28.9.25

Kuliner Khas Desa Tejakula.

Tejakula, sebuah kecamatan yang terletak di Buleleng, Bali, tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan kuliner yang menggugah selera. Jika Anda berencana mengunjungi Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan-hidangan khasnya yang unik dan lezat.
 
Bubur Mengguh: Kelezatan yang Menghangatkan Hati
 
Salah satu hidangan yang wajib dicoba adalah Bubur Mengguh. Sekilas, bubur ini memang mirip dengan bubur ayam Jakarta yang populer. Namun, ada sentuhan khas Bali yang membuatnya istimewa. Bubur Mengguh dimasak dengan santan, memberikan tekstur yang lembut dan rasa yang gurih. Disajikan dengan kuah kaldu ayam yang kaya rempah, suwiran ayam yang lezat, dan taburan kacang tanah goreng yang renyah, Bubur Mengguh adalah hidangan yang sempurna untuk menghangatkan hati dan memanjakan lidah Anda.
 
Ikan Bakar: Kenikmatan Seafood Segar di Tepi Pantai
 
Sebagai daerah pesisir, Tejakula juga terkenal dengan hidangan lautnya yang segar. Salah satu yang paling populer adalah ikan bakar. Anda dapat menemukan berbagai warung makan yang menawarkan menu ikan bakar dengan bumbu-bumbu khas Bali yang menggugah selera. Salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Warung Sukun Spesial Ikan Bakar, yang terkenal dengan ikan bakarnya yang lezat dan segar.
 
Nasi Campur Bali: Harmoni Rasa dalam Setiap Sajian
 
Jika Anda ingin mencicipi berbagai macam hidangan Bali dalam satu piring, Nasi Campur Bali adalah pilihan yang tepat. Di Tejakula, Anda dapat menemukan hidangan ini dengan mudah di berbagai warung makan dan restoran. Nasi Campur Bali biasanya terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan berbagai lauk seperti ayam betutu, lawar, sate lilit, sayur urap, dan sambal matah yang pedas.
 
Sate Lilit: Kelezatan Daging yang Lembut dan Kaya Rempah
 
Sate Lilit adalah hidangan khas Bali yang terbuat dari daging cincang yang dililitkan pada batang serai atau bambu, kemudian dibakar. Daging yang digunakan bisa berupa daging ayam, ikan, atau daging babi. Sate Lilit memiliki rasa yang kaya rempah dan tekstur yang lembut. Di Tejakula, Anda dapat menemukan sate lilit yang lezat di berbagai warung makan dan restoran.
 
Dengan kekayaan alam dan budayanya, Tejakula menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Jadi, jangan ragu untuk menjelajahi kelezatan kuliner khas Tejakula saat Anda berkunjung ke sana!

12.7.25

Tipat Cantok: Sajian Khas Tejakula yang Menggugah Selera.

Tipat Cantok, atau yang sering disebut juga dengan Santokan, merupakan salah satu hidangan khas Tejakula yang kaya rasa dan tekstur.  Sajian ini memadukan kelembutan ketupat (tipat dalam bahasa Bali) dengan berbagai sayuran rebus yang dipadu dengan bumbu kacang yang lezat.  "Cantok" sendiri berarti diuleg atau dihaluskan, merujuk pada proses pembuatan bumbu kacangnya yang diulek hingga halus.
 
Kombinasi sayuran yang umumnya digunakan adalah kacang panjang, tauge, dan kangkung, menciptakan perpaduan rasa dan tekstur yang unik.  Sayuran rebus yang segar berpadu sempurna dengan gurihnya bumbu kacang, menghasilkan cita rasa yang begitu khas dan menggugah selera.
 
Keunikan Tipat Cantok tak berhenti sampai di situ. Di beberapa daerah, seperti Tejakula di Kabupaten Buleleng Timur,  hidangan ini  ditambahkan dengan Mengguh atau bubur baik Mengguh Cine  maupun Mengguh.Sela. Penambahan Mengguh semakin menambah kekayaan rasa dan tekstur Tipat Cantok, memberikan pengalaman kuliner yang lebih lengkap dan memuaskan.
 
Tipat Cantok bukan sekadar makanan, melainkan juga representasi kekayaan kuliner Tejakula.  Sajian sederhana ini mampu menyatukan cita rasa lokal dengan teknik pengolahan yang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang luar biasa.  Jika Anda berkunjung ke Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan Tipat Cantok, untuk merasakan variasi unik dengan tambahan Mengguh.

4.2.25

"Keindahan dan Sejarah Pelabuhan Buleleng"

Singaraja adalah kota tua di ujung utara Bali yang pernah menjadi ibu kota Nusa Tenggara dan pusat pelayaran penting dengan Pelabuhan Buleleng sebagai dermaganya. Pelabuhan ini berjarak 2,5 km dari pusat kota Singaraja dan dapat dicapai dalam 15 menit perjalanan. Biaya retribusi parkir di pelabuhan sangat terjangkau.

Namun, sejak pemerintahan Bali dipindahkan ke selatan pada 1950, kejayaan pelabuhan mulai pudar. Pelabuhan Buleleng yang dahulu ramai dengan kapal pesiar dan bongkar muat barang kini tinggal kenangan, dengan beberapa bangunan tua yang dibiarkan kosong. Di pelabuhan ini juga pernah terjadi peristiwa bersejarah perlawanan masyarakat Indonesia terhadap Belanda, yang diabadikan dengan tugu Yudha Mandala Tama pada 1987.

Sejak 2005, kawasan ini mulai ditata dengan taman dan restoran terapung. Pelabuhan Buleleng kini menjadi tempat rekreasi, dengan masyarakat yang berolahraga ringan atau memancing di sekitar dermaga. Panorama sunset di sini juga terkenal indah. Banyak pedagang kaki lima menawarkan makanan dengan harga terjangkau, sementara restoran terapung menyediakan kuliner eksklusif.

Di sekitar pelabuhan terdapat pula tempat ibadah, seperti pura segara dengan arsitektur Bali-Cina, dan klenteng Ling Gwan Kiong yang masih aktif digunakan untuk ibadah dan pernikahan. Pengunjung dapat mengunjungi klenteng ini dan melihat-lihat di dalamnya.

15.12.24

"Menelusuri Keindahan Alam Buleleng: Destinasi Wisata Tersembunyi di Bali Utara"

Bali dikenal dengan pesona alamnya yang luar biasa, dan salah satu wilayah yang menyimpan keindahan alam yang tak kalah menarik adalah Buleleng, yang terletak di Bali Utara. Di sini, pengunjung dapat menemukan berbagai destinasi wisata alam yang memukau, mulai dari air terjun yang megah hingga situs bersejarah yang sarat makna. Buleleng menawarkan tempat-tempat yang masih alami dan jauh dari keramaian, memberikan pengalaman liburan yang menenangkan dan penuh keindahan.

Salah satu destinasi yang wajib dikunjungi adalah Air Terjun Carat, yang terletak di Dusun Carat, Desa Tamblang, Kecamatan Kubutambahan. Meskipun nama air terjun ini belum sepopuler Air Terjun Git Git, keindahannya tidak kalah menawan. Dengan ketinggian sekitar 100 meter, Air Terjun Carat dikelilingi oleh tebing-tebing tinggi yang membuat suasana sekitar semakin dramatis. Suara gemuruh air yang jatuh dari ketinggian dan udara segar yang menyegarkan menambah daya tarik tempat ini. Pengunjung dapat menikmati keindahan alam yang masih sangat alami, dengan panorama hutan tropis yang memukau. Namun, penting untuk selalu menjaga etika dan kelestarian lingkungan sekitar agar keindahan alam ini tetap terjaga untuk generasi mendatang.

Tidak jauh dari air terjun, pengunjung juga dapat mengunjungi Situs Candi Budha Kalibukbuk yang terletak di Banjar Kalibukbuk, Pantai Lovina. Situs bersejarah ini memiliki nilai spiritual yang tinggi, karena berupa stupa yang digunakan untuk pemujaan oleh umat Hindu dan Buddha. Candi ini menjadi tempat persembahyangan terutama pada hari raya Saraswati, yang merupakan hari penting dalam kalender Hindu. Candi Budha Kalibukbuk telah dipugar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Bali, sehingga pengunjung dapat menikmati keindahan dan keasliannya yang terjaga dengan baik. Selain itu, suasana sekitar yang tenang dan dekat dengan Pantai Lovina membuat situs ini menjadi tempat yang cocok untuk berelaksasi dan menyelami kedamaian spiritual.

Satu lagi tempat yang tak boleh dilewatkan adalah Air Terjun Wana Ayu, yang juga dikenal dengan nama Padang Bulia Waterfall. Terletak di Dusun Runuh Kubu, Desa Padang Bulia, air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 35 meter. Dengan suasana yang masih sangat alami dan tenang, Air Terjun Wana Ayu memberikan pengalaman berlibur yang penuh ketenangan. Meski fasilitas yang ada di sekitar air terjun belum sepenuhnya lengkap, keindahan alam yang disajikan tetap mampu memikat hati para pengunjung. Suara gemericik air yang jatuh dengan lembut ke kolam di bawahnya dan dikelilingi pepohonan hijau memberikan kesan seolah berada di tengah hutan tropis yang tak terjamah. Bagi mereka yang mencari kedamaian dan keindahan alam Bali yang otentik, air terjun ini adalah pilihan yang sempurna.

Ketiga tempat ini memberikan gambaran tentang keindahan alam Buleleng yang memukau, menawarkan ketenangan dan kedamaian bagi siapa saja yang mengunjunginya. Dengan pemandangan yang mempesona dan suasana yang masih alami, Buleleng menjadi destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk-pikuk kehidupan kota. Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan alam Bali Utara yang tidak terlalu ramai, tempat-tempat ini patut dimasukkan dalam daftar destinasi wisata Anda.

29.10.24

Air Terjun Yeh Mampeh: Pesona Tersembunyi di Desa Les, Tejakula

Tersembunyi di tengah kehijauan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat sebuah permata alam yang menakjubkan: Air Terjun Yeh Mampeh. Juga dikenal sebagai Air Terjun Les, tempat ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang menenangkan, menjadikannya destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota.
 
Nama "Yeh Mampeh" memiliki arti yang kuat dalam bahasa Bali. "Yeh" berarti air, sedangkan "mampeh" berarti terbang. Nama ini sangat cocok menggambarkan air terjun ini, yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air yang jatuh dari ketinggian tersebut terlihat seperti terbang di udara, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
 
Selain keindahan air terjunnya yang mempesona, kawasan Air Terjun Yeh Mampeh juga menyimpan keajaiban lain: mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat bernama Toya Anakan. Mata air ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Les. Airnya digunakan untuk berbagai upacara keagamaan Yadnya, mencerminkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap alam.
 
Bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual yang mendalam, pengunjung diperbolehkan untuk melukat di Toya Anakan. Melukat adalah ritual penyucian diri yang dilakukan dengan menggunakan air suci. Namun, penting untuk diingat bahwa ada aturan yang harus diikuti saat melukat di sini, seperti mengenakan pakaian adat Bali dan memastikan tidak sedang dalam keadaan datang bulan.
 
Air Terjun Yeh Mampeh bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar melihat pemandangan indah, Air Terjun Yeh Mampeh adalah destinasi yang tepat untuk Anda.

27.10.24

Nama-Nama Pantai Di Tejakula.

(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)

Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

1. Pantai Camplung

Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar. 

2. Pantai Sekar

Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.

Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.

3. Pantai Segara

Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.

Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.

4. Pantai Penyorogan

Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.

Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.

5. Pantai Kayu Dui

Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.

Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.

6. Pantai Kapal

Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.

Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.

7. Pantai Bantes

Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.

Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.

17.10.24

Metulen dan Metuwun Adalah Tradisi Desa Tejakula Jaman Dahulu.

Desa Tejakula, terletak di pesisir utara Bali, menyimpan beragam tradisi unik yang menjadi bagian integral dari kehidupan masyarakatnya. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, keunikan budaya desa ini pernah ada, terutama dalam pelaksanaan upacara kematian. Sebelum tahun 1980, masyarakat Tejakula tidak mengenal upacara Ngaben, tetapi memiliki dua upacara penting yang berkaitan dengan Pitra Yadnya, yaitu Metulen dan Metuwun.

Metulen merupakan upacara yang dilaksanakan 42 hari setelah kematian seseorang. Angka 42 dalam tradisi Hindu Bali dianggap sebagai periode yang signifikan, di mana arwah diyakini telah memulai perjalanan menuju kehidupan selanjutnya. Upacara ini tidak hanya menjadi momen untuk mengenang dan menghormati almarhum, tetapi juga sebagai bentuk dukungan spiritual bagi keluarga yang ditinggalkan.

Dalam pelaksanaan Metulen, keluarga almarhum akan mengadakan ritual yang sangat khusus. Tradisi ini melibatkan partisipasi seluruh anggota keluarga serta masyarakat sekitar, yang datang untuk memberikan dukungan moral. Dalam suasana khidmat tersebut, diharapkan arwah almarhum mendapatkan penerimaan yang baik di alam baka.

Setelah Metulen, upacara selanjutnya adalah Metuwun, yang dilaksanakan pada hari genap satu tahun setelah kematian. Metuwun dianggap sebagai penutup dari rangkaian upacara Pitra Yadnya yang dilakukan oleh keluarga. Dalam upacara ini, keluarga kembali berkumpul untuk berdoa dan memberikan persembahan kepada arwah.

Metuwun lebih bersifat merayakan, di mana keluarga mengenang kehidupan almarhum dan merayakan kenangan-kenangan indah yang telah dibagikan. Selain itu, upacara ini juga menjadi kesempatan bagi keluarga untuk mempererat tali kekeluargaan dengan kerabat dan tetangga. Dalam suasana yang hangat dan penuh kasih sayang ini, masyarakat saling berbagi cerita dan kenangan tentang almarhum.

Era 1980 menjadi titik balik bagi masyarakat Tejakula, di mana mereka mulai mengenal upacara Ngaben. Perubahan ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor internal, tetapi juga oleh pengaruh luar seperti interaksi dengan masyarakat luar. Namun, masyarakat Tejakula berupaya untuk menjaga keseimbangan antara tradisi dan modernitas, sehingga keunikan budaya desa ini tetap terjaga.

Tradisi Metulen dan Metuwun di Desa Tejakula merupakan cerminan dari nilai-nilai luhur masyarakat Bali yang menghormati dan menghargai arwah para leluhur. Meskipun Ngaben kini menjadi lebih dikenal, keberadaan kedua upacara ini tetap memberikan warna dan makna tersendiri dalam kehidupan spiritual masyarakat. Dalam perjalanan waktu, Tejakula terus beradaptasi sambil tetap memelihara warisan budaya yang berharga. Seiring dengan perkembangan zaman, penting bagi generasi muda untuk mengenali tradisi ini, agar tetap hidup dalam setiap denyut kehidupan masyarakat.