Sejarah dan Makna Ritual Ngantukang Bulu Geles di Tejakula
Secara harfiah, makna ritual Ngantukang Bulu Geles adalah mengembalikan roh leluhur ke tempat yang semestinya. Ritual ini berakar dari tradisi kuno masyarakat Bali Utara, khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya. Ngantukang Bulu Geles di Tejakula memiliki makna yang lebih dalam: ia merupakan lanjutan dari rangkaian upacara Pitra Yadnya atau Ngaben, dengan tujuan mengembalikan roh leluhur ke tempat yang semestinya, agar tenang dan kembali bersatu dengan sumber-Nya, sehingga tidak lagi mengganggu dunia yang ditinggalkan.
Dikatakan bahwa Ngantukang Bulu Geles dilaksanakan setelah upacara Ngaben dan Mekarye Bakti selesai, berfungsi sebagai penyempurna dari seluruh rangkaian upacara yang telah dijalani. Dalam sastra dan tata upacara, Ngantukang Bulu Geles ini setara dengan ritual Nyegara Gunung, yang menyatukan kekuatan alam semesta sebagai wujud kesempurnaan persembahan. Biasanya ritual ini digelar pada hari Anggarkasih — hari yang dianggap paling suci dan penuh berkah dalam penanggalan Bali — dan dilaksanakan di pura Suci Desa Tejakula, tempat yang dianggap berada di posisi terdekat sekaligus dengan gunung dan pantai, menyatukan dua kekuatan alam dalam satu pemujaan.
Makna filosofis yang terkandung di dalamnya dapat dirangkum dalam satu kalimat indah: "Mengembalikan yang suci kepada kesucian." Bulu Geles melambangkan kesucian Atma yang murni, belum tercampur oleh kotoran dunia. Saat seseorang meninggal dan diaben, Atma tersebut harus dikembalikan kepada asalnya, agar tidak tertinggal di dunia dalam wujud yang mengganggu. Maka persembahan dalam ritual ini bukan sekadar pemberian semata, melainkan simbol pemulihan kesempurnaan roh agar kembali suci dan bersatu dengan Sang Pencipta.
Perlu dipahami pula bahwa nama ritual Ngantukang Bulu Geles ini sangat khas wilayah Tejakula, diwariskan secara turun-temurun dari leluhur masyarakat setempat, dan belum banyak tercatat dalam literatur-literatur umum yang beredar di daerah lain. Demikianlah kekayaan tradisi yang tumbuh dan dijaga dengan penuh kesucian di tanah Tejakula, menjadi bukti betapa dalamnya penghormatan masyarakat kepada leluhur dan kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang menciptakan alam semesta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar