12.7.25

Tipat Cantok: Sajian Khas Tejakula yang Menggugah Selera.

Tipat Cantok, atau yang sering disebut juga dengan Santokan, merupakan salah satu hidangan khas Tejakula yang kaya rasa dan tekstur.  Sajian ini memadukan kelembutan ketupat (tipat dalam bahasa Bali) dengan berbagai sayuran rebus yang dipadu dengan bumbu kacang yang lezat.  "Cantok" sendiri berarti diuleg atau dihaluskan, merujuk pada proses pembuatan bumbu kacangnya yang diulek hingga halus.
 
Kombinasi sayuran yang umumnya digunakan adalah kacang panjang, tauge, dan kangkung, menciptakan perpaduan rasa dan tekstur yang unik.  Sayuran rebus yang segar berpadu sempurna dengan gurihnya bumbu kacang, menghasilkan cita rasa yang begitu khas dan menggugah selera.
 
Keunikan Tipat Cantok tak berhenti sampai di situ. Di beberapa daerah, seperti Tejakula di Kabupaten Buleleng Timur,  hidangan ini  ditambahkan dengan Mengguh atau bubur baik Mengguh Cine  maupun Mengguh.Sela. Penambahan Mengguh semakin menambah kekayaan rasa dan tekstur Tipat Cantok, memberikan pengalaman kuliner yang lebih lengkap dan memuaskan.
 
Tipat Cantok bukan sekadar makanan, melainkan juga representasi kekayaan kuliner Tejakula.  Sajian sederhana ini mampu menyatukan cita rasa lokal dengan teknik pengolahan yang sederhana namun menghasilkan cita rasa yang luar biasa.  Jika Anda berkunjung ke Tejakula, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi kelezatan Tipat Cantok, untuk merasakan variasi unik dengan tambahan Mengguh.

29.10.24

Air Terjun Yeh Mampeh: Pesona Tersembunyi di Desa Les, Tejakula

Tersembunyi di tengah kehijauan Desa Les, Kecamatan Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, terdapat sebuah permata alam yang menakjubkan: Air Terjun Yeh Mampeh. Juga dikenal sebagai Air Terjun Les, tempat ini menawarkan keindahan alam yang memukau dan suasana yang menenangkan, menjadikannya destinasi yang sempurna untuk melarikan diri dari hiruk pikuk kehidupan kota.
 
Nama "Yeh Mampeh" memiliki arti yang kuat dalam bahasa Bali. "Yeh" berarti air, sedangkan "mampeh" berarti terbang. Nama ini sangat cocok menggambarkan air terjun ini, yang memiliki ketinggian sekitar 30 meter. Air yang jatuh dari ketinggian tersebut terlihat seperti terbang di udara, menciptakan pemandangan yang spektakuler.
 
Selain keindahan air terjunnya yang mempesona, kawasan Air Terjun Yeh Mampeh juga menyimpan keajaiban lain: mata air yang disucikan oleh masyarakat setempat bernama Toya Anakan. Mata air ini memiliki peran penting dalam kehidupan spiritual masyarakat Desa Les. Airnya digunakan untuk berbagai upacara keagamaan Yadnya, mencerminkan kepercayaan dan penghormatan masyarakat terhadap alam.
 
Bagi mereka yang mencari pengalaman spiritual yang mendalam, pengunjung diperbolehkan untuk melukat di Toya Anakan. Melukat adalah ritual penyucian diri yang dilakukan dengan menggunakan air suci. Namun, penting untuk diingat bahwa ada aturan yang harus diikuti saat melukat di sini, seperti mengenakan pakaian adat Bali dan memastikan tidak sedang dalam keadaan datang bulan.
 
Air Terjun Yeh Mampeh bukan hanya sekadar tempat wisata, tetapi juga tempat yang kaya akan sejarah, budaya, dan spiritualitas. Jika Anda mencari pengalaman yang lebih dari sekadar melihat pemandangan indah, Air Terjun Yeh Mampeh adalah destinasi yang tepat untuk Anda.

27.10.24

Nama-Nama Pantai Di Tejakula.

(Naskah ini ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang dalam majalah Bali)

Di wilayah Tejakula, Kabupaten Buleleng, Bali, ada beberapa pantai yang menyimpan sejarah dan cerita unik. Setiap pantai memiliki nama yang tak sekadar indah, tetapi juga memiliki makna khusus yang terikat erat dengan alam, budaya, dan kehidupan masyarakat setempat.

1. Pantai Camplung

Pantai Camplung menjadi yang pertama dalam daftar ini. Nama pantai ini terinspirasi dari pohon camplung yang tumbuh di tepian pantainya. Pohon camplung adalah pohon langka yang memiliki buah kecil berbentuk bulat dan sering digunakan oleh masyarakat sekitar sebagai obat tradisional. Pohon camplung yang ada di pantai tersebut sangat besar dan rindang, sehingga menjadi tempat berteduh bagi para nelayan dan warga sekitar. 

2. Pantai Sekar

Pantai Sekar terletak tidak jauh dari sebuah pura yang bernama Pura Sekar. Pura ini adalah tempat pemujaan bagi masyarakat Tejakula yang diyakini memberikan berkah bagi para penduduk desa di sekitarnya. Nama "sekar" dalam bahasa Bali berarti bunga, yang melambangkan keindahan dan keharuman alam.

Pada hari-hari tertentu, masyarakat mengadakan upacara dan persembahan di pura tesebut, mengharapkan keselamatan dari para dewa yang berstana di pura tersebut. Para pengunjung yang datang ke Pantai Sekar tak hanya bisa menikmati pasir pantai dan ombaknya yang tenang, tetapi juga merasakan suasana religius yang begitu kental. Setiap kali orang datang ke pantai ini, aroma dupa dari Pura Sekar yang berada di dekatnya seolah menyatu dengan semilir angin pantai, menciptakan suasana yang damai dan menenangkan hati.

3. Pantai Segara

Pantai Segara memiliki hubungan erat dengan Pura Segara, yang terletak tak jauh dari pantai. "Segara" dalam bahasa Bali berarti lautan atau samudra. Pura Segara merupakan pura yang didirikan khusus untuk memuja Dewa Baruna, dewa penguasa lautan, sebagai wujud rasa syukur dan permohonan perlindungan dari bahaya laut. Di masa lampau, sebelum para nelayan berangkat melaut, mereka biasanya berdoa di Pura Segara untuk mendapatkan hasil tangkapan yang baik.

Pura Segara sering kali menjadi lokasi bagi orang-orang yang ingin menghaturkan sembah bakti kepada Dewa Baruna. Suasana religius di pantai ini semakin terasa ketika ada upacara besar yang diadakan. Pada saat upacara berlangsung, di lokasi ini dipenuhi oleh suara gamelan dan tarian sakral yang dipersembahkan bagi para dewa. Pemedek yang datang akan merasakan kedamaian dan energi positif yang memancar dari setiap langkah ritual yang berlangsung di pantai ini.

4. Pantai Penyorogan

Pantai Penyorogan memiliki cerita unik dari asal-usul namanya. Kata "penyorogan" berasal dari kata "sorog" yang berarti dorong. Konon, pantai ini dulunya sering digunakan sebagai tempat untuk mendorong perahu-perahu nelayan ke lautan. Pada masa itu, perahu-perahu harus didorong dengan tenaga manual, menggunakan kekuatan para nelayan yang bekerja sama mendorong perahu ke ombak agar bisa berlayar.

Kini, Pantai Penyorogan menjadi simbol kerja keras dan semangat gotong-royong masyarakat desa. Para wisatawan yang berkunjung ke pantai ini masih bisa melihat sisa-sisa jejak sejarah, terutama saat pagi hari ketika para nelayan bersiap-siap untuk melaut. Di saat itulah, semangat dorong-mendorong yang dulu menjadi cikal bakal nama Pantai Penyorogan tampak hidup dalam kehidupan masyarakat yang terus melestarikan tradisi ini.

5. Pantai Kayu Dui

Pantai Kayu Dui memiliki nama yang cukup unik. "Kayu dui" dalam bahasa Bali berarti kayu berduri. Nama ini diberikan karena di sekitar pantai banyak tumbuh pohon berduri yang cukup besar. Pohon-pohon ini memiliki duri-duri yang tajam dan tebal.

Seiring waktu, masyarakat belajar untuk memanfaatkan pohon-pohon berduri ini sebagai bahan kayu bakar atau sebagai bahan untuk membuat pagar alami. Meski terlihat sebagai hambatan, pohon berduri ini justru memberikan manfaat bagi warga sekitar. Pantai Kayu Dui menjadi tempat yang cukup eksotis karena pepohonan berduri yang masih tumbuh di sekitarnya, membuat pantai ini memiliki kesan alami dan liar yang menarik perhatian wisatawan.

6. Pantai Kapal

Pantai Kapal memiliki kisah yang cukup misterius. Nama "kapal" diberikan karena pernah ada kapal besar yang karam di pantai ini. Menurut cerita masyarakat, kapal itu adalah kapal dagang yang datang dari pulau seberang untuk berdagang. Namun, dalam perjalanannya, kapal itu dihantam badai dan akhirnya karam di tepian pantai ini. Bangkai kapal yang dulu teronggok di pantai kini telah hilang, tetapi kenangannya tetap hidup dalam nama pantai ini.

Pantai Kapal memiliki daya tarik tersendiri bagi para penyelam dan wisatawan yang ingin mencari petualangan. Meskipun bangkai kapal itu sudah tak tampak lagi, cerita tentang kapal karam di Pantai Kapal selalu membangkitkan rasa penasaran dan menjadi cerita favorit di antara penduduk desa dan para pengunjung.

7. Pantai Bantes

Pantai Bantes merupakan pantai yang memiliki makna khusus bagi masyarakat Tejakula dan Bondalem. Kata "bantes" dalam bahasa Bali berarti perbatasan. Nama ini diberikan karena Pantai Bantes menjadi titik batas antara Desa Bondalem dan Tejakula. Di sinilah batas wilayah administratif kedua desa bertemu, dan tempat ini menjadi simbol persatuan dan kerukunan.

Meski berada di perbatasan dua desa, Pantai Bantes menjadi tempat yang damai, di mana warga dari kedua desa sering bertemu untuk melakukan aktivitas bersama, seperti memancing, atau sekadar duduk bersantai menikmati pemandangan laut. Bagi masyarakat, Pantai Bantes adalah simbol perdamaian dan persatuan, tempat di mana batas bukanlah pemisah, tetapi penghubung antara desa-desa yang bertetangga.

Demikianlah kisah dari tujuh pantai di Tejakula yang memiliki makna dan cerita unik di balik nama-namanya. Setiap pantai ini bukan hanya menjadi tempat wisata, tetapi juga menyimpan sejarah, kebijaksanaan, dan semangat masyarakat Tejakula yang hidup harmonis dengan alam serta tradisi leluhur mereka. Bagi siapa pun yang datang, pantai-pantai ini akan selalu menjadi tempat yang istimewa, penuh kenangan dan cerita yang terus hidup dari generasi ke generasi.

17.10.24

Kapan Ngaben Mulai Dikenal di Tejakula?

Kapan Ngaben Mulai Dikenal di Tejakula?
 
Berdasarkan cerita tetua-tetua zaman dahulu, tradisi Ngaben mulai dikenal dan dilaksanakan di wilayah Tejakula sekitar tahun 1980-an. Peristiwa ini menjadi titik balik yang sangat besar dalam sejarah tata cara pengurusan jenazah di daerah tersebut. Perubahan besar ini ternyata tidak terjadi begitu saja, melainkan dipengaruhi oleh beberapa hal yang saling melengkapi: pertama, semakin terbukanya hubungan dan interaksi masyarakat Tejakula dengan masyarakat dari daerah-daerah lain di Pulau Bali, terutama dari wilayah Bali selatan yang sudah lama mengenal tradisi pembakaran jenazah. Kedua, pemahaman masyarakat terhadap ajaran agama Hindu semakin merata dan semakin mendalam, sehingga tata cara Pitra Yadnya yang sesuai dengan kitab suci mulai dipahami dan diinginkan untuk dilaksanakan. Yang patut kita kagumi adalah semangat kebijaksanaan masyarakat setempat: mereka menerima tradisi baru itu dengan hati yang terbuka, namun tidak serta-merta meninggalkan nilai-nilai luhur dan kebiasaan baik yang telah diwariskan oleh leluhur sejak zaman dahulu.
 
Sebelum tradisi Ngaben dikenal dan diterima secara luas, masyarakat Tejakula sudah memiliki tata cara pengurusan jenazah yang tersusun rapi dan berjalan secara bertahap. Rangkaian upacara itu diawali dengan Metulen, yaitu upacara penghormatan yang dilaksanakan pada hari ke-12 setelah kematian, kemudian diulang kembali pada hari ke-100. Sebagai penutup dari seluruh rangkaian upacara Pitra Yadnya, lalu dilaksanakan upacara Metuwun yang jatuh pada hari genap tepat satu tahun setelah kematian. Dengan demikian, roh leluhur telah diupacarai secara berkesinambungan hingga dianggap selesai dan tenang, tanpa perlu dibakar jenazahnya.
 
Lantas, mengapa sejak dahulu masyarakat Tejakula tidak membakar jenazah seperti yang banyak dilakukan di daerah lain? Ternyata ada alasan yang sangat mendalam, baik dari segi tradisi maupun pertimbangan lokasi dan filosofi. Tejakula terletak di jalur pegunungan pantai utara Bali, berdekatan dengan Pura Dang Kahyangan yang sangat suci, yaitu Pura Ponjok Batu. Seperti halnya daerah-daerah pegunungan lain yang memiliki Pura Kahyangan Jagat di atas dataran tinggi, masyarakat merasa khawatir jika jenazah dibakar, asap yang timbul dari pembakaran itu akan melintas dan mencemari kesucian tempat suci yang berada di atasnya. Oleh karena itu, penguburan ke dalam tanah menjadi pilihan yang paling diutamakan — prinsip ini sangat mirip dengan tradisi Ngaben Beya Tanem yang berlaku di daerah-daerah pegunungan lain di Bali, yang menempatkan penghormatan kepada kesucian alam dan tempat suci di atas segalanya.
 
Sejak tradisi Ngaben mulai diterima pada tahun 1980-an, tata cara pengurusan jenazah di Tejakula terus berkembang dengan cara yang sangat indah. Masyarakat melaksanakannya dengan menggabungkan tata cara yang berlaku secara umum dalam ajaran Hindu, namun tetap menyisipkan nilai-nilai dan adat istiadat yang sudah turun-temurun dijalankan di daerah mereka. Bade dan Patulangan pun mulai dibuat sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga, namun tetap menjaga kesederhanaan yang menjadi ciri khas masyarakat Bali Utara. Demi kemudahan dan keadilan bagi semua, banyak keluarga yang memilih mengubur jenazah sementara terlebih dahulu, lalu melaksanakan pembakaran bersama-sama atau secara massal agar biaya menjadi lebih ringan dan beban tidak terlalu berat bagi salah satu pihak.
 
Maka dapatlah kita simpulkan dengan bijaksana: tradisi Ngaben di Tejakula adalah sebuah tradisi yang relatif baru, mulai dikenal dan meluas sejak tahun 1980-an. Sebelum masa itu, masyarakat lebih banyak mengubur jenazah sesuai dengan adat leluhur yang sudah berjalan ribuan tahun. Seiring terbukanya hubungan antarwilayah dan semakin dalamnya pemahaman terhadap ajaran agama Hindu, Ngaben pun akhirnya diterima dan dilaksanakan dengan penuh ketulusan hati. Yang paling indah dari perubahan ini adalah bagaimana masyarakat Tejakula mampu memadukan yang baru dengan yang lama — menerima yang datang dari luar, namun tidak pernah melupakan dan meninggalkan warisan luhur yang dititipkan leluhur mereka sejak zaman dahulu.
 

Sejarah dan Makna Ritual Ngantukang Bulu Geles di Tejakula

Sejarah dan Makna Ritual Ngantukang Bulu Geles di Tejakula
 
Secara harfiah, makna ritual Ngantukang Bulu Geles adalah mengembalikan roh leluhur ke tempat yang semestinya. Ritual ini berakar dari tradisi kuno masyarakat Bali Utara, khususnya wilayah Tejakula dan sekitarnya. Ngantukang Bulu Geles di Tejakula memiliki makna yang lebih dalam: ia merupakan lanjutan dari rangkaian upacara Pitra Yadnya atau Ngaben, dengan tujuan mengembalikan roh leluhur ke tempat yang semestinya, agar tenang dan kembali bersatu dengan sumber-Nya, sehingga tidak lagi mengganggu dunia yang ditinggalkan.
 
Dikatakan bahwa Ngantukang Bulu Geles dilaksanakan setelah upacara Ngaben dan Mekarye Bakti selesai, berfungsi sebagai penyempurna dari seluruh rangkaian upacara yang telah dijalani. Dalam sastra dan tata upacara, Ngantukang Bulu Geles ini setara dengan ritual Nyegara Gunung, yang menyatukan kekuatan alam semesta sebagai wujud kesempurnaan persembahan. Biasanya ritual ini digelar pada hari Anggarkasih — hari yang dianggap paling suci dan penuh berkah dalam penanggalan Bali — dan dilaksanakan di pura Suci Desa Tejakula, tempat yang dianggap berada di posisi terdekat sekaligus dengan gunung dan pantai, menyatukan dua kekuatan alam dalam satu pemujaan.
 
Makna filosofis yang terkandung di dalamnya dapat dirangkum dalam satu kalimat indah: "Mengembalikan yang suci kepada kesucian." Bulu Geles melambangkan kesucian Atma yang murni, belum tercampur oleh kotoran dunia. Saat seseorang meninggal dan diaben, Atma tersebut harus dikembalikan kepada asalnya, agar tidak tertinggal di dunia dalam wujud yang mengganggu. Maka persembahan dalam ritual ini bukan sekadar pemberian semata, melainkan simbol pemulihan kesempurnaan roh agar kembali suci dan bersatu dengan Sang Pencipta.
 
Perlu dipahami pula bahwa nama ritual Ngantukang Bulu Geles ini sangat khas wilayah Tejakula, diwariskan secara turun-temurun dari leluhur masyarakat setempat, dan belum banyak tercatat dalam literatur-literatur umum yang beredar di daerah lain. Demikianlah kekayaan tradisi yang tumbuh dan dijaga dengan penuh kesucian di tanah Tejakula, menjadi bukti betapa dalamnya penghormatan masyarakat kepada leluhur dan kepada Sang Hyang Widhi Wasa yang menciptakan alam semesta. 
 

Dongeng Asal Usul Nama Desa Tejakula

(Cerita ini Ditulis oleh Made Budilana, pemenang lomba mengarang di majalah Lintang)

Di lereng Gunung, di sebuah lembah yang subur dan dialiri sungai jernih, terhamparlah Desa Hiliran.  Kehidupan di desa itu tenang dan damai, irama kehidupan diatur oleh detak jantung alam: gemericik air sungai, kicau burung, dan semilir angin yang membawa aroma padi dan bunga kembang sepatu.  Rumah-rumah penduduk berderet rapi, terbuat dari kayu dan bambu, atapnya menjulang tinggi seperti menyambut langit.  Masyarakatnya hidup rukun, saling membantu, dan menjunjung tinggi nilai-nilai gotong royong.  Mereka menggantungkan hidup pada pertanian, ladang-ladang mereka menghasilkan padi yang melimpah, buah-buahan yang manis, dan sayur-mayur yang segar.
 
Suatu malam, langit Hiliran dihiasi taburan bintang yang begitu gemerlap.  Bintang-bintang itu seakan berbisik, menceritakan kisah-kisah dari zaman dahulu kala.  Namun, malam itu berbeda.  Sebuah cahaya terang menyilaukan tiba-tiba muncul di langit, membelah kegelapan malam.  Cahaya itu semakin membesar, menukik tajam ke bumi, dan jatuh tepat di tengah-tengah Desa Hiliran.  Seketika, desa itu dipenuhi cahaya yang menyinari setiap sudut, menerangi wajah-wajah penduduk yang tertegun.  Cahaya itu kemudian meredup, meninggalkan sebuah batu yang memancarkan sinar lembut, seperti cahaya bulan purnama.  Batu itu terasa hangat, dan memancarkan aura yang menenangkan.
 
Kejadian itu menggemparkan seluruh penduduk Desa Hiliran.  Mereka berkumpul, saling berbisik, mencoba memahami peristiwa yang baru saja terjadi.  Para tetua desa, yang dikenal bijaksana dan memiliki pengetahuan luas, mulai menafsirkan kejadian tersebut.  Mereka berunding berhari-hari, menelusuri kitab-kitab kuno dan mempelajari ramalan-ramalan nenek moyang.  Akhirnya, mereka sampai pada kesimpulan: cahaya yang jatuh dari langit itu adalah pertanda baik, sebuah berkah dari Tuhan Yang Maha Esa.  Batu yang bersinar itu, menurut mereka, adalah simbol kekuatan, keberuntungan, dan kesucian.
 
Setelah bermusyawarah panjang, penduduk Desa Hiliran sepakat untuk mengganti nama desa mereka.  Nama "Hiliran," yang berarti "bagian bawah" atau " bagian pinggir"dianggap sudah tidak lagi relevan.  Mereka memilih nama baru yang mencerminkan keajaiban yang telah terjadi. Yaitu Tejakula.  "Teja," dalam bahasa Sansekerta, berarti "sinar" atau "cahaya," sedangkan "Kula," dalam bahasa Kawi, berarti "batu."  Jadi, Tejakula berarti "batu yang bersinar," sebuah nama yang menggambarkan batu ajaib yang jatuh dari langit dan membawa berkah bagi desa mereka.
 
Sejak saat itu, Desa Tejakula berkembang pesat.  Pertanian mereka semakin subur, hasil panen melimpah ruah.  Kesejahteraan masyarakat meningkat, dan kehidupan mereka dipenuhi kedamaian dan kemakmuran.  Batu yang bersinar itu, meskipun keberadaannya kini tak lagi diketahui secara pasti, tetap menjadi legenda yang diwariskan turun-temurun.  Dan menjadi simbol persatuan, keberanian, dan keteguhan hati masyarakat Desa Tejakula, sebuah pengingat akan keajaiban yang pernah terjadi dan menjadi pendorong semangat untuk terus membangun desa mereka yang tercinta.  

8.4.23

Profil Gede Raditya Kurniawan.

Gede Raditya waktu berumur lima bulan

Gede Raditya Kurniawan lahir di desa Tejakula pada tanggal 28 Oktober 2006, sebuah tanggal yang bertepatan dengan hari bersejarah, Hari Sumpah Pemuda. Ia adalah anak tunggal dari pasangan Made Budilana dan Putu Puja Astuti. Kehidupan Gede Raditya sejak kecil penuh tantangan, terutama setelah ia kehilangan sosok ibu yang sangat berarti. Ketika ia baru berusia lima bulan, ibunya pergi meninggalkannya. Gede Raditya tumbuh tanpa kasih sayang seorang ibu. Meskipun demikian, dia tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan bersemangat, dengan bakat yang mulai terlihat sejak usia dini.

Sejak kecil, Gede Raditya sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia hiburan, khususnya dalam hal lawak Bali. Setiap kali acara-acara lawak Bali ditayangkan di televisi, Gede Raditya selalu menontonnya dengan penuh perhatian, mempelajari gerakan dan lelucon yang disampaikan. Bakat melawaknya pun mulai tampak sejak ia duduk di bangku kelas 1 SD. Pada usia yang masih sangat muda, ia sudah mulai tampil di berbagai acara ulang tahun teman-temannya dengan memerankan berbagai karakter lucu, yang tak jarang membuat banyak orang terhibur. Penampilannya yang mengundang tawa ini menjadi pertanda awal dari perjalanan panjangnya dalam dunia seni peran dan hiburan.

Namun, Gede Raditya tidak hanya berbakat dalam bidang lawak Bali. Ia juga memiliki ketertarikan besar pada seni tari dan teater tradisional Bali. Pada rentang usia 6 hingga 12 tahun, ia memulai perjalanan seni tari dengan mempelajari berbagai tarian tradisional Bali yang terkenal, seperti Tari Baris Wirayuda, Tari Topeng Bujuh, dan Tari Bondres kategori anak-anak. Setiap gerakan yang ia pelajari, baik itu tarian seperti Baris Wirayuda maupun tarian topeng yang sarat makna, membuat Gede Raditya semakin mencintai seni tradisional Bali. Ia pun semakin sering tampil dalam berbagai acara adat maupun perayaan di desanya, memperkenalkan kesenian Bali kepada teman-teman sebayanya.

Selain menari, Gede Raditya juga mulai menyukai seni musik tradisional Bali. Ia mengembangkan minatnya dalam dunia gamelan, khususnya dengan memainkan gender, salah satu alat musik yang sering digunakan dalam pertunjukan wayang kulit dan upacara Ngaben. Minatnya pada gamelan ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu, dan ia semakin terampil dalam memainkan gender. Gede Raditya tidak hanya menganggap gamelan sebagai alat musik, tetapi juga sebagai bagian dari identitas budaya Bali yang sangat ia cintai. Sebagai remaja, ia menghabiskan waktu luangnya untuk berlatih dan memperdalam kemampuannya dalam memainkan gamelan, berkeinginan untuk terus menjaga warisan budaya Bali yang telah diwariskan oleh nenek moyangnya.

Di samping kecintaannya pada gamelan, Gede Raditya juga memiliki hobi unik lainnya, yaitu mengoleksi topeng Bali. Ia mulai mengoleksi berbagai jenis topeng, termasuk Topeng Bujuh yang dikenal dengan bentuknya yang khas dan penuh makna, serta Topeng Tua yang memiliki filosofi mendalam. Koleksi topeng ini menjadi bagian dari perjalanan seni Gede Raditya, yang tak hanya menghargai seni pertunjukan, tetapi juga bentuk seni rupa tradisional Bali. Koleksi topengnya kini menjadi saksi bisu dari kecintaannya terhadap seni budaya Bali yang tak ternilai harganya.

Selain bakat dalam seni tari, gamelan, dan koleksi topeng, Gede Raditya juga dikenal sebagai seorang seniman muda yang pernah memerankan berbagai tokoh dalam pertunjukan Wayang Wong, sebuah seni pertunjukan tradisional Bali yang menggabungkan tarian, musik, dan drama. Beberapa tokoh yang pernah ia perankan antara lain Sempati, Jabung, Meganada, dan Hanoman. Setiap peran yang ia ambil selalu dilakoni dengan penuh dedikasi dan semangat, mencerminkan ketekunannya dalam mempelajari seni tradisional Bali. Ia menunjukkan kemampuannya dalam berakting, menari, dan berperan sebagai tokoh-tokoh mitologi dalam cerita wayang, menjadikannya seorang seniman muda yang berbakat.

Perjalanan hidup Gede Raditya Kurniawan adalah kisah tentang perjuangan, semangat, dan kecintaan yang mendalam terhadap seni budaya Bali. Dari seorang anak yang kehilangan ibu di usia yang sangat muda, hingga menjadi seorang pemuda yang menguasai berbagai bidang seni tradisional Bali, Gede Raditya telah menunjukkan bahwa dengan tekad dan kerja keras, seseorang bisa menemukan jati dirinya melalui seni. Tidak hanya sekadar hiburan, seni bagi Gede Raditya adalah bagian dari warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Kini, Gede Raditya Kurniawan tidak hanya dikenal di desanya sebagai seorang seniman, tetapi juga sebagai simbol dari semangat pemuda Bali yang terus berkarya dan menjaga tradisi.
.
Gede Raditya waktu berumur 12 tahun.

Gede Raditya Cs, waktu tampil melawak di balai desa Tejakula dalam acara pentas seni Tejakula