(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)
Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.
1. Pantai Camplung
Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar.
2. Pantai Sekar
Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.
Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.
3. Pantai Segara
Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.
Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.
4. Pantai Penyorogan
Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.
Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.
5. Pantai Kayu Dui
Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.
Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.
6. Pantai Kapal
Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.
Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.
7. Pantai Bantes
Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.
Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.
Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.