10.6.26

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.Oleh Made Budilana

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.
Oleh Made Budilana 
 
Pagi itu, udara masih sejuk berhembus dari arah laut saat kami sekeluarga berangkat dari rumah. Hari itu adalah Hari Raya Galungan, hari yang paling dinanti-nantikan. Sejak pagi buta, kami sudah bersiap: mengenakan baju adat berwarna cerah, membawa persembahan yang telah disiapkan sehari sebelumnya, dan berjalan menuju berbagai pura yang ada di wilayah Tejakula.
 
Perjalanan pertama yang kami tuju adalah Pura Puseh Desa Tejakula. Di sana, halaman pura sudah ramai dipenuhi warga yang juga datang sembahyang. Aroma dupa dan bunga tercium harum. Kami duduk bersila, memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh keluarga serta seluruh desa. 

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Desa atau yang lebih populer dengan sebutan pura Bale Agung. Di tempat ini, suasana terasa lebih hidup. Banyak tetangga dan kerabat yang saling menyapa, saling mengucapkan selamat hari raya Galungan. Kami meletakkan persembahan di tempat yang telah disediakan, memohon agar persatuan dan kedamaian senantiasa terjaga di antara seluruh warga. 

Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Sebagai masyarakat pesisir, kami pun berkunjung ke Pura Segara. Berada di dekat bibir pantai, suara ombak yang bergulung menjadi irama alami saat kami bersembahyang. Di sini, kami memohon perlindungan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut, serta mengucapkan syukur atas hasil laut yang melimpah. Angin yang bertiup terasa membawa kedamaian tersendiri, seolah alam ikut merayakan kemenangan dharma.
 
Tak lupa, kami juga menyempatkan diri Tangkil ke Pura Dalem dan beberapa pura kecil lainnya. Di setiap tempat, makna yang kami rasakan sedikit berbeda namun tetap saling melengkapi: ada rasa hormat, syukur, harapan, dan rasa memiliki yang mendalam. Berjalan dari satu pura ke pura lain bersama keluarga, membuat saya menyadari bahwa Galungan bukan sekadar upacara, melainkan momen untuk mempererat ikatan keluarga, mencintai tanah kelahiran, dan mengingat bahwa kebaikan harus selalu ditegakkan.
 
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke rumah dengan hati yang ringan dan tenang. Pengalaman sembahyang di berbagai pura di Tejakula itu menjadi kenangan indah yang selalu saya simpan: bagaimana setiap sudut tanah ini memiliki cerita suci, dan bagaimana bersama keluarga, kami merayakan keberkahan yang turun di hari yang istimewa ini.

1.5.26

Lontar Desa Adat Tejakula.

Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, sejarah dan aturan hidup bukan hanya sekadar cerita lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semuanya tertulis rapi, teratur, dan terjaga kelestariannya dalam bentuk naskah-naskah lontar pusaka. Ribuan baris tulisan di atas daun kering ini menjadi bukti nyata tingginya peradaban masyarakat setempat yang memiliki sistem kehidupan yang sangat terstruktur, mulai dari hukum adat, upacara keagamaan, hingga sejarah asal-usul desa.
 
Sumber hukum adat yang paling utama dan menjadi landasan kehidupan bermasyarakat terdapat dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang dikenal juga sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini memuat segala hal tentang batas wilayah desa, aturan adat atau dresta, serta tata cara pelaksanaan Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, hingga Bhuta Yadnya yang khas dan berbeda dengan daerah lain. Inilah kitab undang-undang adat yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat Tejakula sejak zaman dahulu.
 
Kekayaan budaya spiritual mereka terlihat jelas dari bagaimana mereka memperlakukan kematian dan leluhur. Hal ini tertuang dalam Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Naskah ini menjadi pedoman upacara kematian ala masyarakat Bali Aga di sana. Disebutkan bahwa sebelum tahun 1980-an, tradisi yang berlaku masih sangat asli, meliputi ritual Metulen yang dilakukan hari ke-42, Metuwun setahun setelah kematian, hingga prosesi unik Ngantukang Bulu Geles yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan roh menuju alam baka.
 
Keunikan Tejakula juga tercermin dalam upacara persembahannya. Hal ini tercatat dalam Lontar Purana Pura Sekar Tejakula, yang sering disebut sebagai "prasasti daun lontar" yang tersimpan di Pura Sekar, Banjar Tegal Sumaga. Di sana tertulis jadwal piodalan yang jatuh pada Anggara Kliwon sasih Kapat, Kalima, Kanem, dan Kadasa. Yang paling menakjubkan adalah daftar upakara atau sarana persembahannya yang sangat beragam, mulai dari hewan ternak biasa hingga hewan khas seperti kijang, landak, dan trenggiling, menunjukkan kekayaan alam dan simbolisme yang dimiliki desa tersebut.
 
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual juga dijaga melalui pemujaan di tempat-tempat suci. Terdapat Lontar Purana Pura Dalem Tejakula yang menceritakan sejarah dan sesajen untuk Pura Dalem Kangin dan Dalem Kauh, serta menyebutkan sosok Ratu Ayu sebagai pengiring setia Ida Bhatara. Ada pula Lontar Purana Pura Segara Tejakula yang secara khusus mengatur tata cara pemujaan terhadap laut, meliputi pengaci-aci, ritual nalenin, dan ngaturang pekelem, sebagai wujud rasa syukur dan harmoni masyarakat Tejakula dengan alam samudra yang menjadi sumber kehidupan mereka.
 
Keseluruhan tempat suci di desa ini tercatat lengkap dalam Lontar Raja Purana Pura Desa/Puseh/Bale Agung Tejakula. Naskah ini merupakan Rajapurana atau catatan sejarah Kahyangan Tiga dan tempat suci lainnya. Disebutkan bahwa di Tejakula terdapat lima pura besar yang menjadi pusat kehidupan spiritual, yaitu Pura Dalem Kangin, Dalem Kauh, Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Segara.
 
Sejarah asal-usul dan silsilah penduduknya pun terdokumentasi dengan sangat baik. Lontar Usana Bali versi Tejakula menceritakan tentang pembagian wilayah oleh para bangsawan Arya dan masyarakat Pasek di kawasan Buleleng Timur, termasuk penyebutan wilayah kekuasaan atau linggih Arya Tatar dan Arya Belog di daerah ini. Sementara itu, Lontar Yama Purana Tatwa versi Tejakula menjadi pedoman ajaran kematian dengan tambahan catatan khusus atau sesuratan yang unik di sana. Dan yang melengkapi semua itu adalah Lontar Pamancangah Desa Tejakula, yang mencatat silsilah para pemimpin desa, mulai dari panglingsir, bendesa, hingga mangku, sejak zaman dahulu ketika desa ini masih bernama Hiliran atau Paminggir hingga masa kini.
 
Kebanyakan dari lontar-lontar berharga ini bersifat khusus, yaitu Dresta Desa dan Purana Pura. Hingga saat ini, naskah-naskah aslinya masih tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja. Sayangnya, tidak semua lontar ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan untuk umum, sehingga masih menyimpan banyak misteri dan ilmu pengetahuan yang menunggu untuk digali lebih dalam oleh generasi penerus.

29.4.26

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Di kawasan utara Pulau Bali yang indah, tepatnya di Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah desa yang menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang dan berharga, yaitu Desa Tejakula. Nama ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita sekarang, namun tahukah kamu bahwa ratusan tahun yang lalu, desa ini memiliki nama-nama lain yang tertulis dengan tinta emas di atas batu-batu prasasti peninggalan raja-raja masa lampau? Jejak keberadaan desa ini bukan sekadar cerita lisan, melainkan telah dibuktikan secara ilmiah dan historis melalui beberapa prasasti kerajaan kuno yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
 
Salah satu bukti tertua yang mencatat keberadaan wilayah ini adalah Prasasti Raja Janasadhu Warmadewa yang dikeluarkan pada tahun 975 Masehi atau bertepatan dengan tahun Icaka 897. Dalam naskah kuno ini, nama desa ini belum disebut sebagai Tejakula, melainkan disebut dengan nama "Hiliran". Isi dari prasasti tersebut sangat menarik karena mencatat tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat pada masa itu. Disebutkan bahwa Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan juga Hiliran memiliki kewajiban untuk secara bergilir menjaga, memperbaiki tempat suci, serta merawat jalan-jalan yang menjadi urat nadi kehidupan saat itu. Hal ini membuktikan bahwa sejak seribu tahun yang lalu, wilayah Hiliran sudah merupakan sebuah pemukiman yang teratur, memiliki struktur masyarakat yang jelas, dan ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan serta tempat ibadah. Saat ini, batu bersejarah peninggalan Raja Janasadhu Warmadewa tersebut tersimpan dengan baik di Desa Sembiran, menjadi bukti nyata hubungan erat antar desa-desa di wilayah utara Bali pada masa lampau.
 
Seiring berjalannya waktu, nama wilayah ini pun mengalami perubahan. Hal ini tercatat dengan jelas dalam Prasasti Raja Jaya Pangus yang dibuat pada tahun 1181 Masehi atau tahun Icaka 1103. Pada prasasti ini, nama desa tersebut sudah tidak lagi disebut sebagai Hiliran, melainkan berubah menjadi "Paminggir". Nama ini kemudian terus digunakan dan diperkuat kembali dalam catatan sejarah berikutnya, yaitu pada Prasasti Raja Eka Jaya Lancana yang bertarikh tahun 1200 Masehi atau Icaka 1122. Di dalam prasasti ini, nama "Paminggir" kembali disebutkan secara tegas dalam daftar desa-desa penting yang ada di kawasan tersebut, bersanding dengan nama-nama desa lain seperti Les, Buhundalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. Keberadaan nama Paminggir yang berulang dalam berbagai prasasti dari masa yang berbeda menunjukkan bahwa nama ini merupakan identitas resmi yang digunakan masyarakat selama berabad-abad sebelum akhirnya berubah lagi di kemudian hari.
 
Dari catatan-catatan sejarah tersebut, kita dapat menarik benang merah yang sangat jelas: Hiliran = Paminggir = Tejakula. Ketiga nama itu adalah satu tempat yang sama, hanya mengalami perubahan penyebutan seiring pergantian zaman. Secara makna, kata "Paminggir" maupun "Hiliran" memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu "tepi" atau "batas". Ini sangat masuk akal secara geografis karena letak wilayah ini memang berada di tepian atau batas-batas wilayah tertentu pada masa kerajaan kuno, baik itu batas wilayah kekuasaan maupun batas alam seperti pesisir atau aliran sungai.
 
Nama "Tejakula" yang kita kenal dan banggakan saat ini sebenarnya adalah nama yang dipakai belakangan, namun memiliki akar bahasa dan filosofi yang sangat indah. Nama ini berasal dari gabungan dua kata, yaitu "Teja" yang berarti cahaya, sinar, atau wibawa, dan "Kula" yang berarti kaum, keluarga, atau juga bermakna tepi dan batas. Jadi, Tejakula dapat diartikan sebagai "cahaya yang bersinar di tepian" atau "keluarga yang memiliki wibawa di batas wilayah". Sebuah nama yang sangat gagah dan penuh harapan, seolah meramalkan bahwa desa ini kelak akan menjadi tempat yang bersinar, maju, dan dihormati oleh banyak orang.
 
Melihat kembali jejak sejarah yang tertulis di atas batu keras ini, kita sebagai generasi penerus patut merasa bangga. Desa Tejakula bukanlah desa yang muncul begitu saja, melainkan sebuah desa tua yang memiliki peradaban tinggi, telah diakui keberadaannya oleh para raja besar, dan telah melewati berbagai masa sejak zaman Janasadhu Warmadewa, Jaya Pangus, hingga Eka Jaya Lancana. Dari Hiliran yang sederhana, menjadi Paminggir yang kokoh, hingga kini menjadi Tejakula yang bersinar terang, sejarah ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai akar leluhur dan menjaga nama baik desa yang telah dijaga dengan baik oleh nenek moyang kita selama ribuan tahun.

19.3.26

Tradisi Perang Sambuk Desa Adat Tejakula.

Ritual Perang Sambuk Desa Adat Tejakula.
 
Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah tradisi unik yang penuh dengan makna filosofis dan kekuatan magis, yang dikenal dengan nama Perang Sambuk. Tradisi ini bukanlah perang sungguhan yang menimbulkan luka fisik, melainkan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan turun-temurun dan tertulis dengan jelas dalam naskah-naskah lontar kuno. Keberadaan tradisi yang luar biasa ini menjadi bukti tingginya peradaban dan kearifan lokal masyarakat Tejakula dalam menjaga keseimbangan alam dan keselamatan desa.
 
Sumber utama yang menjadi landasan hukum adat dan tata cara pelaksanaan upacara ini tercatat dalam Lontar Sima Desa Tejakula yang juga sering disebut sebagai Awig-Awig Desa Liran. Naskah bersejarah ini memiliki nomor koleksi No. 798 yang tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Lontar ini ditulis pada tahun 1932 Masehi atau bertepatan dengan tahun Icaka 1854 oleh para tetua desa atau manggala desa pada masa itu. Di dalamnya, tidak hanya tertulis aturan-aturan hidup bermasyarakat, tetapi juga secara spesifik mencatat tata cara pelaksanaan ngoncang dan perang sambuk sebagai bagian dari dresta atau adat istiadat desa yang wajib dilestarikan saat pelaksanaan upacara besar.
 
Selain itu, terdapat pula naskah khusus yang membahas secara mendalam mengenai tradisi setempat, yaitu Lontar Dresta Tejakula. Lontar ini secara khusus merekam segala bentuk tradisi lokal yang khas di Tejakula. Di sana dijelaskan bahwa Perang Sambuk adalah sebuah ritual perang yang menggunakan sarana berupa sabut kelapa yang dibakar. Tradisi sakral ini biasanya digelar secara meriah pada saat Notog atau pada hari suci Pengerupukan. Tujuan utamanya adalah sebagai sarana tolak bala, memohon agar desa terhindar dari segala marabahaya, wabah penyakit, dan gangguan alam yang tidak diinginkan.
 
Secara pelaksanaan, Perang Sambuk dilakukan dengan cara membagi masyarakat menjadi dua kelompok besar. Kedua kelompok ini saling melempar sabut kelapa yang sudah dilumuri minyak dan dinyalakan hingga membara menyala. Pukulan dan lemparan itu dilakukan dengan semangat kegembiraan, namun tetap dalam koridor kesopanan dan aturan adat. Yang membuat tradisi ini semakin magis adalah karena dilakukan pada malam hari yang gelap, tepatnya di halaman depan atau jaba Pura Desa. Saat itulah, ratusan titik api beterbangan di udara, menciptakan pemandangan yang luar biasa indah sekaligus menakjubkan.
 
Di balik keseruan dan kegembiraan tersebut, tersimpan makna yang sangat dalam. Perang Sambuk bukan sekadar permainan, melainkan memiliki simbolisme yang kuat. Sabut kelapa yang menyala melambangkan Cahaya atau Teja, yaitu kekuatan positif, kebenaran, dan ilmu pengetahuan. Sedangkan malam yang gelap dan asap yang mengepul melambangkan Kegelapan, ketidaktahuan, kejahatan, dan energi negatif. Jadi, ritual ini adalah perwujudan simbolis dari perang abadi antara terang dan gelap, di mana pada akhirnya cahaya kebaikanlah yang akan menang dan membersihkan seluruh desa dari energi buruk.
 
Bagi masyarakat Tejakula, tradisi ini adalah jati diri mereka. Melalui Lontar Sima Desa Tejakula No. 798 dan Lontar Dresta Tejakula, generasi muda diingatkan bahwa warisan leluhur ini harus terus dijaga dan dilestarikan. Siapa pun yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai akar budaya Tejakula, dapat menelusuri naskah aslinya yang tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja, sehingga sejarah dan keindahan ritual Perang Sambuk ini tidak akan pernah pudar dimakan zaman.

26.2.26

Pantai Bembeng Di Desa Tejakula.

Pantai Bembeng terletak di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Nama "Bembeng" sendiri diambil dari bahasa Bali yang berarti "menutup" atau "tertutup", sesuai dengan karakteristik pantainya yang relatif terlindungi dan tidak terpapar langsung ombak besar dari lautan Jawa.
 
Pantai Bembeng memiliki bentuk cekungan yang membuatnya terkesan "tertutup", sehingga ombaknya umumnya tenang dan aman untuk berenang atau sekadar bermain air bersama keluarga. Pasir pantainya berwarna kecoklatan dengan tekstur yang lembut, .
 
Meskipun belum terlalu dikenal dibandingkan pantai-pantai besar di Bali, Pantai Bembeng menawarkan pengalaman wisata yang tenang dan jauh dari keramaian. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di sini antara lain berenang, berjemur, serta jalan-jalan menikmati pemandangan matahari terbenam, serta eksplorasi sekitar pantai untuk menemukan keindahan alam tersembunyi.
 
Desa Tejakula sendiri juga kaya akan budaya Bali asli, sehingga wisatawan bisa menggabungkan kunjungan ke Pantai Bembeng dengan mengunjungi pura-pura lokal atau mencicipi masakan khas daerah.
 
Untuk mencapai Pantai Bembeng, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau sewaan dari kota Singaraja sekitar 30-40 menit perjalanan. 

30.1.26

Legenda Bukit Sangkur di Desa Tejakula

Pada masa lampau, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tejakula, hidup seorang pria bernama Pak Wayan yang sangat gemar berjudi dan mengasuh ayam jago. Ia memiliki sepasang ayam jago jenis khas lokal yang disebut ayam sangkur—dikenal dengan bulu yang gagah, kaki yang kuat, dan kecepatan serta kehebatan dalam adu ayam yang tak tertandingi.
 
Pak Wayan sering mengadakan ajang adu ayam di sekitar lereng bukit yang masih tak bernama. Ia terkenal sebagai penjudi yang jujur, selalu menghormati aturan dan tidak pernah mengkhianati lawan mainnya. Meskipun suka berjudi, ia juga sering berbagi rejekinya dengan warga yang membutuhkan, sehingga banyak yang menghargainya.
 
Suatu ketika, sebuah wabah melanda desa dan banyak orang menderita kelaparan. Pak Wayan menggunakan semua harta yang dimilikinya dari hasil perjudian untuk membeli makanan dan membantu masyarakat. Ketika ia tidak punya lagi apa-apa, bahkan harus menjual ayam sangkur kesayangannya untuk menyelamatkan lebih banyak orang.
 
Setelah wabah berlalu dan desa kembali damai, Pak Wayan wafat karena kelelahan. Tak lama kemudian, bukit yang dulu menjadi tempat ia mengadakan adu ayam mulai menunjukkan keajaiban—banyak ayam sangkur yang muncul di sekitarnya, dan warga sering merasakan kehadiran yang melindungi mereka dari bahaya. Masyarakat yakin bahwa roh Pak Wayan telah menjadi penjaga bukit tersebut, bersama dengan roh ayam sangkur kesayangannya.
 
Untuk menghormati jasanya dan makhluk kesayangannya, bukit tersebut kemudian dinamakan Bukit Sangkur, dan hingga kini diyakini sebagai tempat tinggal roh penjudi baik hati dan ayam sangkurnya yang selalu melindungi Desa Tejakula.
 
( Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang ditulis oleh Made Budilana)

Legenda Bukit Ngandang di Desa Tejakula.

Pada zaman dahulu kala, di Desa Tejakula yang damai, hiduplah seorang wanita muda yang baik hati bernama Ni Luh. Ia sangat menghormati ibu mertuanya, Ibu Made, yang sudah berusia lanjut dan memiliki banyak uban di kepalanya.
 
Suatu sore yang tenang, Ni Luh sedang duduk di halaman rumah, membantu Ibu Made mencabut uban satu per satu dengan hati-hati. Keduanya sedang berbincang santai tentang kehidupan desa, ketika tiba-tiba ada suara gemuruh yang lembut datang dari kejauhan. Ni Luh mengangkat pandang dan terkejut luar biasa—sebuah bukit yang biasanya berdiri kokoh di kejauhan ternyata sedang bergerak perlahan menuju arah mereka!
 
Matanya melebar kaget, tangannya yang sedang memegang uban pun terhenti seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap dengan tercengang pada bukit yang berjalan itu. Saat rasa terkejutnya muncul, dengan cepat bukit itu berhenti total dan tidak lagi bergerak sama sekali.
 
Sejak saat itu, bukit tersebut tidak pernah bergerak lagi. Masyarakat Desa Tejakula kemudian memberi nama Bukit Ngandang pada bukit tersebut, karena dalam bahasa Bali, "ngandang" berarti diam atau tidak bergerak. Kisah ini pun diteruskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

(Cerita ini ditulis oleh Made Budilana)
 

10.12.25

Kayoan Tejakula.

Kayoan Tejakula, atau Pemandian Umum Tejakula, adalah sebuah tempat mandi umum yang terletak di Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Tempat ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dan masih digunakan hingga hari ini. Kayoan Tejakula bukan hanya sekadar tempat membersihkan tubuh, tetapi juga ruang untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

Kayoan Tejakula memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak zaman penjajahan Belanda. Pada saat itu, tempat ini digunakan sebagai lokasi pemandian kuda putih milik para pejabat kolonial. Setelah kemerdekaan, Kayoan Tejakula menjadi tempat pemandian umum yang digunakan oleh masyarakat setempat.

Kayoan Tejakula memiliki beberapa fitur yang unik, antara lain:

1) Air di Kayoan Tejakula berasal langsung dari Desa Kutuh, di lereng Danau Batur, sehingga sangat segar dan alami.

2) Kayoan Tejakula memiliki pemandian terpisah untuk pria dan wanita, sehingga masyarakat setempat dapat mandi dengan bebas dan nyaman.
3) Kayoan Tejakula memiliki ukiran-ukiran tradisional Bali yang menghiasi dinding, menambah keindahan dan nilai budaya.

Kayoan Tejakula mengandung nilai filosofis yang dalam, yaitu:

1) Kayoan Tejakula merupakan tempat untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

2) Kayoan Tejakula mengajarkan pengendalian diri dan menghormati orang lain.

3) Kayoan Tejakula merupakan contoh kesederhanaan dan kehidupan yang sederhana.

Sejarah Desa Tejakula.

Desa Tejakula, yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan perdagangan kuno, pengaruh budaya luar, dan perkembangannya menjadi tempat yang kaya akan warisan budaya. Berikut adalah ringkasan sejarahnya.
 
Sejak abad ke-9 Masehi, Tejakula dikenal sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan Bali dengan wilayah lain, terutama Pulau Jawa, Sriwijaya, dan bahkan negara-negara Asia Tenggara. Nama "Tejakula" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Teja" yang berarti sinar dan "Kula" berarti batu, yang dipercaya merujuk pada batu bersinar. kemungkinan karena peranannya sebagai pelabuhan yang ramai dan terang malam hari.
 
Pada masa itu, Tejakula menjadi pintu masuk barang-barang berharga seperti rempah-rempah, tembaga, dan kain, serta sarana pertukaran budaya dan agama. Pengaruh agama Hindu dari Jawa dan India mulai masuk ke daerah ini, yang terlihat dari pembangunan candi-candi kuno.
 
Pada abad ke-19 Masehi, Bali termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Ketika Belanda menduduki Bali pada awal abad ke-20, Tejakula menjadi bagian dari wilayah pemerintahan kolonial. Meskipun demikian, budaya dan tradisi lokal tetap terjaga dengan baik.
 
Setelah kemerdekaan Indonesia, Tejakula berkembang sebagai daerah pertanian. dan kemudian mulai dikenal sebagai destinasi wisata pada akhir abad ke-20. Keindahan pantai, pura, dan kehidupan masyarakat lokal yang asli menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri.
 
Hari ini, Tejakula adalah desa yang menggabungkan keindahan alam (pantai, gunung, dan sungai) dengan warisan budaya yang kaya. Wisatawan dapat mengunjungi dan menyaksikan upacara tradisional, atau hanya bersantai di pantai yang tenang. Desa ini juga dikenal dengan ukiran dari pasir hitam.

19.11.25

Tejakula Merupakan Permata Tersembunyi di Bali Utara.

Tejakula adalah sebuah desa yang kaya akan sejarah dan keindahan alam, terletak di Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Nama Tejakula sendiri memiliki akar yang dalam, tercatat dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa pada tahun 975 Masehi dengan sebutan "Hiliran" atau "Paminggir," yang berarti "tepi" atau "batas." Asal-usul nama Tejakula diyakini berasal dari kombinasi kata "Teja" (cahaya) dan "Kula" (tepi/warga), terkait dengan legenda tentang munculnya cahaya besar di wilayah ini.
 
Tejakula menawarkan pesona alam yang memikat, jauh dari hiruk pikuk keramaian wisatawan. Pantai berpasir hitam yang tenang adalah tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan matahari terbit. Selain itu, terdapat Air Terjun Yeh Mampeh yang tersembunyi di desa Les, menambah keajaiban alam di kecamatan Tejakula. Bagi para petualang, hutan hujan yang rimbun menawarkan jalur hiking menantang dengan pemandangan spektakuler serta flora dan fauna yang unik.
 
Tejakula adalah mayoritas masyarakat Bali Aga, penduduk asli Bali yang teguh mempertahankan tradisi leluhur. Kehidupan desa diwarnai dengan upacara adat dan ritual tradisional yang dilestarikan dengan sungguh-sungguh. Anda dapat menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Tejakula menjaga warisan budaya mereka.
 
Salah satu daya tarik Tejakula adalah para pengrajin ukiran kayu yang terampil. Mereka menciptakan karya seni yang indah, mulai dari pintu, pelinggih (tempat suci), hingga ukiran dari pasir hitam yang unik. Sentuhan seni tradisional ini memberikan karakter khas pada desa Tejakula.
 
Tejakula memiliki komitmen yang kuat terhadap ekowisata dan pelestarian lingkungan. Inisiatif ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan desa, mulai dari praktik pertanian organik hingga pengembangan akomodasi ramah lingkungan.
 
Jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati hidangan laut segar dan bahan-bahan organik lokal yang menjadi ciri khas kuliner Tejakula. Cicipi cita rasa autentik Bali Utara yang akan memanjakan lidah Anda.
 
Tejakula menawarkan berbagai pilihan akomodasi yang sesuai dengan preferensi Anda, diantaranya Homestay Tradisional yaitu tempat menginap yang tak terlupakan bersama masyarakat lokal. Ada juga Eco-lodge, pilihan akomodasi ramah lingkungan yang mendukung pelestarian alam. Ada juga Villa dan Resort, tempat penginapan yang mewah dengan pemandangan laut yang menakjubkan.
 
Tejakula terletak di Buleleng timur, sekitar 30 km dari kota Singaraja. Anda dapat mencapai Tejakula dengan mobil atau skuter. Waktu terbaik untuk mengunjungi Tejakula adalah selama musim kemarau (April-Oktober).
 
Tejakula adalah destinasi yang menawarkan perpaduan sempurna antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan ketenangan. Jika Anda mencari pengalaman yang unik dan autentik di Bali Utara, Tejakula adalah jawabannya.

2.11.25

Dongeng Asal Usul Bukit Sangkur Tejakula.

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Jaman dahulu kala, di sebuah desa yang makmur bernama desa Tejakula, hiduplah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Surya. Raja ini dikenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang adil dan penyayang. Di sana, terdapat seorang pengawal setia bernama Gede Sangkur yang berasal dari desa Les. Gede bukan hanya pengawal biasa; dia adalah sosok yang gagah berani, cerdas, dan penuh dedikasi. Dalam setiap pertempuran, Gede selalu menang.

Suatu hari, saat raja dan Gede sedang berpatroli di perbatasan kerajaan, mereka mendengar kabar tentang ancaman dari raksasa yang tinggal di pegunungan. Raksasa tersebut dikenal dengan kebiasaan membuat kekacauan di desa-desa sekitar. Raja, yang khawatir akan keselamatan rakyatnya, memutuskan untuk menghadapi ancaman itu. Gede tanpa ragu siap mengikutinya.

Dalam pertempuran yang sengit, Gede menunjukkan keberaniannya. Dia berhasil mengalahkan raksasa tersebut dengan kecerdikan dan keberanian yang luar biasa. Setelah pertempuran, raja sangat terkesan dengan loyalitas dan keberanian Gede. Sebagai bentuk penghargaan, raja memanggil Gede ke istana dan memberikan hadiah yang layak: sebuah wilayah yang indah dan subur di perbukitan.

“Wilayah ini akan kau kelola, Gede,” kata raja. “Kami akan menyebutnya Bukit Sangkur, sebagai penghormatan untuk kesetiaanmu.”

Gede merasa sangat terharu. Ia tidak pernah mengharapkan hadiah sebesar itu. Di Bukit Sangkur, Gede membangun rumah yang sederhana namun nyaman. Ia mengajak rakyat untuk tinggal bersamanya, membangun pertanian, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Wilayah itu perlahan-lahan berkembang menjadi desa yang subur, di mana masyarakat hidup rukun dan damai.

(Maaf ini hanya cerita fiktif belaka. Cocok untuk hiburan saja)


28.9.25

Kuliner Khas Desa Tejakula.

Tejakula, sebuah kecamatan yang terletak di Buleleng, Bali, tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan kuliner yang menggugah selera. Jika Anda berencana mengunjungi Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan-hidangan khasnya yang unik dan lezat.
 
Bubur Mengguh: Kelezatan yang Menghangatkan Hati
 
Salah satu hidangan yang wajib dicoba adalah Bubur Mengguh. Sekilas, bubur ini memang mirip dengan bubur ayam Jakarta yang populer. Namun, ada sentuhan khas Bali yang membuatnya istimewa. Bubur Mengguh dimasak dengan santan, memberikan tekstur yang lembut dan rasa yang gurih. Disajikan dengan kuah kaldu ayam yang kaya rempah, suwiran ayam yang lezat, dan taburan kacang tanah goreng yang renyah, Bubur Mengguh adalah hidangan yang sempurna untuk menghangatkan hati dan memanjakan lidah Anda.
 
Ikan Bakar: Kenikmatan Seafood Segar di Tepi Pantai
 
Sebagai daerah pesisir, Tejakula juga terkenal dengan hidangan lautnya yang segar. Salah satu yang paling populer adalah ikan bakar. Anda dapat menemukan berbagai warung makan yang menawarkan menu ikan bakar dengan bumbu-bumbu khas Bali yang menggugah selera. Salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Warung Sukun Spesial Ikan Bakar, yang terkenal dengan ikan bakarnya yang lezat dan segar.
 
Nasi Campur Bali: Harmoni Rasa dalam Setiap Sajian
 
Jika Anda ingin mencicipi berbagai macam hidangan Bali dalam satu piring, Nasi Campur Bali adalah pilihan yang tepat. Di Tejakula, Anda dapat menemukan hidangan ini dengan mudah di berbagai warung makan dan restoran. Nasi Campur Bali biasanya terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan berbagai lauk seperti ayam betutu, lawar, sate lilit, sayur urap, dan sambal matah yang pedas.
 
Sate Lilit: Kelezatan Daging yang Lembut dan Kaya Rempah
 
Sate Lilit adalah hidangan khas Bali yang terbuat dari daging cincang yang dililitkan pada batang serai atau bambu, kemudian dibakar. Daging yang digunakan bisa berupa daging ayam, ikan, atau daging babi. Sate Lilit memiliki rasa yang kaya rempah dan tekstur yang lembut. Di Tejakula, Anda dapat menemukan sate lilit yang lezat di berbagai warung makan dan restoran.
 
Dengan kekayaan alam dan budayanya, Tejakula menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Jadi, jangan ragu untuk menjelajahi kelezatan kuliner khas Tejakula saat Anda berkunjung ke sana!

12.7.25

Tipat Cantok: Sajian Khas Tejakula yang Menggugah Selera.

Tipat Cantok, atau yang sering disebut juga dengan Santokan, merupakan salah satu hidangan khas Tejakula yang kaya rasa dan tekstur.  Sajian ini memadukan kelembutan ketupat (tipat dalam bahasa Bali) dengan berbagai sayuran rebus yang dipadu dengan bumbu kacang yang lezat.  "Cantok" sendiri berarti diuleg atau dihaluskan, merujuk pada proses pembuatan bumbu kacangnya yang diulek hingga halus.
 
Kombinasi sayuran yang umumnya digunakan adalah kacang panjang, tauge, dan kangkung, menciptakan perpaduan rasa dan tekstur yang unik.  Sayuran rebus yang segar berpadu sempurna dengan gurihnya bumbu kacang, menghasilkan cita rasa yang begitu khas dan menggugah selera.
 
Keunikan Tipat Cantok tak berhenti sampai di situ. Di beberapa daerah, seperti Tejakula di Kabupaten Buleleng Timur,  hidangan ini  ditambahkan dengan Mengguh atau bubur baik Mengguh Cine  maupun Mengguh.Sela. Penambahan Mengguh semakin menambah kekayaan rasa dan tekstur Tipat Cantok, memberikan pengalaman kuliner yang lebih lengkap dan memuaskan.
 
Tipat Cantok bukan sekadar makanan, melainkan juga representasi kekayaan kuliner Tejakula.  Sajian sederhana ini mampu menyatukan cita rasa lokal dengan teknik pengolahan yang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang luar biasa.  Jika Anda berkunjung ke Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan Tipat Cantok, untuk merasakan variasi unik dengan tambahan Mengguh.

29.10.24

Air Terjun Yeh Mampeh: Pesona Tersembunyi di Desa Les, Tejakula

Tersembunyi di tengah kehijauan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat sebuah permata alam yang menakjubkan: Air Terjun Yeh Mampeh. Juga dikenal sebagai Air Terjun Les, tempat ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang menenangkan, menjadikannya destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota.
 
Nama "Yeh Mampeh" memiliki arti yang kuat dalam bahasa Bali. "Yeh" berarti air, sedangkan "mampeh" berarti terbang. Nama ini sangat cocok menggambarkan air terjun ini, yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air yang jatuh dari ketinggian tersebut terlihat seperti terbang di udara, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
 
Selain keindahan air terjunnya yang mempesona, kawasan Air Terjun Yeh Mampeh juga menyimpan keajaiban lain: mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat bernama Toya Anakan. Mata air ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Les. Airnya digunakan untuk berbagai upacara keagamaan Yadnya, mencerminkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap alam.
 
Bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual yang mendalam, pengunjung diperbolehkan untuk melukat di Toya Anakan. Melukat adalah ritual penyucian diri yang dilakukan dengan menggunakan air suci. Namun, penting untuk diingat bahwa ada aturan yang harus diikuti saat melukat di sini, seperti mengenakan pakaian adat Bali dan memastikan tidak sedang dalam keadaan datang bulan.
 
Air Terjun Yeh Mampeh bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar melihat pemandangan indah, Air Terjun Yeh Mampeh adalah destinasi yang tepat untuk Anda.

27.10.24

Nama-Nama Pantai Di Tejakula.

(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)

Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

1. Pantai Camplung

Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar. 

2. Pantai Sekar

Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.

Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.

3. Pantai Segara

Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.

Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.

4. Pantai Penyorogan

Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.

Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.

5. Pantai Kayu Dui

Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.

Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.

6. Pantai Kapal

Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.

Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.

7. Pantai Bantes

Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.

Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.

17.10.24

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.

Ritual Adat Tejakula Metulen Dan Metuun, Sebelum Mengenal Ngaben.
 
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tersimpan sebuah kekayaan budaya dan spiritual yang sangat unik dan berbeda dengan daerah lainnya. Sebelum tradisi Ngaben dikenal dan dilaksanakan secara luas sebagaimana umumnya di Bali, masyarakat di sana memiliki tata upacara terhadap leluhur yang sangat teratur, tertib, dan tertulis jelas dalam naskah-naskah lontar pusaka. Dua istilah yang sangat akrab dan menjadi jati diri adat mereka adalah Metulen dan Metuwun atau Metuun. Kedua ritual ini merupakan bagian tak terpisahkan dari Pitra Yadnya atau upacara untuk roh orang yang telah meninggal dunia.
 
Landasan hukum dan aturan pelaksanaan dari tradisi sakral ini tertuang secara rinci dalam Lontar Sima Desa Tejakula yang juga dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran. Naskah ini memiliki nomor inventaris No. 798 yang tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini menjadi kitab dasar yang mengatur seluruh sendi kehidupan adat di Tejakula. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang menceritakan tentang tata cara Pitra Yadnya khas Tejakula yang berlaku jauh sebelum tahun 1980-an. Di sana disebutkan dengan jelas mengenai kewajiban keluarga untuk melaksanakan upacara Metulen yang dilakukan tepat pada hari ke-42 setelah seseorang meninggal dunia, serta upacara Metuwun yang digelar ketika genap satu tahun peristiwa kematian tersebut terjadi.
 
Selain itu, terdapat pula naskah khusus yang lebih mendalam membahas hal ini, yaitu Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara spesifik merekam segala hal mengenai upacara kematian asli masyarakat Tejakula. Isinya sangat detail mencakup persiapan upakara atau sarana persembahan, penentuan waktu atau galah, hingga tata cara pelaksanaan yadnya untuk kedua ritual tersebut. Lontar ini menjadi bukti otentik bahwa Metulen dan Metuwun bukanlah sekadar kebiasaan semata, melainkan sebuah tradisi suci yang memiliki aturan baku dan filosofi yang tinggi, yang telah dijalankan turun-temurun sejak zaman nenek moyang.
 
Lalu, apa makna sebenarnya di balik kedua upacara tersebut?
 
Metulen adalah upacara yang dilaksanakan pada hari ke-42 setelah kematian. Pada fase ini, menurut keyakinan leluhur, arwah orang yang meninggal dunia diyakini baru saja memulai perjalanan panjangnya menuju alam baka atau alam yang sejati. Perjalanan ini tentu tidak mudah, maka dari itu keluarga besar menggelar upacara Metulen sebagai bentuk dukungan spiritual yang kuat. Tujuannya adalah agar arwah tersebut diberikan kekuatan, keselamatan, dan kelancaran dalam menempuh perjalanannya meninggalkan dunia fana ini. Ini adalah momen di mana ikatan kasih sayang antara yang masih hidup dan yang telah pergi diwujudkan dalam bentuk doa dan persembahan suci.
 
Sedangkan Metuwun atau Metuun adalah puncak dan penutup dari seluruh rangkaian upacara penghormatan tersebut, yang dilakukan ketika waktu telah berganti selama satu tahun penuh. Jika Metulen adalah dukungan di awal perjalanan, maka Metuwun adalah bentuk pelepasan yang tulus dan rasa syukur. Sifat upacara ini lebih kepada merayakan kenangan indah serta jasa-jasa almarhum yang telah ditinggalkan. Pada tahap ini, diyakini arwah sudah berada di tempat yang layak dan damai, sehingga upacara ini menjadi tanda bahwa rangkaian masa berkabung telah selesai, dan keluarga dapat kembali menjalani kehidupan dengan tenang, membawa serta kenangan manis dan doa restu dari leluhur.
 
Tradisi ini sangat istimewa karena menjadi identitas bahwa masyarakat Tejakula memiliki cara sendiri yang sangat indah dalam memandang kematian. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah peralihan yang harus didampingi dengan ritual-ritual suci agar arwah dapat beristirahat dengan tenang dan senantiasa memberikan berkah bagi keturunannya. Melalui catatan-catatan dalam lontar yang tertulis dengan tinta emas ini, warisan budaya Metulen dan Metuwun tetap hidup dan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Desa Adat Tejakula hingga saat ini.

Ngantukang Bulu Geles Ritual Sakral Penghubung Roh di Tejakula

Ngantukang Bulu Geles: Ritual Sakral Penghubung Roh di Tejakula
 
Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, tradisi Pitra Yadnya atau upacara penghormatan terhadap leluhur memiliki kekhasan yang sangat mendalam dan penuh dengan simbolisme magis. Salah satu ritual yang paling unik dan menjadi ciri khas masyarakat setempat adalah upacara Ngantukang Bulu Geles. Sebuah upacara yang tidak hanya sekadar persembahan banten, melainkan merupakan jembatan spiritual yang mempertemukan dunia manusia dengan dunia roh, serta menyatukan simbol-simbol kekuatan alam semesta.
 
Keberadaan dan tata cara pelaksanaan ritual ini tertulis dengan sangat jelas dan rinci dalam berbagai naskah lontar pusaka yang menjadi pedoman hidup masyarakat di Tejakula. Sumber utama yang memuat penjelasan mengenai hal ini adalah Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Lontar ini secara khusus membahas tentang tata cara upacara kematian ala masyarakat Tejakula. Di dalamnya disebutkan bahwa Ngantukang Bulu Geles merupakan rangkaian lanjutan yang sakral setelah pelaksanaan upacara Ngaben dan Mekarye Bakti. Upacara ini memiliki aturan waktu yang sangat spesifik, yaitu dilaksanakan pada hari Anggarkasih, dan tempat pelaksanaannya pun ditentukan dengan pertimbangan mistis, yaitu di pura-pura yang letaknya dekat dengan laut maupun gunung, sebagai simbol keseimbangan alam.
 
Hal senada juga diperkuat oleh catatan dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang lebih dikenal sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Lontar ini menjadi landasan hukum adat atau sima-dresta desa. Di dalamnya terdapat bagian khusus atau pawos yang merinci urutan lengkap upacara setelah kematian, mulai dari metulen, metuun, ngaben, hingga puncaknya pada ritual Ngantukang Bulu Geles. Ini membuktikan bahwa upacara ini bukanlah tradisi yang muncul secara tiba-tiba, melainkan telah diatur secara baku dan turun-temurun sejak zaman dahulu kala sebagai kewajiban spiritual keluarga dan desa.
 
Lebih jauh lagi, makna filosofis dan esoteris dari ritual ini dapat dipahami melalui Lontar Yama Purana Tatwa serta Lontar Yama Tatwa versi Tejakula. Kedua naskah ini merupakan pedoman tentang ajaran kematian dan alam baka yang umum dikenal di Bali Utara. Namun di Tejakula, terdapat tambahan catatan khusus atau sesuratan yang menjelaskan bahwa Ngantukang Bulu Geles memiliki makna mendalam sebagai proses "mempertemukan" roh leluhur dengan kekuatan Segara (laut) dan Giri (gunung). Kedua elemen alam ini merupakan simbol dari Purusa dan Pradana, atau unsur maskulin dan feminin, yang menyatu menciptakan keseimbangan semesta. Dengan demikian, roh diharapkan dapat bersatu kembali dengan asal-usulnya yang sejati.
 
Secara pelaksanaan, ritual ini memiliki ciri khas yang kuat. Dilaksanakan tepat pada hari Anggarkasih, upacara biasanya digelar di tempat-tempat yang dianggap memiliki energi spiritual tinggi, seperti Pura Suci di Tejakula yang letaknya strategis dekat dengan pesisir pantai dan menghadap ke arah gunung. Inti dari ritual ini adalah mengundang atau "mengajak" roh leluhur untuk hadir dan menerima persembahan. Ini adalah momen sakral di mana batas antara dunia nyata dan dunia spiritual seakan menjadi tipis, menjadi sarana komunikasi dan penghormatan tertinggi kepada para pendahulu.
 
Untuk melancarkan upacara ini, dipersiapkanlah upakara atau sarana persembahan yang khusus dan lengkap sesuai tuntunan leluhur. Prosesi dipimpin oleh para pemangku desa dengan mantra-mantra sakral, dan diikuti oleh seluruh keluarga besar serta krama desa yang hadir memberikan dukungan doa. Suasana yang tercipta pun terasa sangat hening, khidmat, namun penuh dengan getaran spiritual yang kuat.
 
Ngantukang Bulu Geles bukan sekadar tradisi yang dijalankan karena kebiasaan, melainkan wujud rasa cinta, bakti, dan kesadaran bahwa leluhur senantiasa hadir dan memberikan perlindungan selama ikatan batin itu terus dijaga. Melalui ritual inilah, masyarakat Tejakula menjaga hubungan harmonis antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesama, dan manusia dengan alam semesta, sebagaimana yang telah tertulis abadi dalam lembaran-lembaran lontar pusaka mereka.

Dongeng Asal Usul Nama Desa Tejakula

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Di lereng Gunung, di sebuah lembah yang subur dan dialiri sungai jernih, terhamparlah Desa Hiliran.  Kehidupan di desa itu tenang dan damai, irama kehidupan diatur oleh detak jantung alam: gemericik air sungai, kicau burung, dan semilir angin yang membawa aroma padi dan bunga kembang sepatu.  Rumah-rumah penduduk berderet rapi, terbuat dari kayu dan bambu, atapnya menjulang tinggi seperti menyambut langit.  Masyarakatnya hidup rukun, saling membantu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong.  Mereka menggantungkan hidup pada pertanian, ladang-ladang mereka menghasilkan padi yang melimpah, buah-buahan yang manis, dan sayur-mayur yang segar.
 
Suatu malam, langit Hiliran dihiasi taburan bintang yang begitu gemerlap.  Bintang-bintang itu seakan berbisik, menceritakan kisah-kisah dari zaman dahulu kala.  Namun, malam itu berbeda.  Sebuah cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul di langit, membelah kegelapan malam.  Cahaya itu semakin membesar, menukik tajam ke bumi, dan jatuh tepat di tengah-tengah Desa Hiliran.  Seketika, desa itu dipenuhi cahaya yang menyinari setiap sudut, menerangi wajah-wajah penduduk yang tertegun.  Cahaya itu kemudian meredup, meninggalkan sebuah batu yang memancarkan sinar lembut, seperti cahaya bulan purnama.  Batu itu terasa hangat, dan memancarkan aura yang menenangkan.
 
Kejadian itu menggemparkan seluruh penduduk Desa Hiliran.  Mereka berkumpul, saling berbisik, mencoba memahami peristiwa yang baru saja terjadi.  Para tetua desa, yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan luas, mulai menafsirkan kejadian tersebut.  Mereka berunding berhari-hari, menelusuri kitab-kitab kuno dan mempelajari ramalan-ramalan nenek moyang.  Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan: cahaya yang jatuh dari langit itu adalah pertanda baik, sebuah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.  Batu yang bersinar itu, menurut mereka, adalah simbol kekuatan, keberuntungan, dan kesucian.
 
Setelah bermusyawarah panjang, penduduk Desa Hiliran sepakat untuk mengganti nama desa mereka.  Nama "Hiliran," yang berarti "bagian bawah" atau " bagian pinggir"dianggap sudah tidak lagi relevan.  Mereka memilih nama baru yang mencerminkan keajaiban yang telah terjadi. Yaitu Tejakula.  "Teja," dalam bahasa Sansekerta, berarti "sinar" atau "cahaya," sedangkan "Kula," dalam bahasa Kawi, berarti "batu."  Jadi, Tejakula berarti "batu yang bersinar," sebuah nama yang menggambarkan batu ajaib yang jatuh dari langit dan membawa berkah bagi desa mereka.
 
Sejak saat itu, Desa Tejakula berkembang pesat.  Pertanian mereka semakin subur, hasil panen melimpah ruah.  Kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kehidupan mereka dipenuhi kedamaian dan kemakmuran.  Batu yang bersinar itu, meskipun keberadaannya kini tak lagi diketahui secara pasti, tetap menjadi legenda yang diwariskan turun-temurun.  Dan menjadi simbol persatuan, keberanian, dan keteguhan hati masyarakat Desa Tejakula, sebuah pengingat akan keajaiban yang pernah terjadi dan menjadi pendorong semangat untuk terus membangun desa mereka yang tercinta.  

8.4.23

Profil Gede Raditya Kurniawan.

Gede Raditya waktu berumur lima bulan

Gede Raditya Kurniawan lahir di desa Tejakula pada tanggal 28 Oktober 2006, sebuah tanggal yang bertepatan dengan hari bersejarah, Hari Sumpah Pemuda. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Made Budilana dan Putu Puja Astuti. Kehidupan Gede Raditya sejak kecil penuh tantangan, terutama setelah ia kehilangan sosok ibu yang sangat berarti. Ketika ia baru berusia lima bulan, ibunya pergi meninggalkannya. Gede Raditya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Meskipun demikian, dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bersemangat, dengan bakat yang mulai terlihat sejak usia dini.

Sejak kecil, Gede Raditya sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia hiburan, khususnya dalam hal lawak Bali. Setiap kali acara-acara lawak Bali ditayangkan di televisi, Gede Raditya selalu menontonnya dengan penuh perhatian, mempelajari gerakan dan lelucon yang disampaikan. Bakat melawaknya pun mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 1 SD. Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah mulai tampil di berbagai acara ulang tahun teman-temannya dengan memerankan berbagai karakter lucu, yang tak jarang membuat banyak orang terhibur. Penampilannya yang mengundang tawa ini menjadi pertanda awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia seni peran dan hiburan.

Namun, Gede Raditya tidak hanya berbakat dalam bidang lawak Bali. Ia juga memiliki ketertarikan besar pada seni tari dan teater tradisional Bali. Pada rentang usia 6 hingga 12 tahun, ia memulai perjalanan seni tari dengan mempelajari berbagai tarian tradisional Bali yang terkenal, seperti Tari Baris Wirayuda, Tari Topeng Bujuh, dan Tari Bondres kategori anak-anak. Setiap gerakan yang ia pelajari, baik itu tarian seperti Baris Wirayuda maupun tarian topeng yang sarat makna, membuat Gede Raditya semakin mencintai seni tradisional Bali. Ia pun semakin sering tampil dalam berbagai acara adat maupun perayaan di desanya, memperkenalkan kesenian Bali kepada teman-teman sebayanya.

Selain menari, Gede Raditya juga mulai menyukai seni musik tradisional Bali. Ia mengembangkan minatnya dalam dunia gamelan, khususnya dengan memainkan gender, salah satu alat musik yang sering digunakan dalam pertunjukan wayang kulit dan upacara Ngaben. Minatnya pada gamelan ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu, dan ia semakin terampil dalam memainkan gender. Gede Raditya tidak hanya menganggap gamelan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang sangat ia cintai. Sebagai remaja, ia menghabiskan waktu luangnya untuk berlatih dan memperdalam kemampuannya dalam memainkan gamelan, berkeinginan untuk terus menjaga warisan budaya Bali yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.

Di samping kecintaannya pada gamelan, Gede Raditya juga memiliki hobi unik lainnya, yaitu mengoleksi topeng Bali. Ia mulai mengoleksi berbagai jenis topeng, termasuk Topeng Bujuh yang dikenal dengan bentuknya yang khas dan penuh makna, serta Topeng Tua yang memiliki filosofi mendalam. Koleksi topeng ini menjadi bagian dari perjalanan seni Gede Raditya, yang tak hanya menghargai seni pertunjukan, tetapi juga bentuk seni rupa tradisional Bali. Koleksi topengnya kini menjadi saksi bisu dari kecintaannya terhadap seni budaya Bali yang tak ternilai harganya.

Selain bakat dalam seni tari, gamelan, dan koleksi topeng, Gede Raditya juga dikenal sebagai seorang seniman muda yang pernah memerankan berbagai tokoh dalam pertunjukan Wayang Wong, sebuah seni pertunjukan tradisional Bali yang menggabungkan tarian, musik, dan drama. Beberapa tokoh yang pernah ia perankan antara lain Sempati, Jabung, Meganada, dan Hanoman. Setiap peran yang ia ambil selalu dilakoni dengan penuh dedikasi dan semangat, mencerminkan ketekunannya dalam mempelajari seni tradisional Bali. Ia menunjukkan kemampuannya dalam berakting, menari, dan berperan sebagai tokoh-tokoh mitologi dalam cerita wayang, menjadikannya seorang seniman muda yang berbakat.

Perjalanan hidup Gede Raditya Kurniawan adalah kisah tentang perjuangan, semangat, dan kecintaan yang mendalam terhadap seni budaya Bali. Dari seorang anak yang kehilangan ibu di usia yang sangat muda, hingga menjadi seorang pemuda yang menguasai berbagai bidang seni tradisional Bali, Gede Raditya telah menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa menemukan jati dirinya melalui seni. Tidak hanya sekadar hiburan, seni bagi Gede Raditya adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Kini, Gede Raditya Kurniawan tidak hanya dikenal di desanya sebagai seorang seniman, tetapi juga sebagai simbol dari semangat pemuda Bali yang terus berkarya dan menjaga tradisi.
.
Gede Raditya waktu berumur 12 tahun.

Gede Raditya Cs, waktu tampil melawak di balai desa Tejakula dalam acara pentas seni Tejakula

4.10.19

Menyelami Keunikan Kuliner Di Desa Tejakula.

Desa Tejakula, yang terletak di ujung timur Kabupaten Buleleng, Bali, tidak hanya dikenal karena keindahan alamnya, tetapi juga memiliki kekayaan kuliner yang unik dan menggugah selera. Kuliner di daerah ini mencerminkan tradisi yang kaya dan bumbu-bumbu alami yang menggoda lidah. Sebagian besar hidangan yang ada di Tejakula masih jarang diketahui oleh banyak orang, meskipun mereka memiliki cita rasa yang khas dan sulit ditemukan di tempat lain. Mari kita menjelajahi berbagai kuliner khas yang menjadi kebanggaan Desa Tejakula.

Salah satu kuliner yang paling terkenal di desa Tejakula adalah Mengguh. Apa itu Mengguh? Mengguh adalah kuliner yang tak kalah menarik di Tejakula. Makanan ini biasanya disajikan saat acara kumpul keluarga atau pertemuan dengan teman-teman. Mengguh terbuat dari beras yang direbus hingga menjadi bubur kental. Namun, yang membedakan Mengguh dari bubur biasa adalah bumbu-bumbunya yang sudah dicampur langsung saat proses memasak, menjadikannya lebih kaya rasa. Ada dua jenis Mengguh yang bisa ditemukan di Tejakula: Mengguh Bali dan Mengguh China. Mengguh Bali berisi bahan-bahan seperti bayam, singkong, dan kacang-kacangan, sementara Mengguh China lebih mengutamakan bahan seperti daging ayam, ikan, dan mie instan. Rasanya yang unik dan beragam ini menjadikan Mengguh salah satu hidangan yang wajib dicoba bagi siapa saja yang berkunjung ke desa ini.

Jukut Sela atau yang juga dikenal dengan nama Rambugan atau Blaok adalah hidangan sayuran berkuah yang masih sangat digemari di Tejakula. Sayuran berkuah, isinya mulai dari singkong, kacang panjang, kacang kare, bayam, jagung, hingga kacang tanah. Bumbu yang digunakan untuk memasak Jukut Sela adalah Base Genep, yang memberikan rasa kaya dan mendalam. Dulu, Jukut Sela dijual oleh kaum ibu-ibu secara door-to-door, namun kini banyak ibu-ibu milenial yang enggan melanjutkan tradisi ini. Meskipun begitu, hidangan ini tetap menjadi favorit banyak orang karena rasanya yang segar dan menyehatkan.

Berikutnya adalah Tepengan. Apa itu Tepengan? Tepengan adalah bubur beras yang sangat keras menjadi ciri khas Tejakula. Tepengan biasanya disajikan dengan lauk pauk seperti ikan bakar, sayuran, dan sambal matah. Rasa gurih dan pedasnya menciptakan harmoni yang sempurna.

Belayag, sebuah hidangan yang tidak hanya menggugah selera, tetapi juga menjadi simbol tradisi kuliner lokal. Belayag adalah ketupat yang berbentuk lonjong dan dipotong-potong. Ketupat ini kemudian disajikan dengan sayur-sayuran segar, daging ayam, dan bumbu kuning yang kaya akan rempah. Topping seperti kerutuk jagung atau popcorn sering ditambahkan untuk memberikan sentuhan renyah dan gurih. Ada juga yang menambahkan topping kacang kedelai, sesuai dengan selera masing-masing. Belayag adalah hidangan yang menggambarkan keseimbangan antara rasa manis, pedas, dan gurih, yang membuatnya menjadi pilihan yang sempurna untuk segala acara, baik itu pesta atau sekadar hidangan sehari-hari.

Di samping itu, ada juga Sudang dan Jukut Undis yang patut dicoba. Sudang adalah ikan kering yang memiliki rasa sangat asin, sementara Jukut Undis adalah kuah yang berisi kacang hitam. Kedua hidangan ini sering ditemukan di meja makan penduduk Tejakula sebagai pelengkap nasi atau hidangan utama. Rasa asin dari Sudang dan gurihnya Jukut Undis memberikan sensasi yang berbeda, memadukan cita rasa laut dan kekayaan alam desa.

Tejakula juga memiliki jajanan tradisional yang sangat beragam, salah satunya adalah 
Klepon. Klepon adalah jajanan tradisional yang terbuat dari tepung ketan, di tengahnya diisi gula merah, dan dibentuk bulat kecil. Setelah direbus, klepon dilapisi dengan kelapa parut, menciptakan rasa manis dan gurih yang nikmat.

Kue Dadar.
Kue dadar atau pancake pandan, diisi dengan gula merah dan kelapa parut. Rasanya yang manis dan teksturnya yang lembut menjadikannya sebagai camilan yang banyak diminati oleh masyarakat setempat dan wisatawan.

Cerorot.
Cerorot adalah jajanan basah berbentuk kerucut yang kulitnya terbuat dari daun ental dan diisi dengan adonan manis. Rasanya yang lembut dan manis membuat Cerorot sangat digemari oleh berbagai kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Cerorot sering disajikan pada acara-acara khusus, seperti upacara persembahyangan atau resepsi pernikahan. Selain Cerorot, ada pula jajanan lainnya seperti Arang Arang, Aron Aron, Tulud, Kebis, Ulek, Ucur, Rengas, Keroncongan, Sumping Waluh, Pesor, Latok, Lupis, Sager, dan Remu. Semua jajanan ini memiliki keunikan tersendiri, dan sering kali dipadukan dengan kopi hangat gula aren, menciptakan kombinasi rasa yang pas di lidah.

Untuk minuman, Ronde adalah pilihan yang sempurna untuk menemani sore yang santai. Ronde adalah minuman hangat yang terbuat dari rebusan air jahe dan pandan, diberi gula pasir, dan disertai dengan Kapri atau kacang tanah yang sudah diolah. Minuman ini tidak hanya menyegarkan, tetapi juga memberikan rasa hangat yang cocok dinikmati di cuaca dingin atau sebagai penghangat tubuh setelah beraktivitas.

Minuman Khas:Brem.
Brem adalah minuman fermentasi dari beras ketan yang memiliki rasa manis dan sedikit asam. Minuman ini sering disajikan dalam acara-acara adat dan menjadi simbol kehangatan komunitas.

Es Cendol 
Es Cendol Dikenal karena kesegarannya, es cendol di Tejakula terbuat dari tepung beras hijau, disajikan dengan santan dan gula merah cair. Minuman ini sangat cocok dinikmati saat cuaca panas. Be

Kuliner-kuliner khas Tejakula bukan hanya menggoda selera, tetapi juga menyimpan sejarah dan tradisi yang dalam. Beberapa hidangan telah ada sejak zaman dahulu, diwariskan dari generasi ke generasi, dan masih menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. Tak heran jika kuliner di desa ini sangat kaya akan rasa dan penuh dengan cerita yang menggambarkan kebudayaan Bali yang sangat kental. Tejakula memang menyimpan surga kuliner yang tersembunyi, menunggu untuk dijelajahi oleh para pencinta makanan yang ingin merasakan cita rasa asli Bali yang berbeda.