Tradisi Perang Sambuk di Desa Tejakula adalah sebuah ritual unik yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada hari Pengerupukan. Tradisi ini melibatkan dua kelompok pemuda, yaitu Wong Kaja (kelompok utara) dan Wong Kelod (kelompok selatan), yang saling melempar sabut kelapa yang telah dibakar.
Tradisi Perang Sambuk bertujuan untuk menolak bala dan menetralisir hal-hal negatif di lingkungan desa. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat menjaga keseimbangan alam dan mengusir roh-roh jahat.
Berikut ini adalah Prosesi perang sambuk. Diantaranya:
1. Sebelum tradisi dimulai, peserta melakukan ritual "nunas tirta" dan berdoa bersama.
2. Dua kelompok pemuda, Wong Kaja dan Wong Kelod, siap dengan sabut kelapa yang telah dibakar.
3. Dengan iringan Gamelan Bale Ganjur, kedua kelompok saling melempar sabut kelapa.
4. Tradisi berakhir ketika salah satu kelompok kelelahan dan tidak dapat melanjutkan.
Meskipun melibatkan pelemparan sabut kelapa yang dibakar, tidak ada laporan cedera atau kebakaran. Setelah tradisi selesai, peserta berkumpul dan saling memberi tirta, bersalaman, dan merangkul satu sama lain.
Tradisi Perang Sambuk di Desa Tejakula merupakan contoh kekayaan budaya Bali yang unik dan menarik.