17.10.24

Dongeng Asal Usul Nama Desa Tejakula

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Di lereng Gunung, di sebuah lembah yang subur dan dialiri sungai jernih, terhamparlah Desa Hiliran.  Kehidupan di desa itu tenang dan damai, irama kehidupan diatur oleh detak jantung alam: gemericik air sungai, kicau burung, dan semilir angin yang membawa aroma padi dan bunga kembang sepatu.  Rumah-rumah penduduk berderet rapi, terbuat dari kayu dan bambu, atapnya menjulang tinggi seperti menyambut langit.  Masyarakatnya hidup rukun, saling membantu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong.  Mereka menggantungkan hidup pada pertanian, ladang-ladang mereka menghasilkan padi yang melimpah, buah-buahan yang manis, dan sayur-mayur yang segar.
 
Suatu malam, langit Hiliran dihiasi taburan bintang yang begitu gemerlap.  Bintang-bintang itu seakan berbisik, menceritakan kisah-kisah dari zaman dahulu kala.  Namun, malam itu berbeda.  Sebuah cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul di langit, membelah kegelapan malam.  Cahaya itu semakin membesar, menukik tajam ke bumi, dan jatuh tepat di tengah-tengah Desa Hiliran.  Seketika, desa itu dipenuhi cahaya yang menyinari setiap sudut, menerangi wajah-wajah penduduk yang tertegun.  Cahaya itu kemudian meredup, meninggalkan sebuah batu yang memancarkan sinar lembut, seperti cahaya bulan purnama.  Batu itu terasa hangat, dan memancarkan aura yang menenangkan.
 
Kejadian itu menggemparkan seluruh penduduk Desa Hiliran.  Mereka berkumpul, saling berbisik, mencoba memahami peristiwa yang baru saja terjadi.  Para tetua desa, yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan luas, mulai menafsirkan kejadian tersebut.  Mereka berunding berhari-hari, menelusuri kitab-kitab kuno dan mempelajari ramalan-ramalan nenek moyang.  Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan: cahaya yang jatuh dari langit itu adalah pertanda baik, sebuah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.  Batu yang bersinar itu, menurut mereka, adalah simbol kekuatan, keberuntungan, dan kesucian.
 
Setelah bermusyawarah panjang, penduduk Desa Hiliran sepakat untuk mengganti nama desa mereka.  Nama "Hiliran," yang berarti "bagian bawah" atau " bagian pinggir"dianggap sudah tidak lagi relevan.  Mereka memilih nama baru yang mencerminkan keajaiban yang telah terjadi. Yaitu Tejakula.  "Teja," dalam bahasa Sansekerta, berarti "sinar" atau "cahaya," sedangkan "Kula," dalam bahasa Kawi, berarti "batu."  Jadi, Tejakula berarti "batu yang bersinar," sebuah nama yang menggambarkan batu ajaib yang jatuh dari langit dan membawa berkah bagi desa mereka.
 
Sejak saat itu, Desa Tejakula berkembang pesat.  Pertanian mereka semakin subur, hasil panen melimpah ruah.  Kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kehidupan mereka dipenuhi kedamaian dan kemakmuran.  Batu yang bersinar itu, meskipun keberadaannya kini tak lagi diketahui secara pasti, tetap menjadi legenda yang diwariskan turun-temurun.  Dan menjadi simbol persatuan, keberanian, dan keteguhan hati masyarakat Desa Tejakula, sebuah pengingat akan keajaiban yang pernah terjadi dan menjadi pendorong semangat untuk terus membangun desa mereka yang tercinta.  

Tidak ada komentar: