10.12.25

Kayoan Tejakula.

Kayoan Tejakula, atau Pemandian Umum Tejakula, adalah sebuah tempat mandi umum yang terletak di Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Tempat ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dan masih digunakan hingga hari ini. Kayoan Tejakula bukan hanya sekadar tempat membersihkan tubuh, tetapi juga ruang untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

Kayoan Tejakula memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak zaman penjajahan Belanda. Pada saat itu, tempat ini digunakan sebagai lokasi pemandian kuda putih milik para pejabat kolonial. Setelah kemerdekaan, Kayoan Tejakula menjadi tempat pemandian umum yang digunakan oleh masyarakat setempat.

Kayoan Tejakula memiliki beberapa fitur yang unik, antara lain:

1) Air di Kayoan Tejakula berasal langsung dari Desa Kutuh, di lereng Danau Batur, sehingga sangat segar dan alami.

2) Kayoan Tejakula memiliki pemandian terpisah untuk pria dan wanita, sehingga masyarakat setempat dapat mandi dengan bebas dan nyaman.
3) Kayoan Tejakula memiliki ukiran-ukiran tradisional Bali yang menghiasi dinding, menambah keindahan dan nilai budaya.

Kayoan Tejakula mengandung nilai filosofis yang dalam, yaitu:

1) Kayoan Tejakula merupakan tempat untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

2) Kayoan Tejakula mengajarkan pengendalian diri dan menghormati orang lain.

3) Kayoan Tejakula merupakan contoh kesederhanaan dan kehidupan yang sederhana.

Sejarah Desa Tejakula.

Desa Tejakula, yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan perdagangan kuno, pengaruh budaya luar, dan perkembangannya menjadi tempat yang kaya akan warisan budaya. Berikut adalah ringkasan sejarahnya.
 
Sejak abad ke-9 Masehi, Tejakula dikenal sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan Bali dengan wilayah lain, terutama Pulau Jawa, Sriwijaya, dan bahkan negara-negara Asia Tenggara. Nama "Tejakula" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Teja" yang berarti sinar dan "Kula" berarti batu, yang dipercaya merujuk pada batu bersinar. kemungkinan karena peranannya sebagai pelabuhan yang ramai dan terang malam hari.
 
Pada masa itu, Tejakula menjadi pintu masuk barang-barang berharga seperti rempah-rempah, tembaga, dan kain, serta sarana pertukaran budaya dan agama. Pengaruh agama Hindu dari Jawa dan India mulai masuk ke daerah ini, yang terlihat dari pembangunan candi-candi kuno.
 
Pada abad ke-19 Masehi, Bali termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Ketika Belanda menduduki Bali pada awal abad ke-20, Tejakula menjadi bagian dari wilayah pemerintahan kolonial. Meskipun demikian, budaya dan tradisi lokal tetap terjaga dengan baik.
 
Setelah kemerdekaan Indonesia, Tejakula berkembang sebagai daerah pertanian. dan kemudian mulai dikenal sebagai destinasi wisata pada akhir abad ke-20. Keindahan pantai, pura, dan kehidupan masyarakat lokal yang asli menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri.
 
Hari ini, Tejakula adalah desa yang menggabungkan keindahan alam (pantai, gunung, dan sungai) dengan warisan budaya yang kaya. Wisatawan dapat mengunjungi dan menyaksikan upacara tradisional, atau hanya bersantai di pantai yang tenang. Desa ini juga dikenal dengan ukiran dari pasir hitam.