Pura Taman Pecampuhan Sala terletak di Banjar Sala, Desa Abuan, Kecamatan Susut, Kabupaten Bangli, Bali. Pura ini memiliki akses yang cukup mudah dijangkau menggunakan kendaraan pribadi, meskipun pengunjung harus menuruni sekitar 100 meter anak tangga dari tempat parkir untuk mencapai area pura. Suasana di sekitar pura sangat alami dan tenang, menambah kekhidmatan bagi siapa saja yang datang untuk melukat, yakni ritual penyucian diri dalam tradisi Hindu. Pura Taman Pecampuhan Sala buka setiap hari mulai pukul delapan pagi hingga enam sore. Namun, pada hari-hari tertentu, seperti Purnama, Tilem, atau hari suci Hindu lainnya seperti Anggarkasih, pura ini cenderung ramai dikunjungi oleh umat yang ingin melaksanakan ritual melukat. Selain hari-hari tersebut, pengunjung juga sering datang di hari libur atau saat mereka membutuhkan penyucian spiritual. Alur pelaksanaan melukat di Pura Taman Pecampuhan Sala dimulai dengan persembahyangan di pelinggih yang terletak di depan tempat melukat. Setelah itu, pengunjung akan mengikuti rangkaian ritual yang dimulai di Sungai Campuhan, yang memiliki air yang diyakini mampu membersihkan segala hal negatif dalam diri. Dari sana, perjalanan berlanjut ke Sungai Grojogan Pesiraman Dedari yang terletak di sebelah kanan dan berdekatan dengan air terjun. Pengunjung kemudian melanjutkan ritual melukat di Pancoran Tirta Prapen, diikuti dengan doa di Watu Lingga. Setiap langkah dalam perjalanan ini memiliki makna dan tujuan spiritual, membawa mereka lebih dekat pada pembersihan diri secara lahir dan batin. Rangkaian melukat berikutnya adalah di Pancoran Tirta Pule dan dilanjutkan menuju Sungai Grojogan Pesiraman Tan Hana yang terletak di sebelah kiri. Di sini, pengunjung diberikan kesempatan untuk berteriak, mengeluarkan semua hal negatif yang ada dalam diri mereka. Ritual ini dipercaya sebagai cara untuk membebaskan diri dari beban emosional atau energi negatif yang mungkin menghalangi keseimbangan jiwa dan tubuh. Setelah melukat di air terjun tersebut, pengunjung melanjutkan perjalanan dengan melukat di Pancoran Tirta Bolakan dan Pancoran Tirta Taman, di mana mereka kembali menjalani proses penyucian diri. Selanjutnya, perjalanan berlanjut menuju Tirta Bumbung, dan akhirnya ditutup dengan doa di Pura Taman. Bagi pengunjung yang baru pertama kali melakukan melukat di Pura Taman Pecampuhan Sala, ada beberapa sarana yang perlu dipersiapkan. Pengunjung diharuskan membawa banten pejati yang diletakkan di tempat melukat dan satu lagi di Pura Taman. Selain itu, mereka juga perlu membawa canang sari 15 tanding dan bunga untuk sembahyang. Pada hari-hari tertentu, pemangku dan pecalang akan siaga untuk menjaga kelancaran ritual dan keamanan di pura. Setelah selesai melaksanakan ritual melukat, pengunjung tidak perlu khawatir untuk berganti pakaian. Pura Taman Pecampuhan Sala menyediakan fasilitas ruang ganti yang terpisah antara laki-laki dan perempuan, memberikan kenyamanan dan privasi bagi para pengunjung. Fasilitas ini memungkinkan para umat untuk berpakaian kembali dengan tenang setelah melakukan ritual pembersihan diri. Secara keseluruhan, Pura Taman Pecampuhan Sala adalah tempat yang sangat cocok bagi siapa saja yang ingin menjalani proses spiritual dan mencari kedamaian batin. Keindahan alam sekitar yang sejuk serta aliran air yang jernih menjadi pendamping yang sempurna dalam menjalani ritual melukat, yang tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga jiwa.