17.10.24

Kapan Ngaben Mulai Dikenal di Tejakula?

Kapan Ngaben Mulai Dikenal di Tejakula?
 
Berdasarkan cerita tetua-tetua zaman dahulu, tradisi Ngaben mulai dikenal dan dilaksanakan di wilayah Tejakula sekitar tahun 1980-an. Peristiwa ini menjadi titik balik yang sangat besar dalam sejarah tata cara pengurusan jenazah di daerah tersebut. Perubahan besar ini ternyata tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa hal yang saling melengkapi: pertama, semakin terbukanya hubungan dan interaksi masyarakat Tejakula dengan masyarakat dari daerah-daerah lain di Pulau Bali, terutama dari wilayah Bali selatan yang sudah lama mengenal tradisi pembakaran jenazah. Kedua, pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama Hindu semakin merata dan semakin mendalam, sehingga tata cara Pitra Yadnya yang sesuai dengan kitab suci mulai dipahami dan diinginkan untuk dilaksanakan. Yang patut kita kagumi adalah semangat kebijaksanaan masyarakat setempat: mereka menerima tradisi baru itu dengan hati yang terbuka, namun tidak serta-merta meninggalkan nilai-nilai luhur dan kebiasaan baik yang telah diwariskan oleh leluhur sejak zaman dahulu.
 
Sebelum tradisi Ngaben dikenal dan diterima secara luas, masyarakat Tejakula sudah memiliki tata cara pengurusan jenazah yang tersusun rapi dan berjalan secara bertahap. Rangkaian upacara itu diawali dengan Metulen, yaitu upacara penghormatan yang dilaksanakan pada hari ke-12 setelah kematian, kemudian diulang kembali pada hari ke-100. Sebagai penutup dari seluruh rangkaian upacara Pitra Yadnya, lalu dilaksanakan upacara Metuwun yang jatuh pada hari genap tepat satu tahun setelah kematian. Dengan demikian, roh leluhur telah diupacarai secara berkesinambungan hingga dianggap selesai dan tenang, tanpa perlu dibakar jenazahnya.
 
Lantas, mengapa sejak dahulu masyarakat Tejakula tidak membakar jenazah seperti yang banyak dilakukan di daerah lain? Ternyata ada alasan yang sangat mendalam, baik dari segi tradisi maupun pertimbangan lokasi dan filosofi. Tejakula terletak di jalur pegunungan pantai utara Bali, berdekatan dengan Pura Dang Kahyangan yang sangat suci, yaitu Pura Ponjok Batu. Seperti halnya daerah-daerah pegunungan lain yang memiliki Pura Kahyangan Jagat di atas dataran tinggi, masyarakat merasa khawatir jika jenazah dibakar, asap yang timbul dari pembakaran itu akan melintas dan mencemari kesucian tempat suci yang berada di atasnya. Oleh karena itu, penguburan ke dalam tanah menjadi pilihan yang paling diutamakan — prinsip ini sangat mirip dengan tradisi Ngaben Beya Tanem yang berlaku di daerah-daerah pegunungan lain di Bali, yang menempatkan penghormatan kepada kesucian alam dan tempat suci di atas segalanya.
 
Sejak tradisi Ngaben mulai diterima pada tahun 1980-an, tata cara pengurusan jenazah di Tejakula terus berkembang dengan cara yang sangat indah. Masyarakat melaksanakannya dengan menggabungkan tata cara yang berlaku secara umum dalam ajaran Hindu, namun tetap menyisipkan nilai-nilai dan adat istiadat yang sudah turun-temurun dijalankan di daerah mereka. Bade dan Patulangan pun mulai dibuat sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga, namun tetap menjaga kesederhanaan yang menjadi ciri khas masyarakat Bali Utara. Demi kemudahan dan keadilan bagi semua, banyak keluarga yang memilih mengubur jenazah sementara terlebih dahulu, lalu melaksanakan pembakaran bersama-sama atau secara massal agar biaya menjadi lebih ringan dan beban tidak terlalu berat bagi salah satu pihak.
 
Maka dapatlah kita simpulkan dengan bijaksana: tradisi Ngaben di Tejakula adalah sebuah tradisi yang relatif baru, mulai dikenal dan meluas sejak tahun 1980-an. Sebelum masa itu, masyarakat lebih banyak mengubur jenazah sesuai dengan adat leluhur yang sudah berjalan ribuan tahun. Seiring terbukanya hubungan antarwilayah dan semakin dalamnya pemahaman terhadap ajaran agama Hindu, Ngaben pun akhirnya diterima dan dilaksanakan dengan penuh ketulusan hati. Yang paling indah dari perubahan ini adalah bagaimana masyarakat Tejakula mampu memadukan yang baru dengan yang lama — menerima yang datang dari luar, namun tidak pernah melupakan dan meninggalkan warisan luhur yang dititipkan leluhur mereka sejak zaman dahulu.
 

Tidak ada komentar: