17.10.24

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.
 
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tersimpan sebuah kekayaan budaya dan spiritual yang sangat unik dan berbeda dengan daerah lainnya. Sebelum tradisi Ngaben dikenal dan dilaksanakan secara luas sebagaimana umumnya di Bali, masyarakat di sana memiliki tata upacara terhadap leluhur yang sangat teratur, tertib, dan tertulis jelas dalam naskah-naskah lontar pusaka. Dua istilah yang sangat akrab dan menjadi jati diri adat mereka adalah Metulen dan Metuwun atau Metuun. Kedua ritual ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Pitra Yadnya atau upacara untuk roh orang yang telah meninggal dunia.
 
Landasan hukum dan aturan pelaksanaan dari tradisi sakral ini tertuang secara rinci dalam Lontar Sima Desa Tejakula yang juga dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran. Naskah ini memiliki nomor inventaris No. 798 yang tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini menjadi kitab dasar yang mengatur seluruh sendi kehidupan adat di Tejakula. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang menceritakan tentang tata cara Pitra Yadnya khas Tejakula yang berlaku jauh sebelum tahun 1980-an. Di sana disebutkan dengan jelas mengenai kewajiban keluarga untuk melaksanakan upacara Metulen yang dilakukan tepat pada hari ke-42 setelah seseorang meninggal dunia, serta upacara Metuwun yang digelar ketika genap satu tahun peristiwa kematian tersebut terjadi.
 
Selain itu, terdapat pula naskah khusus yang lebih mendalam membahas hal ini, yaitu Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara spesifik merekam segala hal mengenai upacara kematian asli masyarakat Tejakula. Isinya sangat detail mencakup persiapan upakara atau sarana persembahan, penentuan waktu atau galah, hingga tata cara pelaksanaan yadnya untuk kedua ritual tersebut. Lontar ini menjadi bukti otentik bahwa Metulen dan Metuwun bukanlah sekadar kebiasaan semata, melainkan sebuah tradisi suci yang memiliki aturan baku dan filosofi yang tinggi, yang telah dijalankan turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
 
Lalu, apa makna sebenarnya di balik kedua upacara tersebut?
 
Metulen adalah upacara yang dilaksanakan pada hari ke-42 setelah kematian. Pada fase ini, menurut keyakinan leluhur, arwah orang yang meninggal dunia diyakini baru saja memulai perjalanan panjangnya menuju alam baka atau alam yang sejati. Perjalanan ini tentu tidak mudah, maka dari itu keluarga besar menggelar upacara Metulen sebagai bentuk dukungan spiritual yang kuat. Tujuannya adalah agar arwah tersebut diberikan kekuatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menempuh perjalanannya meninggalkan dunia fana ini. Ini adalah momen di mana ikatan kasih sayang antara yang masih hidup dan yang telah pergi diwujudkan dalam bentuk doa dan persembahan suci.
 
Sedangkan Metuwun atau Metuun adalah puncak dan penutup dari seluruh rangkaian upacara penghormatan tersebut, yang dilakukan ketika waktu telah berganti selama satu tahun penuh. Jika Metulen adalah dukungan di awal perjalanan, maka Metuwun adalah bentuk pelepasan yang tulus dan rasa syukur. Sifat upacara ini lebih kepada merayakan kenangan indah serta jasa-jasa almarhum yang telah ditinggalkan. Pada tahap ini, diyakini arwah sudah berada di tempat yang layak dan damai, sehingga upacara ini menjadi tanda bahwa rangkaian masa berkabung telah selesai, dan keluarga dapat kembali menjalani kehidupan dengan tenang, membawa serta kenangan manis dan doa restu dari leluhur.
 
Tradisi ini sangat istimewa karena menjadi identitas bahwa masyarakat Tejakula memiliki cara sendiri yang sangat indah dalam memandang kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah peralihan yang harus didampingi dengan ritual-ritual suci agar arwah dapat beristirahat dengan tenang dan senantiasa memberikan berkah bagi keturunannya. Melalui catatan-catatan dalam lontar yang tertulis dengan tinta emas ini, warisan budaya Metulen dan Metuwun tetap hidup dan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Desa Adat Tejakula hingga saat ini.

Tidak ada komentar: