacara keagamaan, hingga sejarah asal-usul desa.
 
Sumber hukum adat yang paling utama dan menjadi landasan kehidupan bermasyarakat terdapat dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang dikenal juga sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini memuat segala hal tentang batas wilayah desa, aturan adat atau dresta, serta tata cara pelaksanaan Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, hingga Bhuta Yadnya yang khas dan berbeda dengan daerah lain. Inilah kitab undang-undang adat yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat Tejakula sejak zaman dahulu.
 
Kekayaan budaya spiritual mereka terlihat jelas dari bagaimana mereka memperlakukan kematian dan leluhur. Hal ini tertuang dalam Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Naskah ini menjadi pedoman upacara kematian ala masyarakat Bali Aga di sana. Disebutkan bahwa sebelum tahun 1980-an, tradisi yang berlaku masih sangat asli, meliputi ritual Metulen yang dilakukan hari ke-42, Metuwun setahun setelah kematian, hingga prosesi unik Ngantukang Bulu Geles yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan roh menuju alam baka.
 
Keunikan Tejakula juga tercermin dalam upacara persembahannya. Hal ini tercatat dalam Lontar Purana Pura Sekar Tejakula, yang sering disebut sebagai "prasasti daun lontar" yang tersimpan di Pura Sekar, Banjar Tegal Sumaga. Di sana tertulis jadwal piodalan yang jatuh pada Anggara Kliwon sasih Kapat, Kalima, Kanem, dan Kadasa. Yang paling menakjubkan adalah daftar upakara atau sarana persembahannya yang sangat beragam, mulai dari hewan ternak biasa hingga hewan khas seperti kijang, landak, dan trenggiling, menunjukkan kekayaan alam dan simbolisme yang dimiliki desa tersebut.
 
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual juga dijaga melalui pemujaan di tempat-tempat suci. Terdapat Lontar Purana Pura Dalem Tejakula yang menceritakan sejarah dan sesajen untuk Pura Dalem Kangin dan Dalem Kauh, serta menyebutkan sosok Ratu Ayu sebagai pengiring setia Ida Bhatara. Ada pula Lontar Purana Pura Segara Tejakula yang secara khusus mengatur tata cara pemujaan terhadap laut, meliputi pengaci-aci, ritual nalenin, dan ngaturang pekelem, sebagai wujud rasa syukur dan harmoni masyarakat Tejakula dengan alam samudra yang menjadi sumber kehidupan mereka.
 
Keseluruhan tempat suci di desa ini tercatat lengkap dalam Lontar Raja Purana Pura Desa/Puseh/Bale Agung Tejakula. Naskah ini merupakan Rajapurana atau catatan sejarah Kahyangan Tiga dan tempat suci lainnya. Disebutkan bahwa di Tejakula terdapat lima pura besar yang menjadi pusat kehidupan spiritual, yaitu Pura Dalem Kangin, Dalem Kauh, Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Segara.
 
Sejarah asal-usul dan silsilah penduduknya pun terdokumentasi dengan sangat baik. Lontar Usana Bali versi Tejakula menceritakan tentang pembagian wilayah oleh para bangsawan Arya dan masyarakat Pasek di kawasan Buleleng Timur, termasuk penyebutan wilayah kekuasaan atau linggih Arya Tatar dan Arya Belog di daerah ini. Sementara itu, Lontar Yama Purana Tatwa versi Tejakula menjadi pedoman ajaran kematian dengan tambahan catatan khusus atau sesuratan yang unik di sana. Dan yang melengkapi semua itu adalah Lontar Pamancangah Desa Tejakula, yang mencatat silsilah para pemimpin desa, mulai dari panglingsir, bendesa, hingga mangku, sejak zaman dahulu ketika desa ini masih bernama Hiliran atau Paminggir hingga masa kini.
 
Kebanyakan dari lontar-lontar berharga ini bersifat khusus, yaitu Dresta Desa dan Purana Pura. Hingga saat ini, naskah-naskah aslinya masih tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja. Sayangnya, tidak semua lontar ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan untuk umum, sehingga masih menyimpan banyak misteri dan ilmu pengetahuan yang menunggu untuk digali lebih dalam oleh generasi penerus.