Sejarah Lengkap Batu Berbentuk Perahu di Pura Ponjok Batu.
Di lepas pantai Pura Purwa Siddhi Ponjok Batu, Bangkah, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, berdiri tegak sebuah batu karang besar yang memiliki bentuk alami sangat menyerupai perahu, menjadi salah satu daya tarik sekaligus tempat penghormatan yang paling dihargai di wilayah utara Bali. Nama pura Ponjok Batu sendiri mengandung makna “tanjung batu”, sebuah sebutan yang sangat pas menggambarkan posisinya yang menjorok jauh ke tengah laut, seolah menjadi benteng alami yang menjaga pesisir dari hempasan ombak yang tak pernah lelah memukul pantai.
Kisah yang menyelimuti batu berbentuk perahu ini tercatat secara tertulis dalam naskah kuno Lontar Dwijendra Tattwa, yang mengaitkan keberadaannya dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha, seorang pendeta besar aliran Siwa Sidanta yang hidup pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong yang membawa Bali ke dalam masa kejayaan yang luas. Konon pada suatu ketika, saat Danghyang Nirartha sedang singgah dan melaksanakan semedi di kawasan Ponjok Batu, terlihatlah sebuah perahu milik para pedagang dan pelaut yang datang dari Lombok sedang mengalami kesulitan besar di tengah samudra. Para pelaut itu melihat adanya batu yang memancarkan cahaya suci yang menyilaukan namun menenangkan di tengah laut, sehingga mereka berniat mendekat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di sana. Namun saat perahu mereka semakin dekat ke arah batu tersebut, tiba-tiba seluruh alat kendali dan peralatan penggerak perahu mengalami kerusakan secara misterius, sehingga perahu itu tak sanggup bergerak maju maupun mundur, terjebak diam di tengah hamparan air yang luas dan dalam. Melihat musibah yang menimpa para pelaut itu, Danghyang Nirartha segera turun untuk memberikan pertolongan; beliau memohon perlindungan Tuhan dengan penuh kesungguhan, hingga akhirnya perahu itu kembali berfungsi seperti semula dan beliau pun membimbing rombongan tersebut sampai selamat melewati wilayah yang berbahaya itu. Tak berhenti di situ, setelah keadaan mereka aman, Danghyang Nirartha pun ikut berlayar menuju Lombok bersama rombongan pelaut itu untuk melanjutkan tugas sucinya di tanah seberang. Batu yang semula memancarkan cahaya suci itu tetap berdiri kokoh di tempatnya, dan sejak saat itu dipercaya masyarakat sebagai titik suci tempat kekuatan suci Danghyang Nirartha melekat selamanya, sementara bentuk alaminya yang persis menyerupai perahu semakin mengukuhkan makna peristiwa pertolongan yang pernah terjadi di tempat tersebut.
Secara asal usul fisik, bagian utama dari bangunan ini adalah batu karang vulkanik yang terbentuk secara alami melalui proses geologis yang berlangsung ribuan tahun lamanya, bukan hasil buatan tangan manusia pada awalnya. Baru kemudian pada masa pemugaran besar yang dilaksanakan antara tahun 1993 hingga 1994, di atas batu karang alami tersebut dibangunlah pelinggih berbentuk perahu atau jukung yang terbuat dari susunan batu dan beton, yang dibuat sebagai tanda peringatan abadi atas peristiwa pertolongan yang dilakukan Danghyang Nirartha sekaligus menjadi sarana penghormatan yang layak bagi para pemohon keselamatan dalam pelayaran. Setelah seluruh pekerjaan pembangunan dan penataan selesai, dilaksanakanlah upacara penyucian puncak yang diberi nama Ngenteg Linggih pada tanggal 8 Agustus 1998, sebagai tanda bahwa tempat suci itu telah sempurna dan siap kembali disucikan serta digunakan untuk persembahyangan oleh seluruh masyarakat.
Selain kisah yang tertulis dalam naskah kuno, masyarakat setempat juga mewariskan cerita rakyat yang turun-temurun mengenai keberadaan batu besar ini. Konon pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Bali belum sepenuhnya stabil posisinya di permukaan bumi, para Bhatara turun tangan untuk menimbang berat pulau ini dan ternyata bagian timur dari wilayah Bali Utara lebih ringan dibandingkan bagian lainnya. Agar pulau ini menjadi seimbang, tidak mudah bergeser, dan selalu terjaga keamanannya, maka diletakkanlah tumpukan batu besar yang berat di kawasan Ponjok Batu ini. Hal lain yang semakin memperkuat kesucian tempat ini adalah ditemukannya sisa-sisa sarkofagus atau peti batu purba yang diperkirakan berusia sekitar 2500 hingga 3000 tahun sebelum masehi di sekitar area pura, yang membuktikan bahwa lokasi ini sudah dihormati dan dijadikan tempat suci oleh nenek moyang kita jauh sebelum masa kedatangan Danghyang Nirartha ke wilayah ini.
Hingga saat ini, batu berbentuk perahu di Ponjok Batu itu tetap berdiri kokoh menjadi simbol yang penuh makna, terutama sebagai lambang keselamatan, tanda nyata akan pertolongan Tuhan yang senantiasa hadir di saat sulit, serta pelindung utama bagi para pelaut dan nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut luas. Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari susunan pelinggih yang ada di lingkungan Pura Ponjok Batu, sehingga tak jarang dikunjungi oleh umat yang datang dari berbagai daerah untuk melaksanakan persembahyangan, memohon keselamatan saat akan berlayar, kelancaran dalam segala usaha yang dijalankan, serta perlindungan dari segala macam bahaya yang mungkin datang tiba-tiba. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini pun masih memegang teguh keyakinan bahwa cahaya suci yang pernah dilihat para pelaut zaman dahulu itu masih kadang terlihat samar di sekitar batu karang tersebut, menjadi tanda bahwa kekuatan dan kesucian tempat ini tak akan pernah padam oleh waktu, dan senantiasa menjaga setiap orang yang melintas di perairan yang dikelilingi ombak yang berkejaran itu.