17.10.24

Metulen dan Metuwun Adalah Tradisi Desa Tejakula Jaman Dahulu.

Desa Tejakula, terletak di pesisir utara Bali, menyimpan beragam tradisi unik yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakatnya. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keunikan budaya desa ini pernah ada, terutama dalam pelaksanaan upacara kematian. Sebelum tahun 1980, masyarakat Tejakula tidak mengenal upacara Ngaben, tetapi memiliki dua upacara penting yang berkaitan dengan Pitra Yadnya, yaitu Metulen dan Metuwun.

Metulen merupakan upacara yang dilaksanakan 42 hari setelah kematian seseorang. Angka 42 dalam tradisi Hindu Bali dianggap sebagai periode yang signifikan, di mana arwah diyakini telah memulai perjalanan menuju kehidupan selanjutnya. Upacara ini tidak hanya menjadi momen untuk mengenang dan menghormati almarhum, tetapi juga sebagai bentuk dukungan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dalam pelaksanaan Metulen, keluarga almarhum akan mengadakan ritual yang sangat khusus. Tradisi ini melibatkan partisipasi seluruh anggota keluarga serta masyarakat sekitar, yang datang untuk memberikan dukungan moral. Dalam suasana khidmat tersebut, diharapkan arwah almarhum mendapatkan penerimaan yang baik di alam baka.

Setelah Metulen, upacara selanjutnya adalah Metuwun, yang dilaksanakan pada hari genap satu tahun setelah kematian. Metuwun dianggap sebagai penutup dari rangkaian upacara Pitra Yadnya yang dilakukan oleh keluarga. Dalam upacara ini, keluarga kembali berkumpul untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada arwah.

Metuwun lebih bersifat merayakan, di mana keluarga mengenang kehidupan almarhum dan merayakan kenangan-kenangan indah yang telah dibagikan. Selain itu, upacara ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mempererat tali kekeluargaan dengan kerabat dan tetangga. Dalam suasana yang hangat dan penuh kasih sayang ini, masyarakat saling berbagi cerita dan kenangan tentang almarhum.

Era 1980 menjadi titik balik bagi masyarakat Tejakula, di mana mereka mulai mengenal upacara Ngaben. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga oleh pengaruh luar seperti interaksi dengan masyarakat luar. Namun, masyarakat Tejakula berupaya untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, sehingga keunikan budaya desa ini tetap terjaga.

Tradisi Metulen dan Metuwun di Desa Tejakula merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur masyarakat Bali yang menghormati dan menghargai arwah para leluhur. Meskipun Ngaben kini menjadi lebih dikenal, keberadaan kedua upacara ini tetap memberikan warna dan makna tersendiri dalam kehidupan spiritual masyarakat. Dalam perjalanan waktu, Tejakula terus beradaptasi sambil tetap memelihara warisan budaya yang berharga. Seiring dengan perkembangan zaman, penting bagi generasi muda untuk mengenali tradisi ini, agar tetap hidup dalam setiap denyut kehidupan masyarakat.






Tidak ada komentar: