18.8.26

Tradisi Medeeng di Tejakula

Tradisi Medeeng di Tejakula
 
Medeeng atau Pedeengan adalah tradisi khas masyarakat Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng. Ini merupakan rangkaian upacara Pitra Yadnya (Pengabenan) yang dilaksanakan sehari atau dua hari sebelum proses Ngaben. Medeeng berbentuk pawai sore hari berupa barisan pasangan putra-putri muda yang berjalan beriringan memakai busana adat lengkap, diiringi musik gamelan Angklung .
 
Sejarah dan Asal-Usul
 
Medeeng merupakan tradisi asli Tejakula yang telah diwariskan turun-temurun sejak berabad-abad silam. Dipercaya bahwa tradisi ini lahir dari nilai-nilai luhur masyarakat Bali Aga yang mendiami wilayah Tejakula. Berbeda dengan upacara sejenis di Bali Selatan yang disebut Mapeed, Medeeng memiliki ciri khas tersendiri dalam busana, tata cara, dan suasana yang lebih meriah dan melibatkan banyak kaum muda .
Secara historis, Tejakula sendiri merupakan salah satu desa tertua di Bali yang sudah disebutkan dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa tahun 975 Masehi dengan nama "Hiliran", yang berarti tepi atau batas — merujuk pada posisinya di pesisir utara . Tradisi Medeeng menjadi salah satu bukti kekayaan budaya yang tumbuh dan berkembang di wilayah ini sejak lama.
 
Makna Filosofis
 
Medeeng bukan sekadar pawai, melainkan memiliki makna yang sangat dalam. Para tetua menjelaskan bahwa para pemuda dan pemudi yang berjalan dalam barisan Medeeng adalah simbolisasi Apsara (bidadara) dan Apsari (bidadari) — makhluk surgawi yang gagah dan cantik — yang turun ke dunia untuk mengantar keberangkatan roh leluhur menuju keabadian. Jadi, Medeeng adalah semacam "dramatisasi" kehadiran para bidadara dan bidadari yang menyambut dan mengantar roh yang telah meninggal.
 
Ada juga makna sosial yang kuat: Medeeng menjadi ajang pemersatu warga desa. Seluruh keluarga, kerabat, dan tetangga bekerja sama menyiapkan pawai, sehingga duka cita berubah menjadi kekuatan bersama. Keindahan dan kemegahan pawai bukan untuk pamer, melainkan bentuk penghormatan tertinggi kepada orang yang telah meninggal — bahwa ia berangkat dengan diantar oleh keindahan dan kemuliaan.
 
Waktu Pelaksanaan
 
Medeeng dilaksanakan pada sore hari, satu atau dua hari sebelum hari utama Ngaben. Biasanya bertepatan dengan hari yang dianggap baik menurut kalender Bali.
 
Barisan Pawai
 
Barisan Medeeng terdiri dari pasangan putra dan putri muda yang berjalan berpasangan, memanjang ke belakang. Mereka berjalan beriringan searah, membentuk barisan yang panjang dan indah. Di bagian depan barisan biasanya diiringi oleh gamelan Angklung yang memainkan gending-gending khas yang menciptakan suasana khidmat namun tetap megah .
 
Busana dan Perhiasan
 
Ciri paling menonjol dari Medeeng adalah busana adat khas Buleleng yang berbeda dengan busana Bali Selatan :
 
- Putri: Memakai rokokoan berwarna putih yang dihiasi bunga emas padma atau tunjung sebagai mahkota/gelungan, dua selendang di pundak kanan dan kiri, angkin prada, kamen songket khas Buleleng, serta gelang kana. Riasan wajah dibuat halus dan anggun .
- Putra: Memakai busana payas agung khas Buleleng, destar (ikat kepala) dengan hiasan emas, sabuk prada, dan keris yang terselip di pinggang. Penampilan mereka melambangkan kegagahan dan keperkasaan.
 
Bahkan di masa lalu, keluarga yang mampu menggunakan perhiasan emas murni untuk Medeeng, bukan untuk pamer kekayaan, melainkan sebagai bentuk penghormatan tertinggi kepada leluhur.
 
Dawang-Dawang
 
Di dalam pawai Medeeng juga terdapat boneka besar yang disebut Dawang-Dawang — sepasang boneka laki-laki dan perempuan yang tingginya bisa melebihi manusia biasa. Rangkanya terbuat dari bambu, kepalanya dari gabus atau styrofoam, lalu dibungkus kain dan pakaian adat. Dawang-Dawang diusung oleh anak-anak atau pemuda selama pawai .
 
Dawang-Dawang memiliki tiga fungsi:
 
1. Religius — sebagai simbol pengantar roh.
2. Estetis — memperindah pawai.
3. Sosial — kain dan pakaian yang dikenakan Dawang-Dawang nantinya dilepas dan dibagikan sebagai sedekah/punia kepada orang yang mengusungnya sebelum dibakar bersama bade .
 
Urutan Prosesi
 
1. Persiapan Pagi Hari — Keluarga dan warga berkumpul di rumah duka untuk menyiapkan sesajen, banten, pakaian, dan perlengkapan pawai.
2. Menyucikan Diri — Para peserta Medeeng melakukan pembersihan diri dan berdoa sebelum memakai busana.
3. Memulai Pawai Sore Hari — Barisan berangkat dari rumah duka menuju tempat pembakaran atau pura terdekat, berjalan perlahan diiringi gamelan Angklung.
4. Mengelilingi Tempat Suci — Pawai biasanya mengelilingi Pura Desa sebagai tanda penghormatan kepada para dewa dan leluhur.
5. Berakhir di Tempat Pengabenan — Barisan berhenti di lokasi di mana bade ditempatkan, lalu dilakukan pemujaan bersama.
6. Pembagian Sedekah — Kain dari Dawang-Dawang dan sebagian sesajen dibagikan kepada warga sebagai berkah .
 
Keunikan Medeeng di Tejakula
 
Di Tejakula, Medeeng memiliki keistimewaan tersendiri karena digabungkan dengan kesenian-kesenian lain yang juga menjadi ciri khas desa ini, seperti Wayang Wong dan Gending Sekatian. Gamelan yang mengiringi pawai pun sering kali menggunakan komposisi khas Tejakula yang berbeda dengan daerah lain di Buleleng.
 
Masyarakat Tejakula sangat menjaga kelestarian Medeeng karena dianggap sebagai warisan leluhur yang tak terpisahkan dari identitas mereka. Meskipun zaman terus berubah, warga tetap berusaha melestarikan tradisi ini — dari cara berpakaian, gending yang dimainkan, hingga tata cara berjalan dalam barisan — agar semangat dan makna di dalamnya tidak hilang ditelan waktu .
 
Penutup
 
Medeeng bukan sekadar pawai atau pertunjukan. Ia adalah perwujudan keyakinan bahwa kematian bukanlah akhir yang menyedihkan, melainkan sebuah perjalanan yang diantar dengan keindahan, penghormatan, dan kasih sayang. Di tengah duka cita, masyarakat Tejakula menemukan kekuatan untuk bersama-sama menghantarkan roh leluhur menuju keabadian dengan penuh keagungan dan keindahan. 

Malam Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja

Malam Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja
 
Sore hari masih menyisakan semburat jingga di ufuk barat saat kami melaju menuju Pantai Sangsit. Angin laut bertiup sejuk, membawa aroma garam dan kesegaran yang khas pesisir utara Bali. Tujuan pertama kami sudah jelas: mampir makan ikan bakar sebelum lanjut ke Titik Nol Singaraja untuk menonton puncak acara Bulfest 2026. Begitu sampai di pinggir pantai, warung makan sederhana langsung menyambut, asap tipis mengepul dari tungku pembakaran, dan aroma bumbu rempah yang dibakar sudah menggugah selera sejak jauh.
 
Kami duduk di salah satu meja kosong yang terlihat paling bersih. Ikan-ikan segar baru saja diturunkan dari perahu nelayan, masih berkilau basah. Kami memesan ikan Jengki, udang, lalapan kangkung dan sambal bawang mentah yang enaknya pas. Sambil menunggu, kami duduk di kursi tenda kayu, memandang ombak yang bergulung pelan memecah di pantai, melihat matahari perlahan tenggelam meninggalkan jejak ungu dan merah di langit. Tak lama pesanan datang — ikan bakar beraroma harum semerbak, dagingnya putih lembut, manis alami, dicocol sambal tomat dan saos kacang yang gurih pedas. Ditambah es jeruk yang dingin, rasanya sungguh sempurna. Perut kenyang, hati pun tenang, siap menyambut malam yang istimewa.
 
Ketika langit sudah benar-benar gelap, kami melanjutkan perjalanan menuju pusat kota Singaraja. Semakin dekat ke Titik Nol, semakin terlihat keramaian. Lampu-lampu jalan mulai menyala, dan dari kejauhan sudah terdengar suara gamelan dan musik yang bersahutan. Jalanan di sekitar monumen Titik Nol sudah dipenuhi orang — warga dari berbagai desa, wisatawan, anak-anak, orang tua — semuanya datang berkumpul untuk menyaksikan Bulfest 2026. Panggung besar yang dibangun di area itu tampak megah dengan pencahayaan warna-warni yang memantul ke langit malam.
 
Saat kami tiba, pertunjukan sudah berlangsung meriah. Suara gamelan terdengar bergema, memadukan irama tradisional dengan sentuhan modern yang segar. Di panggung, penari-penari muda mengenakan busana khas Buleleng yang indah bergerak selaras, gerakannya luwes dan penuh semangat. Penonton bersorak, bertepuk tangan, tak sedikit yang ikut bergoyang mengikuti irama. Di sepanjang jalan sekitar festival, stan-stan makanan dan kerajinan tangan berjejer rapi, lampu-lampu hias menggantung cantik di antara pohon-pohon, menciptakan suasana yang hangat dan hidup.
 
Malam semakin larut, tapi semangat orang-orang justru semakin membara. Puncak acara berupa kolaborasi musik tradisional dan pertunjukan cahaya lampu membuat seluruh area Titik Nol berkilauan seolah menjadi lautan cahaya. Kami berdiri di antara keramaian, merasakan kehangatan kebersamaan masyarakat Buleleng yang begitu bangga dan mencintai budayanya sendiri. Tidak ada jarak antara tua dan muda, antara warga dan tamu — semua bersatu dalam kegembiraan yang sama.
 
Pulang ke rumah nanti, kaki mungkin terasa pegal, tapi hati penuh dengan kenangan indah. Makan ikan bakar yang lezat di Pantai Sangsit di bawah langit senja, lalu menyaksikan kemeriahan Bulfest 2026 di Titik Nol Singaraja di bawah cahaya lampu dan bintang — perjalanan malam itu bukan sekadar jalan-jalan, melainkan pengingat betapa berharganya budaya dan kebersamaan yang kita miliki. 

19.7.26

Sejarah Lengkap Batu Berbentuk Perahu di Pura Ponjok Batu

Sejarah Lengkap Batu Berbentuk Perahu di Pura Ponjok Batu.

 
Di lepas pantai Pura Purwa Siddhi Ponjok Batu, Bangkah, Desa Pacung, Kecamatan Tejakula, Buleleng, berdiri tegak sebuah batu karang besar yang memiliki bentuk alami sangat menyerupai perahu, menjadi salah satu daya tarik sekaligus tempat penghormatan yang paling dihargai di wilayah utara Bali. Nama pura Ponjok Batu sendiri mengandung makna “tanjung batu”, sebuah sebutan yang sangat pas menggambarkan posisinya yang menjorok jauh ke tengah laut, seolah menjadi benteng alami yang menjaga pesisir dari hempasan ombak yang tak pernah lelah memukul pantai.
 
Kisah yang menyelimuti batu berbentuk perahu ini tercatat secara tertulis dalam naskah kuno Lontar Dwijendra Tattwa, yang mengaitkan keberadaannya dengan perjalanan suci Danghyang Nirartha, seorang pendeta besar aliran Siwa Sidanta yang hidup pada abad ke-15 hingga ke-16 Masehi, tepatnya pada masa pemerintahan Raja Dalem Waturenggong yang membawa Bali ke dalam masa kejayaan yang luas. Konon pada suatu ketika, saat Danghyang Nirartha sedang singgah dan melaksanakan semedi di kawasan Ponjok Batu, terlihatlah sebuah perahu milik para pedagang dan pelaut yang datang dari Lombok sedang mengalami kesulitan besar di tengah samudra. Para pelaut itu melihat adanya batu yang memancarkan cahaya suci yang menyilaukan namun menenangkan di tengah laut, sehingga mereka berniat mendekat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya ada di sana. Namun saat perahu mereka semakin dekat ke arah batu tersebut, tiba-tiba seluruh alat kendali dan peralatan penggerak perahu mengalami kerusakan secara misterius, sehingga perahu itu tak sanggup bergerak maju maupun mundur, terjebak diam di tengah hamparan air yang luas dan dalam. Melihat musibah yang menimpa para pelaut itu, Danghyang Nirartha segera turun untuk memberikan pertolongan; beliau memohon perlindungan Tuhan dengan penuh kesungguhan, hingga akhirnya perahu itu kembali berfungsi seperti semula dan beliau pun membimbing rombongan tersebut sampai selamat melewati wilayah yang berbahaya itu. Tak berhenti di situ, setelah keadaan mereka aman, Danghyang Nirartha pun ikut berlayar menuju Lombok bersama rombongan pelaut itu untuk melanjutkan tugas sucinya di tanah seberang. Batu yang semula memancarkan cahaya suci itu tetap berdiri kokoh di tempatnya, dan sejak saat itu dipercaya masyarakat sebagai titik suci tempat kekuatan suci Danghyang Nirartha melekat selamanya, sementara bentuk alaminya yang persis menyerupai perahu semakin mengukuhkan makna peristiwa pertolongan yang pernah terjadi di tempat tersebut.
 
Secara asal usul fisik, bagian utama dari bangunan ini adalah batu karang vulkanik yang terbentuk secara alami melalui proses geologis yang berlangsung ribuan tahun lamanya, bukan hasil buatan tangan manusia pada awalnya. Baru kemudian pada masa pemugaran besar yang dilaksanakan antara tahun 1993 hingga 1994, di atas batu karang alami tersebut dibangunlah pelinggih berbentuk perahu atau jukung yang terbuat dari susunan batu dan beton, yang dibuat sebagai tanda peringatan abadi atas peristiwa pertolongan yang dilakukan Danghyang Nirartha sekaligus menjadi sarana penghormatan yang layak bagi para pemohon keselamatan dalam pelayaran. Setelah seluruh pekerjaan pembangunan dan penataan selesai, dilaksanakanlah upacara penyucian puncak yang diberi nama Ngenteg Linggih pada tanggal 8 Agustus 1998, sebagai tanda bahwa tempat suci itu telah sempurna dan siap kembali disucikan serta digunakan untuk persembahyangan oleh seluruh masyarakat.
 
Selain kisah yang tertulis dalam naskah kuno, masyarakat setempat juga mewariskan cerita rakyat yang turun-temurun mengenai keberadaan batu besar ini. Konon pada zaman dahulu kala, ketika Pulau Bali belum sepenuhnya stabil posisinya di permukaan bumi, para Bhatara turun tangan untuk menimbang berat pulau ini dan ternyata bagian timur dari wilayah Bali Utara lebih ringan dibandingkan bagian lainnya. Agar pulau ini menjadi seimbang, tidak mudah bergeser, dan selalu terjaga keamanannya, maka diletakkanlah tumpukan batu besar yang berat di kawasan Ponjok Batu ini. Hal lain yang semakin memperkuat kesucian tempat ini adalah ditemukannya sisa-sisa sarkofagus atau peti batu purba yang diperkirakan berusia sekitar 2500 hingga 3000 tahun sebelum masehi di sekitar area pura, yang membuktikan bahwa lokasi ini sudah dihormati dan dijadikan tempat suci oleh nenek moyang kita jauh sebelum masa kedatangan Danghyang Nirartha ke wilayah ini.
 
Hingga saat ini, batu berbentuk perahu di Ponjok Batu itu tetap berdiri kokoh menjadi simbol yang penuh makna, terutama sebagai lambang keselamatan, tanda nyata akan pertolongan Tuhan yang senantiasa hadir di saat sulit, serta pelindung utama bagi para pelaut dan nelayan yang menggantungkan hidupnya di laut luas. Keberadaannya menjadi bagian tak terpisahkan dari susunan pelinggih yang ada di lingkungan Pura Ponjok Batu, sehingga tak jarang dikunjungi oleh umat yang datang dari berbagai daerah untuk melaksanakan persembahyangan, memohon keselamatan saat akan berlayar, kelancaran dalam segala usaha yang dijalankan, serta perlindungan dari segala macam bahaya yang mungkin datang tiba-tiba. Masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan ini pun masih memegang teguh keyakinan bahwa cahaya suci yang pernah dilihat para pelaut zaman dahulu itu masih kadang terlihat samar di sekitar batu karang tersebut, menjadi tanda bahwa kekuatan dan kesucian tempat ini tak akan pernah padam oleh waktu, dan senantiasa menjaga setiap orang yang melintas di perairan yang dikelilingi ombak yang berkejaran itu.
 
 
 

27.6.26

Warisan Ritual di Tejakula

Warisan Ritual di Tejakula
 
Dengerin ya, cerita dari orang-orang tua di kampungku, Tejakula. Dulu banget, zaman kakek moyang kita masih hidup, nggak ada tuh yang namanya tradisi ngaben kayak yang sekarang umum kita lihat. Kalau ada warga yang meninggal dunia, cara mengantar arwahnya ke alam baka itu pakai ritual yang namanya Metuwun dan Metulen.
 
Kedua upacara ini sebenernya fungsinya mirip banget sama ngaben. Tujuannya tetap sama, yaitu memisahkan roh dari jasad, menyucikan, dan mengantarkannya supaya bisa bersatu kembali dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bedanya mungkin ada di tata cara dan peralatan yang dipakai, lebih sederhana dan khas banget sama kebiasaan asli warga Tejakula dulu. Lama-kelamaan, seiring berjalannya waktu dan makin banyaknya pertukaran adat antar daerah, barulah kita di sini mengenal dan mulai melaksanakan tradisi ngaben seperti yang dikenal luas sekarang. Jadi bisa dibilang, Metuwun dan Metulen itu adalah bentuk tradisi asli leluhur kita sebelum mengenal ngaben.
 
Selain itu, di kampungku juga punya upacara unik yang namanya Mekarye Bakti. Kalau dibandingkan dengan tradisi yang lebih umum, ini mirip banget sama upacara Ngerorasin. Cuma jalannya saja yang dikemas dengan cara khas tradisi Tejakula, jadi punya ciri khas tersendiri yang nggak dimiliki daerah lain.
 
Terus ada lagi satu ritual yang nggak kalah sakral, namanya Ngantukang Bulu Geles. Upacara ini digelar secara khusus di Pura Suci Tejakula. Kalau kamu pernah dengar tradisi Nyegara Gunung, ya ini versi aslinya dari kampungku. 
 
Jadi begitulah, adat dan tradisi di Tejakula itu nggak datang tiba-tiba. Semua punya sejarahnya sendiri, berkembang seiring waktu, tapi tetap menjaga inti dan makna yang diajarkan oleh leluhur kita. Meskipun ada yang berubah atau berganti nama, tujuannya tetap satu: menjaga kesucian, keharmonisan, dan rasa syukur kita kepada Tuhan dan alam semesta.

Mengguh: Bubur Khas Tejakula Yang, Kaya Rasa.

Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, tersimpan satu warisan kuliner yang tetap terjaga hingga kini: Mengguh. Bukan sekadar bubur biasa, Mengguh adalah hidangan tradisional yang menjadi identitas masyarakat setempat, dilestarikan secara turun-temurun dan tetap menjadi favorit di tengah perubahan zaman.
 
Berbeda dengan bubur pada umumnya, Mengguh memiliki cita rasa gurih yang mendalam dan kaya akan rempah. Tekstur kuahnya kental, menjadikannya pas disantap sebagai menu sarapan sehari-hari atau saat musim hujan dan udara terasa dingin, karena mampu memberikan kehangatan bagi tubuh.
 
Salah satu varian yang paling terkenal adalah Mengguh Kedongkol. Sesuai namanya, bubur beras ini dicampur dengan sayur kedongkol, dan seringkali ditambahkan kacang panjang serta tauge untuk melengkapi isiannya. Sebagai lauk utamanya digunakan daging ayam yang disuir halus. Penyajiannya semakin lengkap dengan siraman bumbu kacang, taburan bawang goreng, dan kerupuk yang menambah tekstur renyah.
 
Ada juga versi lain yang menggunakan santan, memberikan rasa lebih gurih dan lembut. Bumbu yang dipakai adalah bumbu gede atau bumbu genap — racikan rempah lengkap yang dihaluskan, menjadi kunci keistimewaan rasanya. Hidangan ini paling nikmat disantap bersama urap dari kelapa parut yang dibumbui. Perpaduan rasa gurih, sedikit pedas dari bubur dan kesegaran urap menciptakan cita rasa yang khas dan "nendang" di lidah.
 
Selain itu, dikenal pula varian Mengguh Cina. Versi ini sedikit berbeda, menggunakan tambahan mie serta isian berupa ikan laut atau daging ayam suwir, sehingga memiliki karakteristik rasa yang unik dibandingkan varian aslinya.
 
Secara gizi, Mengguh bisa disebut sebagai hidangan yang lengkap. Karbohidrat didapatkan dari beras dan mie, protein berasal dari ayam, ikan, serta kacang, sementara sayuran melengkapi kebutuhan serat. Ditambah dengan kekayaan rempah yang memiliki manfaat bagi kesehatan, menjadikan Mengguh bukan hanya sekadar makanan pengisi perut, melainkan bagian dari warisan budaya yang tetap hidup dan dicintai masyarakat Tejakula.

10.6.26

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.Oleh Made Budilana

Cerpen Galungan di Tanah Tejakula.
Oleh Made Budilana 
 
Pagi itu, udara masih sejuk berhembus dari arah laut saat kami sekeluarga berangkat dari rumah. Hari itu adalah Hari Raya Galungan, hari yang paling dinanti-nantikan. Sejak pagi buta, kami sudah bersiap: mengenakan baju adat berwarna cerah, membawa persembahan yang telah disiapkan sehari sebelumnya, dan berjalan menuju berbagai pura yang ada di wilayah Tejakula.
 
Perjalanan pertama yang kami tuju adalah Pura Puseh Desa Tejakula. Di sana, halaman pura sudah ramai dipenuhi warga yang juga datang sembahyang. Aroma dupa dan bunga tercium harum. Kami duduk bersila, memanjatkan doa bersama, memohon keselamatan dan keberkahan untuk seluruh keluarga serta seluruh desa. 

Setelah selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Pura Desa atau yang lebih populer dengan sebutan pura Bale Agung. Di tempat ini, suasana terasa lebih hidup. Banyak tetangga dan kerabat yang saling menyapa, saling mengucapkan selamat hari raya Galungan. Kami meletakkan persembahan di tempat yang telah disediakan, memohon agar persatuan dan kedamaian senantiasa terjaga di antara seluruh warga. 

Perjalanan kami tidak berhenti di situ. Sebagai masyarakat pesisir, kami pun berkunjung ke Pura Segara. Berada di dekat bibir pantai, suara ombak yang bergulung menjadi irama alami saat kami bersembahyang. Di sini, kami memohon perlindungan bagi para nelayan yang setiap hari mencari nafkah di laut, serta mengucapkan syukur atas hasil laut yang melimpah. Angin yang bertiup terasa membawa kedamaian tersendiri, seolah alam ikut merayakan kemenangan dharma.
 
Tak lupa, kami juga menyempatkan diri Tangkil ke Pura Dalem dan beberapa pura kecil lainnya. Di setiap tempat, makna yang kami rasakan sedikit berbeda namun tetap saling melengkapi: ada rasa hormat, syukur, harapan, dan rasa memiliki yang mendalam. Berjalan dari satu pura ke pura lain bersama keluarga, membuat saya menyadari bahwa Galungan bukan sekadar upacara, melainkan momen untuk mempererat ikatan keluarga, mencintai tanah kelahiran, dan mengingat bahwa kebaikan harus selalu ditegakkan.
 
Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat, kami kembali ke rumah dengan hati yang ringan dan tenang. Pengalaman sembahyang di berbagai pura di Tejakula itu menjadi kenangan indah yang selalu saya simpan: bagaimana setiap sudut tanah ini memiliki cerita suci, dan bagaimana bersama keluarga, kami merayakan keberkahan yang turun di hari yang istimewa ini.

1.5.26

Lontar Desa Adat Tejakula.

Di Desa Adat Tejakula, Kabupaten Buleleng, sejarah dan aturan hidup bukan hanya sekadar cerita lisan yang diwariskan dari mulut ke mulut. Semuanya tertulis rapi, teratur, dan terjaga kelestariannya dalam bentuk naskah-naskah lontar pusaka. Ribuan baris tulisan di atas daun kering ini menjadi bukti nyata tingginya peradaban masyarakat setempat yang memiliki sistem kehidupan yang sangat terstruktur, mulai dari hukum adat, upacara keagamaan, hingga sejarah asal-usul desa.
 
Sumber hukum adat yang paling utama dan menjadi landasan kehidupan bermasyarakat terdapat dalam Lontar Sima Desa Tejakula atau yang dikenal juga sebagai Awig-Awig Desa Liran dengan nomor inventaris No. 798 yang tersimpan di Museum Gedong Kirtya. Ditulis pada tahun 1932 Masehi, lontar ini memuat segala hal tentang batas wilayah desa, aturan adat atau dresta, serta tata cara pelaksanaan Dewa Yadnya, Pitra Yadnya, hingga Bhuta Yadnya yang khas dan berbeda dengan daerah lain. Inilah kitab undang-undang adat yang dipatuhi oleh seluruh masyarakat Tejakula sejak zaman dahulu.
 
Kekayaan budaya spiritual mereka terlihat jelas dari bagaimana mereka memperlakukan kematian dan leluhur. Hal ini tertuang dalam Lontar Dresta Pitra Yadnya Tejakula. Naskah ini menjadi pedoman upacara kematian ala masyarakat Bali Aga di sana. Disebutkan bahwa sebelum tahun 1980-an, tradisi yang berlaku masih sangat asli, meliputi ritual Metulen yang dilakukan hari ke-42, Metuwun setahun setelah kematian, hingga prosesi unik Ngantukang Bulu Geles yang memiliki makna mendalam dalam perjalanan roh menuju alam baka.
 
Keunikan Tejakula juga tercermin dalam upacara persembahannya. Hal ini tercatat dalam Lontar Purana Pura Sekar Tejakula, yang sering disebut sebagai "prasasti daun lontar" yang tersimpan di Pura Sekar, Banjar Tegal Sumaga. Di sana tertulis jadwal piodalan yang jatuh pada Anggara Kliwon sasih Kapat, Kalima, Kanem, dan Kadasa. Yang paling menakjubkan adalah daftar upakara atau sarana persembahannya yang sangat beragam, mulai dari hewan ternak biasa hingga hewan khas seperti kijang, landak, dan trenggiling, menunjukkan kekayaan alam dan simbolisme yang dimiliki desa tersebut.
 
Keseimbangan antara kehidupan dunia dan spiritual juga dijaga melalui pemujaan di tempat-tempat suci. Terdapat Lontar Purana Pura Dalem Tejakula yang menceritakan sejarah dan sesajen untuk Pura Dalem Kangin dan Dalem Kauh, serta menyebutkan sosok Ratu Ayu sebagai pengiring setia Ida Bhatara. Ada pula Lontar Purana Pura Segara Tejakula yang secara khusus mengatur tata cara pemujaan terhadap laut, meliputi pengaci-aci, ritual nalenin, dan ngaturang pekelem, sebagai wujud rasa syukur dan harmoni masyarakat Tejakula dengan alam samudra yang menjadi sumber kehidupan mereka.
 
Keseluruhan tempat suci di desa ini tercatat lengkap dalam Lontar Raja Purana Pura Desa/Puseh/Bale Agung Tejakula. Naskah ini merupakan Rajapurana atau catatan sejarah Kahyangan Tiga dan tempat suci lainnya. Disebutkan bahwa di Tejakula terdapat lima pura besar yang menjadi pusat kehidupan spiritual, yaitu Pura Dalem Kangin, Dalem Kauh, Pura Puseh, Pura Bale Agung, dan Pura Segara.
 
Sejarah asal-usul dan silsilah penduduknya pun terdokumentasi dengan sangat baik. Lontar Usana Bali versi Tejakula menceritakan tentang pembagian wilayah oleh para bangsawan Arya dan masyarakat Pasek di kawasan Buleleng Timur, termasuk penyebutan wilayah kekuasaan atau linggih Arya Tatar dan Arya Belog di daerah ini. Sementara itu, Lontar Yama Purana Tatwa versi Tejakula menjadi pedoman ajaran kematian dengan tambahan catatan khusus atau sesuratan yang unik di sana. Dan yang melengkapi semua itu adalah Lontar Pamancangah Desa Tejakula, yang mencatat silsilah para pemimpin desa, mulai dari panglingsir, bendesa, hingga mangku, sejak zaman dahulu ketika desa ini masih bernama Hiliran atau Paminggir hingga masa kini.
 
Kebanyakan dari lontar-lontar berharga ini bersifat khusus, yaitu Dresta Desa dan Purana Pura. Hingga saat ini, naskah-naskah aslinya masih tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja. Sayangnya, tidak semua lontar ini sudah dialihaksarakan dan diterjemahkan untuk umum, sehingga masih menyimpan banyak misteri dan ilmu pengetahuan yang menunggu untuk digali lebih dalam oleh generasi penerus.

29.4.26

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Sejarah Panjang Desa Tejakula.

Di kawasan utara Pulau Bali yang indah, tepatnya di Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah desa yang menyimpan catatan sejarah yang sangat panjang dan berharga, yaitu Desa Tejakula. Nama ini mungkin sudah sangat akrab di telinga kita sekarang, namun tahukah kamu bahwa ratusan tahun yang lalu, desa ini memiliki nama-nama lain yang tertulis dengan tinta emas di atas batu-batu prasasti peninggalan raja-raja masa lampau? Jejak keberadaan desa ini bukan sekadar cerita lisan, melainkan telah dibuktikan secara ilmiah dan historis melalui beberapa prasasti kerajaan kuno yang hingga kini masih menjadi saksi bisu perjalanan waktu.
 
Salah satu bukti tertua yang mencatat keberadaan wilayah ini adalah Prasasti Raja Janasadhu Warmadewa yang dikeluarkan pada tahun 975 Masehi atau bertepatan dengan tahun Icaka 897. Dalam naskah kuno ini, nama desa ini belum disebut sebagai Tejakula, melainkan disebut dengan nama "Hiliran". Isi dari prasasti tersebut sangat menarik karena mencatat tentang pembagian tugas dan kewajiban masyarakat pada masa itu. Disebutkan bahwa Desa Julah, Indrapura, Buwundalem, dan juga Hiliran memiliki kewajiban untuk secara bergilir menjaga, memperbaiki tempat suci, serta merawat jalan-jalan yang menjadi urat nadi kehidupan saat itu. Hal ini membuktikan bahwa sejak seribu tahun yang lalu, wilayah Hiliran sudah merupakan sebuah pemukiman yang teratur, memiliki struktur masyarakat yang jelas, dan ikut serta dalam menjaga kelestarian lingkungan serta tempat ibadah. Saat ini, batu bersejarah peninggalan Raja Janasadhu Warmadewa tersebut tersimpan dengan baik di Desa Sembiran, menjadi bukti nyata hubungan erat antar desa-desa di wilayah utara Bali pada masa lampau.
 
Seiring berjalannya waktu, nama wilayah ini pun mengalami perubahan. Hal ini tercatat dengan jelas dalam Prasasti Raja Jaya Pangus yang dibuat pada tahun 1181 Masehi atau tahun Icaka 1103. Pada prasasti ini, nama desa tersebut sudah tidak lagi disebut sebagai Hiliran, melainkan berubah menjadi "Paminggir". Nama ini kemudian terus digunakan dan diperkuat kembali dalam catatan sejarah berikutnya, yaitu pada Prasasti Raja Eka Jaya Lancana yang bertarikh tahun 1200 Masehi atau Icaka 1122. Di dalam prasasti ini, nama "Paminggir" kembali disebutkan secara tegas dalam daftar desa-desa penting yang ada di kawasan tersebut, bersanding dengan nama-nama desa lain seperti Les, Buhundalem, Julah, Purwasidhi, Indrapura, Bulihan, dan Manasa. Keberadaan nama Paminggir yang berulang dalam berbagai prasasti dari masa yang berbeda menunjukkan bahwa nama ini merupakan identitas resmi yang digunakan masyarakat selama berabad-abad sebelum akhirnya berubah lagi di kemudian hari.
 
Dari catatan-catatan sejarah tersebut, kita dapat menarik benang merah yang sangat jelas: Hiliran = Paminggir = Tejakula. Ketiga nama itu adalah satu tempat yang sama, hanya mengalami perubahan penyebutan seiring pergantian zaman. Secara makna, kata "Paminggir" maupun "Hiliran" memiliki arti yang sangat mendalam, yaitu "tepi" atau "batas". Ini sangat masuk akal secara geografis karena letak wilayah ini memang berada di tepian atau batas-batas wilayah tertentu pada masa kerajaan kuno, baik itu batas wilayah kekuasaan maupun batas alam seperti pesisir atau aliran sungai.
 
Nama "Tejakula" yang kita kenal dan banggakan saat ini sebenarnya adalah nama yang dipakai belakangan, namun memiliki akar bahasa dan filosofi yang sangat indah. Nama ini berasal dari gabungan dua kata, yaitu "Teja" yang berarti cahaya, sinar, atau wibawa, dan "Kula" yang berarti kaum, keluarga, atau juga bermakna tepi dan batas. Jadi, Tejakula dapat diartikan sebagai "cahaya yang bersinar di tepian" atau "keluarga yang memiliki wibawa di batas wilayah". Sebuah nama yang sangat gagah dan penuh harapan, seolah meramalkan bahwa desa ini kelak akan menjadi tempat yang bersinar, maju, dan dihormati oleh banyak orang.
 
Melihat kembali jejak sejarah yang tertulis di atas batu keras ini, kita sebagai generasi penerus patut merasa bangga. Desa Tejakula bukanlah desa yang muncul begitu saja, melainkan sebuah desa tua yang memiliki peradaban tinggi, telah diakui keberadaannya oleh para raja besar, dan telah melewati berbagai masa sejak zaman Janasadhu Warmadewa, Jaya Pangus, hingga Eka Jaya Lancana. Dari Hiliran yang sederhana, menjadi Paminggir yang kokoh, hingga kini menjadi Tejakula yang bersinar terang, sejarah ini mengajarkan kita untuk selalu menghargai akar leluhur dan menjaga nama baik desa yang telah dijaga dengan baik oleh nenek moyang kita selama ribuan tahun.

19.3.26

Tradisi Perang Sambuk Desa Adat Tejakula.

Ritual Perang Sambuk Desa Adat Tejakula.
 
Di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, terdapat sebuah tradisi unik yang penuh dengan makna filosofis dan kekuatan magis, yang dikenal dengan nama Perang Sambuk. Tradisi ini bukanlah perang sungguhan yang menimbulkan luka fisik, melainkan sebuah ritual sakral yang telah diwariskan turun-temurun dan tertulis dengan jelas dalam naskah-naskah lontar kuno. Keberadaan tradisi yang luar biasa ini menjadi bukti tingginya peradaban dan kearifan lokal masyarakat Tejakula dalam menjaga keseimbangan alam dan keselamatan desa.
 
Sumber utama yang menjadi landasan hukum adat dan tata cara pelaksanaan upacara ini tercatat dalam Lontar Sima Desa Tejakula yang juga sering disebut sebagai Awig-Awig Desa Liran. Naskah bersejarah ini memiliki nomor koleksi No. 798 yang tersimpan rapi di Museum Gedong Kirtya, Singaraja. Lontar ini ditulis pada tahun 1932 Masehi atau bertepatan dengan tahun Icaka 1854 oleh para tetua desa atau manggala desa pada masa itu. Di dalamnya, tidak hanya tertulis aturan-aturan hidup bermasyarakat, tetapi juga secara spesifik mencatat tata cara pelaksanaan ngoncang dan perang sambuk sebagai bagian dari dresta atau adat istiadat desa yang wajib dilestarikan saat pelaksanaan upacara besar.
 
Selain itu, terdapat pula naskah khusus yang membahas secara mendalam mengenai tradisi setempat, yaitu Lontar Dresta Tejakula. Lontar ini secara khusus merekam segala bentuk tradisi lokal yang khas di Tejakula. Di sana dijelaskan bahwa Perang Sambuk adalah sebuah ritual perang yang menggunakan sarana berupa sabut kelapa yang dibakar. Tradisi sakral ini biasanya digelar secara meriah pada saat Notog atau pada hari suci Pengerupukan. Tujuan utamanya adalah sebagai sarana tolak bala, memohon agar desa terhindar dari segala marabahaya, wabah penyakit, dan gangguan alam yang tidak diinginkan.
 
Secara pelaksanaan, Perang Sambuk dilakukan dengan cara membagi masyarakat menjadi dua kelompok besar. Kedua kelompok ini saling melempar sabut kelapa yang sudah dilumuri minyak dan dinyalakan hingga membara menyala. Pukulan dan lemparan itu dilakukan dengan semangat kegembiraan, namun tetap dalam koridor kesopanan dan aturan adat. Yang membuat tradisi ini semakin magis adalah karena dilakukan pada malam hari yang gelap, tepatnya di halaman depan atau jaba Pura Desa. Saat itulah, ratusan titik api beterbangan di udara, menciptakan pemandangan yang luar biasa indah sekaligus menakjubkan.
 
Di balik keseruan dan kegembiraan tersebut, tersimpan makna yang sangat dalam. Perang Sambuk bukan sekadar permainan, melainkan memiliki simbolisme yang kuat. Sabut kelapa yang menyala melambangkan Cahaya atau Teja, yaitu kekuatan positif, kebenaran, dan ilmu pengetahuan. Sedangkan malam yang gelap dan asap yang mengepul melambangkan Kegelapan, ketidaktahuan, kejahatan, dan energi negatif. Jadi, ritual ini adalah perwujudan simbolis dari perang abadi antara terang dan gelap, di mana pada akhirnya cahaya kebaikanlah yang akan menang dan membersihkan seluruh desa dari energi buruk.
 
Bagi masyarakat Tejakula, tradisi ini adalah jati diri mereka. Melalui Lontar Sima Desa Tejakula No. 798 dan Lontar Dresta Tejakula, generasi muda diingatkan bahwa warisan leluhur ini harus terus dijaga dan dilestarikan. Siapa pun yang ingin mempelajari lebih dalam mengenai akar budaya Tejakula, dapat menelusuri naskah aslinya yang tersimpan dengan baik di Museum Gedong Kirtya Singaraja, sehingga sejarah dan keindahan ritual Perang Sambuk ini tidak akan pernah pudar dimakan zaman.

26.2.26

Pantai Bembeng Di Desa Tejakula.

Pantai Bembeng terletak di Desa Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali. Nama "Bembeng" sendiri diambil dari bahasa Bali yang berarti "menutup" atau "tertutup", sesuai dengan karakteristik pantainya yang relatif terlindungi dan tidak terpapar langsung ombak besar dari lautan Jawa.
 
Pantai Bembeng memiliki bentuk cekungan yang membuatnya terkesan "tertutup", sehingga ombaknya umumnya tenang dan aman untuk berenang atau sekadar bermain air bersama keluarga. Pasir pantainya berwarna kecoklatan dengan tekstur yang lembut, .
 
Meskipun belum terlalu dikenal dibandingkan pantai-pantai besar di Bali, Pantai Bembeng menawarkan pengalaman wisata yang tenang dan jauh dari keramaian. Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan di sini antara lain berenang, berjemur, serta jalan-jalan menikmati pemandangan matahari terbenam, serta eksplorasi sekitar pantai untuk menemukan keindahan alam tersembunyi.
 
Desa Tejakula sendiri juga kaya akan budaya Bali asli, sehingga wisatawan bisa menggabungkan kunjungan ke Pantai Bembeng dengan mengunjungi pura lokal atau mencicipi masakan khas daerah.
 
Untuk mencapai Pantai Bembeng, dapat ditempuh dengan kendaraan pribadi atau sewaan dari kota Singaraja sekitar 30-40 menit perjalanan. 

30.1.26

Legenda Bukit Sangkur di Desa Tejakula

Pada masa lampau, di wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Tejakula, hidup seorang pria bernama Pak Wayan yang sangat gemar berjudi dan mengasuh ayam jago. Ia memiliki sepasang ayam jago jenis khas lokal yang disebut ayam sangkur—dikenal dengan bulu yang gagah, kaki yang kuat, dan kecepatan serta kehebatan dalam adu ayam yang tak tertandingi.
 
Pak Wayan sering mengadakan ajang adu ayam di sekitar lereng bukit yang masih tak bernama. Ia terkenal sebagai penjudi yang jujur, selalu menghormati aturan dan tidak pernah mengkhianati lawan mainnya. Meskipun suka berjudi, ia juga sering berbagi rejekinya dengan warga yang membutuhkan, sehingga banyak yang menghargainya.
 
Suatu ketika, sebuah wabah melanda desa dan banyak orang menderita kelaparan. Pak Wayan menggunakan semua harta yang dimilikinya dari hasil perjudian untuk membeli makanan dan membantu masyarakat. Ketika ia tidak punya lagi apa-apa, bahkan harus menjual ayam sangkur kesayangannya untuk menyelamatkan lebih banyak orang.
 
Setelah wabah berlalu dan desa kembali damai, Pak Wayan wafat karena kelelahan. Tak lama kemudian, bukit yang dulu menjadi tempat ia mengadakan adu ayam mulai menunjukkan keajaiban—banyak ayam sangkur yang muncul di sekitarnya, dan warga sering merasakan kehadiran yang melindungi mereka dari bahaya. Masyarakat yakin bahwa roh Pak Wayan telah menjadi penjaga bukit tersebut, bersama dengan roh ayam sangkur kesayangannya.
 
Untuk menghormati jasanya dan makhluk kesayangannya, bukit tersebut kemudian dinamakan Bukit Sangkur, dan hingga kini diyakini sebagai tempat tinggal roh penjudi baik hati dan ayam sangkurnya yang selalu melindungi Desa Tejakula.
 
( Cerita ini hanyalah fiktif belaka yang ditulis oleh Made Budilana)

Legenda Bukit Ngandang di Desa Tejakula.

Pada zaman dahulu kala, di Desa Tejakula yang damai, hiduplah seorang wanita muda yang baik hati bernama Ni Luh. Ia sangat menghormati ibu mertuanya, Ibu Made, yang sudah berusia lanjut dan memiliki banyak uban di kepalanya.
 
Suatu sore yang tenang, Ni Luh sedang duduk di halaman rumah, membantu Ibu Made mencabut uban satu per satu dengan hati-hati. Keduanya sedang berbincang santai tentang kehidupan desa, ketika tiba-tiba ada suara gemuruh yang lembut datang dari kejauhan. Ni Luh mengangkat pandang dan terkejut luar biasa—sebuah bukit yang biasanya berdiri kokoh di kejauhan ternyata sedang bergerak perlahan menuju arah mereka!
 
Matanya melebar kaget, tangannya yang sedang memegang uban pun terhenti seketika. Ia tidak bisa berkata apa-apa, hanya menatap dengan tercengang pada bukit yang berjalan itu. Saat rasa terkejutnya muncul, dengan cepat bukit itu berhenti total dan tidak lagi bergerak sama sekali.
 
Sejak saat itu, bukit tersebut tidak pernah bergerak lagi. Masyarakat Desa Tejakula kemudian memberi nama Bukit Ngandang pada bukit tersebut, karena dalam bahasa Bali, "ngandang" berarti diam atau tidak bergerak. Kisah ini pun diteruskan dari generasi ke generasi sebagai bagian dari warisan budaya lokal.

(Cerita ini ditulis oleh Made Budilana)
 

10.12.25

Kayoan Tejakula.

Kayoan Tejakula, atau Pemandian Umum Tejakula, adalah sebuah tempat mandi umum yang terletak di Desa Tejakula, Buleleng, Bali. Tempat ini telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat setempat dan masih digunakan hingga hari ini. Kayoan Tejakula bukan hanya sekadar tempat membersihkan tubuh, tetapi juga ruang untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

Kayoan Tejakula memiliki sejarah yang panjang, yaitu sejak zaman penjajahan Belanda. Pada saat itu, tempat ini digunakan sebagai lokasi pemandian kuda putih milik para pejabat kolonial. Setelah kemerdekaan, Kayoan Tejakula menjadi tempat pemandian umum yang digunakan oleh masyarakat setempat.

Kayoan Tejakula memiliki beberapa fitur yang unik, antara lain:

1) Air di Kayoan Tejakula berasal langsung dari Desa Kutuh, di lereng Danau Batur, sehingga sangat segar dan alami.

2) Kayoan Tejakula memiliki pemandian terpisah untuk pria dan wanita, sehingga masyarakat setempat dapat mandi dengan bebas dan nyaman.
3) Kayoan Tejakula memiliki ukiran-ukiran tradisional Bali yang menghiasi dinding, menambah keindahan dan nilai budaya.

Kayoan Tejakula mengandung nilai filosofis yang dalam, yaitu:

1) Kayoan Tejakula merupakan tempat untuk memaknai kebersamaan dan nilai-nilai luhur.

2) Kayoan Tejakula mengajarkan pengendalian diri dan menghormati orang lain.

3) Kayoan Tejakula merupakan contoh kesederhanaan dan kehidupan yang sederhana.

Sejarah Desa Tejakula.

Desa Tejakula, yang terletak di Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, memiliki sejarah panjang yang terkait erat dengan perdagangan kuno, pengaruh budaya luar, dan perkembangannya menjadi tempat yang kaya akan warisan budaya. Berikut adalah ringkasan sejarahnya.
 
Sejak abad ke-9 Masehi, Tejakula dikenal sebagai pelabuhan penting yang menghubungkan Bali dengan wilayah lain, terutama Pulau Jawa, Sriwijaya, dan bahkan negara-negara Asia Tenggara. Nama "Tejakula" sendiri berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "Teja" yang berarti sinar dan "Kula" berarti batu, yang dipercaya merujuk pada batu bersinar. kemungkinan karena peranannya sebagai pelabuhan yang ramai dan terang malam hari.
 
Pada masa itu, Tejakula menjadi pintu masuk barang-barang berharga seperti rempah-rempah, tembaga, dan kain, serta sarana pertukaran budaya dan agama. Pengaruh agama Hindu dari Jawa dan India mulai masuk ke daerah ini, yang terlihat dari pembangunan candi-candi kuno.
 
Pada abad ke-19 Masehi, Bali termasuk dalam wilayah kekuasaan Kerajaan Buleleng. Ketika Belanda menduduki Bali pada awal abad ke-20, Tejakula menjadi bagian dari wilayah pemerintahan kolonial. Meskipun demikian, budaya dan tradisi lokal tetap terjaga dengan baik.
 
Setelah kemerdekaan Indonesia, Tejakula berkembang sebagai daerah pertanian. dan kemudian mulai dikenal sebagai destinasi wisata pada akhir abad ke-20. Keindahan pantai, pura, dan kehidupan masyarakat lokal yang asli menarik wisatawan dari dalam dan luar negeri.
 
Hari ini, Tejakula adalah desa yang menggabungkan keindahan alam (pantai, gunung, dan sungai) dengan warisan budaya yang kaya. Wisatawan dapat mengunjungi dan menyaksikan upacara tradisional, atau hanya bersantai di pantai yang tenang. Desa ini juga dikenal dengan ukiran dari pasir hitam.

19.11.25

Tejakula Merupakan Permata Tersembunyi di Bali Utara.

Tejakula adalah sebuah desa yang kaya akan sejarah dan keindahan alam, terletak di Kabupaten Buleleng, Bali Utara. Nama Tejakula sendiri memiliki akar yang dalam, tercatat dalam prasasti Raja Janasadhu Warmadewa pada tahun 975 Masehi dengan sebutan "Hiliran" atau "Paminggir," yang berarti "tepi" atau "batas." Asal-usul nama Tejakula diyakini berasal dari kombinasi kata "Teja" (cahaya) dan "Kula" (tepi/warga), terkait dengan legenda tentang munculnya cahaya besar di wilayah ini.
 
Tejakula menawarkan pesona alam yang memikat, jauh dari hiruk pikuk keramaian wisatawan. Pantai berpasir hitam yang tenang adalah tempat yang sempurna untuk bersantai dan menikmati keindahan matahari terbit. Selain itu, terdapat Air Terjun Yeh Mampeh yang tersembunyi di desa Les, menambah keajaiban alam di kecamatan Tejakula. Bagi para petualang, hutan hujan yang rimbun menawarkan jalur hiking menantang dengan pemandangan spektakuler serta flora dan fauna yang unik.
 
Tejakula adalah mayoritas masyarakat Bali Aga, penduduk asli Bali yang teguh mempertahankan tradisi leluhur. Kehidupan desa diwarnai dengan upacara adat dan ritual tradisional yang dilestarikan dengan sungguh-sungguh. Anda dapat menyaksikan langsung bagaimana masyarakat Tejakula menjaga warisan budaya mereka.
 
Salah satu daya tarik Tejakula adalah para pengrajin ukiran kayu yang terampil. Mereka menciptakan karya seni yang indah, mulai dari pintu, pelinggih (tempat suci), hingga ukiran dari pasir hitam yang unik. Sentuhan seni tradisional ini memberikan karakter khas pada desa Tejakula.
 
Tejakula memiliki komitmen yang kuat terhadap ekowisata dan pelestarian lingkungan. Inisiatif ini tercermin dalam berbagai aspek kehidupan desa, mulai dari praktik pertanian organik hingga pengembangan akomodasi ramah lingkungan.
 
Jangan lewatkan kesempatan untuk menikmati hidangan laut segar dan bahan-bahan organik lokal yang menjadi ciri khas kuliner Tejakula. Cicipi cita rasa autentik Bali Utara yang akan memanjakan lidah Anda.
 
Tejakula menawarkan berbagai pilihan akomodasi yang sesuai dengan preferensi Anda, diantaranya Homestay Tradisional yaitu tempat menginap yang tak terlupakan bersama masyarakat lokal. Ada juga Eco-lodge, pilihan akomodasi ramah lingkungan yang mendukung pelestarian alam. Ada juga Villa dan Resort, tempat penginapan yang mewah dengan pemandangan laut yang menakjubkan.
 
Tejakula terletak di Buleleng timur, sekitar 30 km dari kota Singaraja. Anda dapat mencapai Tejakula dengan mobil atau skuter. Waktu terbaik untuk mengunjungi Tejakula adalah selama musim kemarau (April-Oktober).
 
Tejakula adalah destinasi yang menawarkan perpaduan sempurna antara keindahan alam, kekayaan budaya, dan ketenangan. Jika Anda mencari pengalaman yang unik dan autentik di Bali Utara, Tejakula adalah jawabannya.

2.11.25

Dongeng Asal Usul Bukit Sangkur Tejakula.

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Jaman dahulu kala, di sebuah desa yang makmur bernama desa Tejakula, hiduplah seorang raja yang bijaksana yang bernama Prabu Surya. Raja ini dikenal oleh rakyatnya sebagai pemimpin yang adil dan penyayang. Di sana, terdapat seorang pengawal setia bernama Gede Sangkur yang berasal dari desa Les. Gede bukan hanya pengawal biasa; dia adalah sosok yang gagah berani, cerdas, dan penuh dedikasi. Dalam setiap pertempuran, Gede selalu menang.

Suatu hari, saat raja dan Gede sedang berpatroli di perbatasan kerajaan, mereka mendengar kabar tentang ancaman dari raksasa yang tinggal di pegunungan. Raksasa tersebut dikenal dengan kebiasaan membuat kekacauan di desa-desa sekitar. Raja, yang khawatir akan keselamatan rakyatnya, memutuskan untuk menghadapi ancaman itu. Gede tanpa ragu siap mengikutinya.

Dalam pertempuran yang sengit, Gede menunjukkan keberaniannya. Dia berhasil mengalahkan raksasa tersebut dengan kecerdikan dan keberanian yang luar biasa. Setelah pertempuran, raja sangat terkesan dengan loyalitas dan keberanian Gede. Sebagai bentuk penghargaan, raja memanggil Gede ke istana dan memberikan hadiah yang layak: sebuah wilayah yang indah dan subur di perbukitan.

“Wilayah ini akan kau kelola, Gede,” kata raja. “Kami akan menyebutnya Bukit Sangkur, sebagai penghormatan untuk kesetiaanmu.”

Gede merasa sangat terharu. Ia tidak pernah mengharapkan hadiah sebesar itu. Di Bukit Sangkur, Gede membangun rumah yang sederhana namun nyaman. Ia mengajak rakyat untuk tinggal bersamanya, membangun pertanian, dan menciptakan kehidupan yang lebih baik. Wilayah itu perlahan-lahan berkembang menjadi desa yang subur, di mana masyarakat hidup rukun dan damai.

(Maaf ini hanya cerita fiktif belaka. Cocok untuk hiburan saja)


28.9.25

Kuliner Khas Desa Tejakula.

Tejakula, sebuah kecamatan yang terletak di Buleleng, Bali, tidak hanya menawarkan keindahan alam yang memukau, tetapi juga kekayaan kuliner yang menggugah selera. Jika Anda berencana mengunjungi Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi hidangan-hidangan khasnya yang unik dan lezat.
 
Bubur Mengguh: Kelezatan yang Menghangatkan Hati
 
Salah satu hidangan yang wajib dicoba adalah Bubur Mengguh. Sekilas, bubur ini memang mirip dengan bubur ayam Jakarta yang populer. Namun, ada sentuhan khas Bali yang membuatnya istimewa. Bubur Mengguh dimasak dengan santan, memberikan tekstur yang lembut dan rasa yang gurih. Disajikan dengan kuah kaldu ayam yang kaya rempah, suwiran ayam yang lezat, dan taburan kacang tanah goreng yang renyah, Bubur Mengguh adalah hidangan yang sempurna untuk menghangatkan hati dan memanjakan lidah Anda.
 
Ikan Bakar: Kenikmatan Seafood Segar di Tepi Pantai
 
Sebagai daerah pesisir, Tejakula juga terkenal dengan hidangan lautnya yang segar. Salah satu yang paling populer adalah ikan bakar. Anda dapat menemukan berbagai warung makan yang menawarkan menu ikan bakar dengan bumbu-bumbu khas Bali yang menggugah selera. Salah satu tempat yang direkomendasikan adalah Warung Sukun Spesial Ikan Bakar, yang terkenal dengan ikan bakarnya yang lezat dan segar.
 
Nasi Campur Bali: Harmoni Rasa dalam Setiap Sajian
 
Jika Anda ingin mencicipi berbagai macam hidangan Bali dalam satu piring, Nasi Campur Bali adalah pilihan yang tepat. Di Tejakula, Anda dapat menemukan hidangan ini dengan mudah di berbagai warung makan dan restoran. Nasi Campur Bali biasanya terdiri dari nasi putih yang disajikan dengan berbagai lauk seperti ayam betutu, lawar, sate lilit, sayur urap, dan sambal matah yang pedas.
 
Sate Lilit: Kelezatan Daging yang Lembut dan Kaya Rempah
 
Sate Lilit adalah hidangan khas Bali yang terbuat dari daging cincang yang dililitkan pada batang serai atau bambu, kemudian dibakar. Daging yang digunakan bisa berupa daging ayam, ikan, atau daging babi. Sate Lilit memiliki rasa yang kaya rempah dan tekstur yang lembut. Di Tejakula, Anda dapat menemukan sate lilit yang lezat di berbagai warung makan dan restoran.
 
Dengan kekayaan alam dan budayanya, Tejakula menawarkan pengalaman kuliner yang tak terlupakan. Jadi, jangan ragu untuk menjelajahi kelezatan kuliner khas Tejakula saat Anda berkunjung ke sana!

12.7.25

Tipat Cantok: Sajian Khas Tejakula yang Menggugah Selera.

Tipat Cantok, atau yang sering disebut juga dengan Santokan, merupakan salah satu hidangan khas Tejakula yang kaya rasa dan tekstur.  Sajian ini memadukan kelembutan ketupat (tipat dalam bahasa Bali) dengan berbagai sayuran rebus yang dipadu dengan bumbu kacang yang lezat.  "Cantok" sendiri berarti diuleg atau dihaluskan, merujuk pada proses pembuatan bumbu kacangnya yang diulek hingga halus.
 
Kombinasi sayuran yang umumnya digunakan adalah kacang panjang, tauge, dan kangkung, menciptakan perpaduan rasa dan tekstur yang unik.  Sayuran rebus yang segar berpadu sempurna dengan gurihnya bumbu kacang, menghasilkan cita rasa yang begitu khas dan menggugah selera.
 
Keunikan Tipat Cantok tak berhenti sampai di situ. Di beberapa daerah, seperti Tejakula di Kabupaten Buleleng Timur,  hidangan ini  ditambahkan dengan Mengguh atau bubur baik Mengguh Cine  maupun Mengguh.Sela. Penambahan Mengguh semakin menambah kekayaan rasa dan tekstur Tipat Cantok, memberikan pengalaman kuliner yang lebih lengkap dan memuaskan.
 
Tipat Cantok bukan sekadar makanan, melainkan juga representasi kekayaan kuliner Tejakula.  Sajian sederhana ini mampu menyatukan cita rasa lokal dengan teknik pengolahan yang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang luar biasa.  Jika Anda berkunjung ke Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan Tipat Cantok, untuk merasakan variasi unik dengan tambahan Mengguh.

29.10.24

Air Terjun Yeh Mampeh: Pesona Tersembunyi di Desa Les, Tejakula

Tersembunyi di tengah kehijauan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat sebuah permata alam yang menakjubkan: Air Terjun Yeh Mampeh. Juga dikenal sebagai Air Terjun Les, tempat ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang menenangkan, menjadikannya destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota.
 
Nama "Yeh Mampeh" memiliki arti yang kuat dalam bahasa Bali. "Yeh" berarti air, sedangkan "mampeh" berarti terbang. Nama ini sangat cocok menggambarkan air terjun ini, yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air yang jatuh dari ketinggian tersebut terlihat seperti terbang di udara, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
 
Selain keindahan air terjunnya yang mempesona, kawasan Air Terjun Yeh Mampeh juga menyimpan keajaiban lain: mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat bernama Toya Anakan. Mata air ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Les. Airnya digunakan untuk berbagai upacara keagamaan Yadnya, mencerminkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap alam.
 
Bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual yang mendalam, pengunjung diperbolehkan untuk melukat di Toya Anakan. Melukat adalah ritual penyucian diri yang dilakukan dengan menggunakan air suci. Namun, penting untuk diingat bahwa ada aturan yang harus diikuti saat melukat di sini, seperti mengenakan pakaian adat Bali dan memastikan tidak sedang dalam keadaan datang bulan.
 
Air Terjun Yeh Mampeh bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar melihat pemandangan indah, Air Terjun Yeh Mampeh adalah destinasi yang tepat untuk Anda.

27.10.24

Nama-Nama Pantai Di Tejakula.

(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)

Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

1. Pantai Camplung

Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar. 

2. Pantai Sekar

Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.

Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.

3. Pantai Segara

Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.

Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.

4. Pantai Penyorogan

Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.

Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.

5. Pantai Kayu Dui

Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.

Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.

6. Pantai Kapal

Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.

Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.

7. Pantai Bantes

Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.

Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.