19.3.26

Tradisi Perang Sambuk Di Desa Tejakula.

Tradisi Perang Sambuk di Desa Tejakula adalah sebuah ritual unik yang dilaksanakan sehari sebelum Hari Raya Nyepi, tepatnya pada hari Pengerupukan. Tradisi ini melibatkan dua kelompok pemuda, yaitu Wong Kaja (kelompok utara) dan Wong Kelod (kelompok selatan), yang saling melempar sabut kelapa yang telah dibakar.

Tradisi Perang Sambuk bertujuan untuk menolak bala dan menetralisir hal-hal negatif di lingkungan desa. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat menjaga keseimbangan alam dan mengusir roh-roh jahat.

Berikut ini adalah Prosesi perang sambuk. Diantaranya:

1. Sebelum tradisi dimulai, peserta melakukan ritual "nunas tirta" dan berdoa bersama.
2. Dua kelompok pemuda, Wong Kaja dan Wong Kelod, siap dengan sabut kelapa yang telah dibakar.
3. Dengan iringan Gamelan Bale Ganjur, kedua kelompok saling melempar sabut kelapa.
4. Tradisi berakhir ketika salah satu kelompok kelelahan dan tidak dapat melanjutkan.

Meskipun melibatkan pelemparan sabut kelapa yang dibakar, tidak ada laporan cedera atau kebakaran. Setelah tradisi selesai, peserta berkumpul dan saling memberi tirta, bersalaman, dan merangkul satu sama lain.

Tradisi Perang Sambuk di Desa Tejakula merupakan contoh kekayaan budaya Bali yang unik dan menarik.

26.2.26

Sejarah Pantai Bantes di Desa Tejakula.

Pantai Bantes yang terletak di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, bukan hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga menyimpan jejak panjang aktivitas maritim yang telah ada sejak masa lalu. Menurut hasil penelitian arkeologi, wilayah Tejakula—termasuk Pantai Bantes—merupakan bagian penting dari jalur perdagangan internasional pada abad pertama Masehi.
 
Temuan arkeologis menjadi bukti nyata tentang pentingnya wilayah ini dalam perdagangan masa lalu. Di Pantai Bangsal yang berdekatan dengan Pantai Bantes, telah ditemukan gerabah berasal dari India serta struktur batu padas yang menunjukkan adanya aktivitas pelabuhan pada masa kuno. Benda-benda ini mengindikasikan bahwa wilayah ini pernah menjadi salah satu titik temu atau pelabuhan untuk kapal-kapal yang melakukan perdagangan lintas benua.
 
Nama "Bantes" diperkirakan berasal dari adanya struktur batu padas di sekitar pantai, yang diduga merupakan bekas sisa bangunan atau bagian dari pelabuhan kuno yang pernah beroperasi. Selain itu, wilayah Pantai Bantes juga memiliki potensi arkeologi maritim yang signifikan, dengan temuan gerabah dan struktur bawah laut yang mengkonfirmasi adanya aktivitas manusia yang intens di kawasan ini pada masa lampau.
 
 
 

Pantai Bembeng Di Desa Tejakula.

Pantai Bembeng terletak di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Nama "Bembeng" sendiri diambil dari bahasa Bali yang berarti "menutup" atau "tertutup", sesuai dengan karakteristik pantainya yang relatif terlindungi dan tidak terpapar langsung ombak besar dari lautan Jawa.
 
Pantai Bembeng memiliki bentuk cekungan yang membuatnya terkesan "tertutup", sehingga ombaknya umumnya tenang dan aman untuk berenang atau sekadar bermain air bersama keluarga. Pasir pantainya berwarna kecoklatan dengan tekstur yang lembut, .
 
Meskipun belum terlalu dikenal dibandingkan pantai-pantai besar di Bali, Pantai Bembeng menawarkan pengalaman wisata yang tenang dan jauh dari keramaian. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di sini antara lain berenang, berjemur, serta jalan-jalan menikmati pemandangan matahari terbenam, serta eksplorasi sekitar pantai untuk menemukan keindahan alam tersembunyi.
 
Desa Tejakula sendiri juga kaya akan budaya Bali asli, sehingga wisatawan bisa menggabungkan kunjungan ke Pantai Bembeng dengan mengunjungi pura-pura lokal atau mencicipi masakan khas daerah.
 
Untuk mencapai Pantai Bembeng, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau sewaan dari kota Singaraja sekitar 30-40 menit perjalanan. 

30.1.26

Legenda Bukit Sangkur di Desa Tejakula

Pada masa lampau, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tejakula, hidup seorang pria bernama Pak Wayan yang sangat gemar berjudi dan mengasuh ayam jago. Ia memiliki sepasang ayam jago jenis khas lokal yang disebut ayam sangkur—dikenal dengan bulu yang gagah, kaki yang kuat, dan kecepatan serta kehebatan dalam adu ayam yang tak tertandingi.
 
Pak Wayan sering mengadakan ajang adu ayam di sekitar lereng bukit yang masih tak bernama. Ia terkenal sebagai penjudi yang jujur, selalu menghormati aturan dan tidak pernah mengkhianati lawan mainnya. Meskipun suka berjudi, ia juga sering berbagi rejekinya dengan warga yang membutuhkan, sehingga banyak yang menghargainya.
 
Suatu ketika, sebuah wabah melanda desa dan banyak orang menderita kelaparan. Pak Wayan menggunakan semua harta yang dimilikinya dari hasil perjudian untuk membeli makanan dan membantu masyarakat. Ketika ia tidak punya lagi apa-apa, bahkan harus menjual ayam sangkur kesayangannya untuk menyelamatkan lebih banyak orang.
 
Setelah wabah berlalu dan desa kembali damai, Pak Wayan wafat karena kelelahan. Tak lama kemudian, bukit yang dulu menjadi tempat ia mengadakan adu ayam mulai menunjukkan keajaiban—banyak ayam sangkur yang muncul di sekitarnya, dan warga sering merasakan kehadiran yang melindungi mereka dari bahaya. Masyarakat yakin bahwa roh Pak Wayan telah menjadi penjaga bukit tersebut, bersama dengan roh ayam sangkur kesayangannya.
 
Untuk menghormati jasanya dan makhluk kesayangannya, bukit tersebut kemudian dinamakan Bukit Sangkur, dan hingga kini diyakini sebagai tempat tinggal roh penjudi baik hati dan ayam sangkurnya yang selalu melindungi Desa Tejakula.
 
( Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang ditulis oleh Made Budilana)

Legenda Bukit Ngandang di Desa Tejakula.

Pada zaman dahulu kala, di Desa Tejakula yang damai, hiduplah seorang wanita muda yang baik hati bernama Ni Luh. Ia sangat menghormati ibu mertuanya, Ibu Made, yang sudah berusia lanjut dan memiliki banyak uban di kepalanya.
 
Suatu sore yang tenang, Ni Luh sedang duduk di halaman rumah, membantu Ibu Made mencabut uban satu per satu dengan hati-hati. Keduanya sedang berbincang santai tentang kehidupan desa, ketika tiba-tiba ada suara gemuruh yang lembut datang dari kejauhan. Ni Luh mengangkat pandang dan terkejut luar biasa—sebuah bukit yang biasanya berdiri kokoh di kejauhan ternyata sedang bergerak perlahan menuju arah mereka!
 
Matanya melebar kaget, tangannya yang sedang memegang uban pun terhenti seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap dengan tercengang pada bukit yang berjalan itu. Saat rasa terkejutnya muncul, dengan cepat bukit itu berhenti total dan tidak lagi bergerak sama sekali.
 
Sejak saat itu, bukit tersebut tidak pernah bergerak lagi. Masyarakat Desa Tejakula kemudian memberi nama Bukit Ngandang pada bukit tersebut, karena dalam bahasa Bali, "ngandang" berarti diam atau tidak bergerak. Kisah ini pun diteruskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

(Cerita ini ditulis oleh Made Budilana)