Ngantukang Bulu Geles: Ritual Sakral Penghubung Roh di Tejakula
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tradisi Pitra Yadnya atau upacara penghormatan terhadap leluhur memiliki kekhasan yang sangat mendalam dan penuh dengan simbolisme magis. Salah satu ritual yang paling unik dan menjadi ciri khas masyarakat setempat adalah upacara Ngantukang Bulu Geles. Sebuah upacara yang tidak hanya sekadar persembahan banten, melainkan merupakan jembatan spiritual yang mempertemukan dunia manusia dengan dunia roh, serta menyatukan simbol-simbol kekuatan alam semesta.
Keberadaan dan tata cara pelaksanaan ritual ini tertulis dengan sangat jelas dan rinci dalam berbagai naskah lontar pusaka yang menjadi pedoman hidup masyarakat di Tejakula. Sumber utama yang memuat penjelasan mengenai hal ini adalah Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara khusus membahas tentang tata cara upacara kematian ala masyarakat Tejakula. Di dalamnya disebutkan bahwa Ngantukang Bulu Geles merupakan rangkaian lanjutan yang sakral setelah pelaksanaan upacara Ngaben dan Mekarye Bakti. Upacara ini memiliki aturan waktu yang sangat spesifik, yaitu dilaksanakan pada hari Anggarkasih, dan tempat pelaksanaannya pun ditentukan dengan pertimbangan mistis, yaitu di pura-pura yang letaknya dekat dengan laut maupun gunung, sebagai simbol keseimbangan alam.
Hal senada juga diperkuat oleh catatan dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang lebih dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Lontar ini menjadi landasan hukum adat atau sima-dresta desa. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang merinci urutan lengkap upacara setelah kematian, mulai dari metulen, metuun, ngaben, hingga puncaknya pada ritual Ngantukang Bulu Geles. Ini membuktikan bahwa upacara ini bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan telah diatur secara baku dan turun-temurun sejak zaman dahulu kala sebagai kewajiban spiritual keluarga dan desa.
Lebih jauh lagi, makna filosofis dan esoteris dari ritual ini dapat dipahami melalui Lontar Yama Purana Tatwa serta Lontar Yama Tatwa versi Tejakula. Kedua naskah ini merupakan pedoman tentang ajaran kematian dan alam baka yang umum dikenal di Bali Utara. Namun di Tejakula, terdapat tambahan catatan khusus atau sesuratan yang menjelaskan bahwa Ngantukang Bulu Geles memiliki makna mendalam sebagai proses "mempertemukan" roh leluhur dengan kekuatan Segara (laut) dan Giri (gunung). Kedua elemen alam ini merupakan simbol dari Purusa dan Pradana, atau unsur maskulin dan feminin, yang menyatu menciptakan keseimbangan semesta. Dengan demikian, roh diharapkan dapat bersatu kembali dengan asal-usulnya yang sejati.
Secara pelaksanaan, ritual ini memiliki ciri khas yang kuat. Dilaksanakan tepat pada hari Anggarkasih, upacara biasanya digelar di tempat-tempat yang dianggap memiliki energi spiritual tinggi, seperti Pura Suci di Tejakula yang letaknya strategis dekat dengan pesisir pantai dan menghadap ke arah gunung. Inti dari ritual ini adalah mengundang atau "mengajak" roh leluhur untuk hadir dan menerima persembahan. Ini adalah momen sakral di mana batas antara dunia nyata dan dunia spiritual seakan menjadi tipis, menjadi sarana komunikasi dan penghormatan tertinggi kepada para pendahulu.
Untuk melancarkan upacara ini, dipersiapkanlah upakara atau sarana persembahan yang khusus dan lengkap sesuai tuntunan leluhur. Prosesi dipimpin oleh para pemangku desa dengan mantra-mantra sakral, dan diikuti oleh seluruh keluarga besar serta krama desa yang hadir memberikan dukungan doa. Suasana yang tercipta pun terasa sangat hening, khidmat, namun penuh dengan getaran spiritual yang kuat.
Ngantukang Bulu Geles bukan sekadar tradisi yang dijalankan karena kebiasaan, melainkan wujud rasa cinta, bakti, dan kesadaran bahwa leluhur senantiasa hadir dan memberikan perlindungan selama ikatan batin itu terus dijaga. Melalui ritual inilah, masyarakat Tejakula menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta, sebagaimana yang telah tertulis abadi dalam lembaran-lembaran lontar pusaka mereka.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar