30.1.26

Legenda Bukit Sangkur di Desa Tejakula

Pada masa lampau, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tejakula, hidup seorang pria bernama Pak Wayan yang sangat gemar berjudi dan mengasuh ayam jago. Ia memiliki sepasang ayam jago jenis khas lokal yang disebut ayam sangkur—dikenal dengan bulu yang gagah, kaki yang kuat, dan kecepatan serta kehebatan dalam adu ayam yang tak tertandingi.
 
Pak Wayan sering mengadakan ajang adu ayam di sekitar lereng bukit yang masih tak bernama. Ia terkenal sebagai penjudi yang jujur, selalu menghormati aturan dan tidak pernah mengkhianati lawan mainnya. Meskipun suka berjudi, ia juga sering berbagi rejekinya dengan warga yang membutuhkan, sehingga banyak yang menghargainya.
 
Suatu ketika, sebuah wabah melanda desa dan banyak orang menderita kelaparan. Pak Wayan menggunakan semua harta yang dimilikinya dari hasil perjudian untuk membeli makanan dan membantu masyarakat. Ketika ia tidak punya lagi apa-apa, bahkan harus menjual ayam sangkur kesayangannya untuk menyelamatkan lebih banyak orang.
 
Setelah wabah berlalu dan desa kembali damai, Pak Wayan wafat karena kelelahan. Tak lama kemudian, bukit yang dulu menjadi tempat ia mengadakan adu ayam mulai menunjukkan keajaiban—banyak ayam sangkur yang muncul di sekitarnya, dan warga sering merasakan kehadiran yang melindungi mereka dari bahaya. Masyarakat yakin bahwa roh Pak Wayan telah menjadi penjaga bukit tersebut, bersama dengan roh ayam sangkur kesayangannya.
 
Untuk menghormati jasanya dan makhluk kesayangannya, bukit tersebut kemudian dinamakan Bukit Sangkur, dan hingga kini diyakini sebagai tempat tinggal roh penjudi baik hati dan ayam sangkurnya yang selalu melindungi Desa Tejakula.
 
( Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang ditulis oleh Made Budilana)

Legenda Bukit Ngandang di Desa Tejakula.

Pada zaman dahulu kala, di Desa Tejakula yang damai, hiduplah seorang wanita muda yang baik hati bernama Ni Luh. Ia sangat menghormati ibu mertuanya, Ibu Made, yang sudah berusia lanjut dan memiliki banyak uban di kepalanya.
 
Suatu sore yang tenang, Ni Luh sedang duduk di halaman rumah, membantu Ibu Made mencabut uban satu per satu dengan hati-hati. Keduanya sedang berbincang santai tentang kehidupan desa, ketika tiba-tiba ada suara gemuruh yang lembut datang dari kejauhan. Ni Luh mengangkat pandang dan terkejut luar biasa—sebuah bukit yang biasanya berdiri kokoh di kejauhan ternyata sedang bergerak perlahan menuju arah mereka!
 
Matanya melebar kaget, tangannya yang sedang memegang uban pun terhenti seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap dengan tercengang pada bukit yang berjalan itu. Saat rasa terkejutnya muncul, dengan cepat bukit itu berhenti total dan tidak lagi bergerak sama sekali.
 
Sejak saat itu, bukit tersebut tidak pernah bergerak lagi. Masyarakat Desa Tejakula kemudian memberi nama Bukit Ngandang pada bukit tersebut, karena dalam bahasa Bali, "ngandang" berarti diam atau tidak bergerak. Kisah ini pun diteruskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

(Cerita ini ditulis oleh Made Budilana)